1
Berkelainan dan Pendidikan Berkebutuhan Khusus
PERTANYAAN-PERTANYAAN PENDAHULUAN
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut pada saat Anda
membaca bagian ini:
1. Faktor-faktor apakah
yang mengarah pada
perkembangan pendidikan
berkebutuhan
khusus?
2. Apakah prinsip-prinsip yang
mendorong pendidikan berkebutuhan khusus
dewasa ini?
3. Mengapa beberapa
siswa mendapatkan pendidikan berkebutuhan khusus?
4. Siapa yang berhak
untuk pendidikan berkebutuhan khusus?
5. Apakah keuntungan dan
kerugian dari pengklasifikasian siswa
bagi pen-
didikan
berkebutuhan khusus?
6. Apakah perbedaan
antara pendidikan berkebutuhan khusus dan umum?
TERMINOLOGI DAN UNGKAPAN PENTING
klasifikasi timbul
(prevalensi)
berkelainan (exceptionality) hak untuk pendidikan
sejarah
pendidikan khusus
labeling kebutuhan
pendidikan khusus
keabsahan (legislation) pendidikan berkebutuhan
khusus
orang tua dan keluarga
PENDAHULUAN
Studi tentang anak-anak
berkelainan adalah studi
tentang perbedaan-perbedaan
dan keanekaragaman. Seorang anak yang berkelainan bisa
memiliki kesulitan atau
talenta khusus dalam hal melihat, mendengar, berbicara,
berpikir, bergerak, atau
bersosialisasi. Studi tentang anak-anak berkelainan juga
merupakan studi tentang
persamaan.
Seorang anak berkelainan
tidaklah berbeda dari
anak-anak pada
umumnya dalam segala
hal. Barangkali lebih
banyak persamaannya dalam hal
karakteristik, kebutuhan, dan cara belajar ketimbang
perbedaan-perbedaan antara
anak-anak
berkelainan dan tidak
berkelainan. Untuk tujuan-tujuan pendidikan,
anak-anak
berkelainan didefinisikan sebagai
mereka yang membutuhkan
pendidikan
berkebutuhan khusus dan
layanan-layanan terkait apabila
mereka
menyadari akan kemampuan
atau potensi penuh
mereka. Namun demikian,
kita
harus ingat bahwa
mereka sangat berbeda
dalam karakteristik
dan kebutuhan
pendidikan.
RUANG LINGKUP PENDIDIKAN BERKEBUTUHAN KHUSUS
Pada
masa-masa lalu, pendidikan
merupakan hak istimewa
di seluruh dunia.
Sekarang ini,
sebagian besar anak-anak di negara-negara maju telah memiliki hak
untuk
mengikuti sekolah. Bangsa-bangsa tersebut
telah mengimplementasikan
pendidikan
wajib atau wajib
belajar (compulsory education) di
pelbagai ting-
katan. Pemerintah diharuskan untuk mempersiapkan pendidikan,
sedangkan para
orang tua diharuskan
mengirimkan anak-anak mereka
ke sekolah. Anak-anak
perempuan
dan laki-laki, kaya
dan miskin, dan
anak-anak dengan seluruh
kemampuan dan latar belakang tiba di sekolah setiap pagi.
Keanekaragaman anak-
anak seperti ini
membutuhkan para guru
yang terampil dan
para profesional
lainnya – sebuah tantangan bagi kita semua.
Di berbagai
bangsa, anak-anak yang
cacat sekarang menjadi
bagian dari
sistem pendidikan publik dan memiliki hak memperoleh
pendidikan publik yang
bebas dan memadai.
Anak-anak yang memiliki
bakat khusus dan
talenta secara
historis telah diikutsertakan dalam
perbincangan tentang pendidikan
kebutuhan
khusus,
sementara
program-program untuk anak-anak berbakat tidaklah
seuniversal program bagi anak-anak yang berkelainan (cacat).
Dewasa ini, anak-
anak yang berkebutuhan khusus
meliputi mereka penyandang cacat/keterbela-
kangan mental (tunagrahita), berkesulitan komunikasi, berkesulitan belajar,
penyimpangan
perilaku, cacat penglihatan (tunanetra), cacat
pendengaran
(tunarungu),
cacat fisik dan
kesehatan (tuna daksa),
berbakat dan kreatif,
atau
suatu kombinasi dari cacat ganda dan/atau talenta khusus.
Definisi Pendidikan Berkebutuhan Khusus
Istilah
“pendidikan khusus” secara
tradisional dikaitkan dengan
anak-anak yang
tidak mampu, cacat
atau memiliki kesulitan.
Namun demikian ruang
lingkup
pendidikan berkebutuhan khusus telah meluas hingga melibatkan anak-anak yang
berbakat atau bertalenta
atau bahkan anak-anak
dari budaya yang
berbeda dan
berbicara dengan bahasa
yang berbeda. Banyak
buku yang ada
serta publikasi
tentang pendidikan khusus di berbagai negara seperti Amerika
Serikat, Inggeris,
Kanada dan Australia memasukkan
kedua kelompok anak-anak
tersebut. Ruang
lingkup yang lebih
luas dari bidang
ini juga telah
menerima kemampuan saling
merubah dari terminologi seperti
“pendidikan berkebutuhan khusus” dan
“pendidikan khusus”.
Peraturan
federal di Amerika Serikat mendefinisikan “pendidikan khusus”
sebagai pendidikan individu yang dirancang khusus “tanpa
biaya bagi para orang
tua untuk memenuhi kebutuhan unik dari anak-anak penyandang
cacat, termasuk
instruksi yang dilaksanakan di dalam ruangan kelas, di
rumah, di rumah sakit dan
lembaga-lembaga,
dan di situasi
lainnya, dan instruksi
dalam pendidikan
jasmansi” (34 Code
of Federal 17
[a], [1]). Untuk
dapat memperoleh layanan
pendidikan berkebutuhan khusus, “seorang anak yang
berkebutuhan khusus” atau
sering disebut “anak berkelainan” didefinisikan sebagai
“seseorang yang memiliki
performansi
fisik, mental dan
perilaku yang secara
substansial berdeviasi atau
menyimpang dari yang
normal, baik lebih
tinggi atau lebih
rendah.” (Hardman,
Drew, & Egan, 1996, p.5)
RUANG LINGKUP PENDIDIKAN BERKEBUTUHAN KHUSUS
Pada
masa-masa lalu, pendidikan
merupakan hak istimewa
di seluruh dunia.
Sekarang ini,
sebagian besar anak-anak di negara-negara maju telah memiliki hak
untuk
mengikuti sekolah. Bangsa-bangsa tersebut telah
mengimplementasikan
pendidikan
wajib atau wajib
belajar (compulsory education) di
pelbagai ting-
katan. Pemerintah diharuskan untuk mempersiapkan pendidikan,
sedangkan para
orang tua diharuskan
mengirimkan anak-anak mereka
ke sekolah. Anak-anak
perempuan
dan laki-laki, kaya
dan miskin, dan
anak-anak dengan seluruh
kemampuan dan latar belakang tiba di sekolah setiap pagi.
Keanekaragaman anak-
anak seperti ini
membutuhkan para guru
yang terampil dan
para profesional
lainnya – sebuah tantangan bagi kita semua.
Di berbagai
bangsa, anak-anak yang
cacat sekarang menjadi
bagian dari
sistem pendidikan publik dan memiliki hak memperoleh
pendidikan publik yang
bebas dan memadai.
Anak-anak yang memiliki
bakat khusus dan
talenta secara
historis telah diikutsertakan dalam
perbincangan tentang pendidikan
kebutuhan
khusus,
sementara program-program untuk anak-anak berbakat tidaklah
seuniversal program bagi anak-anak yang berkelainan (cacat).
Dewasa ini, anak-
anak yang berkebutuhan khusus
meliputi mereka penyandang cacat/keterbela-
kangan mental
(tunagrahita),
berkesulitan komunikasi, berkesulitan belajar,
penyimpangan
perilaku, cacat penglihatan (tunanetra), cacat
pendengaran
(tunarungu),
cacat fisik dan
kesehatan (tuna daksa),
berbakat dan kreatif,
atau
suatu kombinasi dari cacat ganda dan/atau talenta khusus.
Definisi Pendidikan Berkebutuhan Khusus
Istilah
“pendidikan khusus” secara
tradisional dikaitkan dengan
anak-anak yang
tidak mampu, cacat
atau memiliki kesulitan.
Namun demikian ruang
lingkup
pendidikan berkebutuhan khusus telah meluas hingga melibatkan anak-anak yang
berbakat atau bertalenta
atau bahkan anak-anak
dari budaya yang
berbeda dan
berbicara dengan bahasa
yang berbeda. Banyak
buku yang ada
serta publikasi
tentang pendidikan khusus di berbagai negara seperti Amerika
Serikat, Inggeris,
Kanada dan Australia memasukkan
kedua kelompok anak-anak
tersebut. Ruang
lingkup yang lebih
luas dari bidang
ini juga telah
menerima kemampuan saling
merubah dari terminologi seperti
“pendidikan berkebutuhan khusus” dan
“pendidikan khusus”.
Peraturan federal di Amerika Serikat
mendefinisikan “pendidikan khusus”
sebagai pendidikan individu yang dirancang khusus “tanpa
biaya bagi para orang
tua untuk memenuhi kebutuhan unik dari anak-anak penyandang
cacat, termasuk
instruksi yang dilaksanakan di dalam ruangan kelas, di
rumah, di rumah sakit dan
lembaga-lembaga,
dan di situasi
lainnya, dan instruksi
dalam pendidikan
jasmansi” (34 Code
of Federal 17
[a], [1]). Untuk
dapat memperoleh layanan
pendidikan berkebutuhan khusus, “seorang anak yang
berkebutuhan khusus” atau
sering disebut “anak berkelainan” didefinisikan sebagai
“seseorang yang memiliki
performansi
fisik, mental dan
perilaku yang secara
substansial berdeviasi atau
menyimpang dari yang
normal, baik lebih
tinggi atau lebih
rendah.” (Hardman,
Drew, & Egan, 1996, p.5)
2 Di Hong
Kong, “Pendidikan berkebutuhan
khusus” didefinisikan dalam
konteks
anak-anak yang memiliki
kualifikasi untuk menerima
layanan khusus.
Secara resmi definisi “anak-anak dengan kebutuhan khusus”
adalah:
Anak-anak dianggap memiliki
kebutuhan pendidikan khusus
apabila mereka
tidak dapat
memperoleh manfaat penuh
dari kurikulum yang
dibuat bagi anak-
anak seusianya
dan/atau yang tidak
dapat dibina secara
memadai dalam situasi
pendidikan yang biasa.
Anak-anak dengan satu
atau lebih karakteristik berikut
dapat dianggap
sebagai anak yang
berkebutuhan pendidikan khusus:
cacat
penglihatan
(tunanetra), cacat pendengaran
(tunarungu), cacat fisik (tunadaksa),
cacat/keterbelakangan
mental (tunagrahita), kesulitan
penyesuaian diri (mal-
adjustment/tunalaras) dan kesulitan belajar. (Dewan Pengurus Pendidikan
/ Board
of Education,
1996, hal. 16).
Terdapat perbedaan yang
mencolok antara peraturan
yang dianut oleh
sistem
pendidikan Amerika Serikat
dan Hong Kong. Sistem AS menjamin
pendidikan umum
yang bebas dan memadai dari lahir
hingga berumur 21, yang
mencakup peralatan yang diperlukan untuk berperan serta
dalam kegiatan sekolah
serta transportasi untuk membawa pelajar pulang pergi antara
sekolah dan rumah
tanpa
terlambat, sedangkan dalam
sistem pendidikan Hong Kong tidak.
Anak-
anak yang berkebutuhan khusus dijamin suatu pendidikan yang
bebas, wajib dari
mulai taman kanak-kanak hingga usia 15, akan tetapi pelbagai
layanan disediakan
berdasarkan
ketersediaan ketimbang mandat
resmi. Sebagai contoh,
anak-anak
yang memiliki kualifikasi mendapatkan layanan-layanan khusus
seperti terapi
bicara sering harus menunggu lowongan untuk menerima layanan
dan pemerintah
tidak
bertanggung jawab secara
hukum bilamana layanan
tidak tersedia secara
tepat waktu. Pemerintah dan
sekolah hanya sedikit
bertanggung jawab dalam
pengadaan-pengadaan tersebut.
LABELING DAN KLASIFIKASI
Siswa-siswa
yang berkebutuhan khusus adalah
individu-individu yang
membutuhkan
layanan pendidikan khusus
agar mencapai potensi
mereka
sepenuhnya. Sebuah cara yang tampaknya alamiah dalam
menentukan siapa yang
berkualifikasi
untuk layanan pendidikan khusus
adalah dengan mengorganisir
anak-anak yang memiliki berbagai kebutuhan belajar ke dalam
kategori-kategori
dari
klasifikasi. Anak-anak yang
kebutuhannya atau kemampuannya sesuai
dengan
kategori-kategori tertentu diberikan
label-label sebagai identifikasi dan
referensi.
Perbedaan antara labeling
dan klasifikasi adalah
bahwa label-label
diberikan
dan ditempelkan pada
individu-individu dan bisa
meliputi istilah
stigmatis
(penghinaan) seperti “lunatics” (gila
atau bodoh) dan
“idiots,”
sedangkan klasifikasi menjelaskan “suatu sistem terstruktur
yang mengidentifikasi
dan
mengorganisir
karakteristik-karakteristik
guna menciptakan suatu
keter-
aturan” (Smith &
Luckasson, 1995, hal. 5).
Ketika hukum-hukum diperkenalkan untuk
menjamin hak memperoleh
pendidikan,
sistem klasifikasi dan
label menjadi juru
kunci untuk menjamin
bahwa hanya merekalah yang
menyandang label-label tersebut
yang berhak
memperoleh
layanan pendidikan khusus
di bawah suatu
sistem klasifikasi.
Hubungan
seperti itu antara
kewajiban hukum dan
sekolah jelas tercermin dan
dipraktekkan
di negara-negara maju
seperti Amerika Serikat.
Kendati belum
3 terdapat hukum tentang
pendidikan khusus seperti
itu, pemerintah Hong Kong
mendanai
sekolah-sekolah dan program-program bagi
anak-anak yang
berkebutuhan
khusus berdasarkan pada
apakah mereka terbukti
memiliki
kebutuhan-kebutuhan
dalam kategori-kategori kebutuhan khusus
yang telah
ditentukan.
Labeling menentukan individu-individu atau
kelompok-kelompok
berdasarkan
atas suatu kategori
yang telah ditentukan
untuknya. Dampak dari
labeling pada seorang
individu disebabkan kebutuhan khususnya telah
mendapatkan
perhatian yang luas
dalam pendidikan khusus.
Istilah-istilah yang
kita gunakan untuk
menjelaskan orang-orang yang
berkebutuhan khusus,
misalnya,
“crippled” (tunadaksa), “feebleminded ” (lemah
mental), atau
“handicapped”
(cacat) dapat mempengaruhi
cara berpikir orang-orang
tentang
individu-individu
ini serta kemampuan dan/atau potensi
mereka terhadap
pencapaian
(achievement). Mereka yang
kontra terhadap labeling
bersikukuh
bahwa
memberikan label kepada
seseorang dengan suatu
kategori kecacatan
(disabilities) dapat berdampak secara negatif pada persepsi
mengenai kemampuan
individu tersebut. Di lain pihak, mereka yang pro
terhadap labeling berpendapat
bahwa
labeling akan membantu para
profesional untuk mengidentifikasi
kebutuhan-kebutuhan
tertentu dari seorang
individu serta untuk
merancang
intervensi instruksional yang sesuai bagi individu tersebut.
Sudah barang
tentu terdapat beberapa
manfaat dari klasifikasi
bagi
pendidikan
berkebutuhan khusus. Pertama,
suatu sistem klasifikasi
memung-
kinkan kita untuk memberi nama kecacatan, untuk membedakan
satu dengan yang
lainnya, dan untuk
mengkomunikasikan tentang suatu
kecacatan khusus dengan
pemaknaan penuh serta
efisien. Kedua, suatu
sistem klasifikasi adalah
sangat
penting bagi keperluan riset atau penelitian. Para peneliti bisa memfokuskan dan
melakukan spesialisasi pada kategori-kategori tertentu serta
mencari pemahaman
yang mendalam terhadap hal-hal
yang berkaitan dengan
kategori-kategori
tersebut. Ketiga, sistem
tersebut memudahkan untuk
menghubungkan treatment
(perlakuan)
tertentu terhadap diagnosa
tertentu. Kelemahan utama
dari suatu
sistem klasifikasi adalah memberikan penekanan terlalu besar
terhadap kelompok
di bawah
kategori spesifik dan
memberikan penekanan sedikit
dalam hal
menyesuaikan layanan dengan kebutuhan-kebutuhan individual.
Klasifikasi yang digunakan dalam
buku ini adalah
secara kategoris,
mengorganisir
kebutuhan-kebutuhan khusus ke
dalam kategori-kategori. Setiap
kategori
memiliki subkategorinya sendiri.
Misalnya, kategori dari
cacat/keterbe-
lakangan mental disubkategorikan ke
dalam tiga intensitas
pendukung: ringan,
sedang, dan berat serta dalam.
SEJARAH PENDIDIKAN BERKEBUTUHAN KHUSUS
Pendidikan
khusus tumbuh dari
suatu kesadaran awal
bahwa beberapa anak
membutuhkan sejenis pendidikan yang berbeda dari pendidikan
yang tipikal atau
biasa agar dapat
mencapai potensi mereka.
Akar dari kesadaran
ini dapat
ditelusuri di Eropa pada tahun 1700-an ketika para pionir
tertentu mulai membuat
upaya-upaya terpisah untuk mendidik anak-anak penyandang
cacat.
Salah seorang
pionir tersebut bernama Jean-Marc-Gaspard
Itard, seorang
dokter berkebangsaan Perancis dianggap sebagai bapak
pendidikan berkebutuhan
khusus. Karya
Itard yang paling penting
adalah usahanya untuk menolong yang
4 biasa disebut anak laki-laki liar dari Aveyron, yang ditemukan di
hutan Perancis
pada tahun 1799 dan
kemudian diberi nama
Victor. Ia kemungkinan
menderita
cacat/keterbelakangan mental dan terkucil dari lingkungan.
Itard mengajari Victor
semua hal yang dipelajari anak-anak normal dari keluarga
mereka dan di sekolah.
Victor belajar berbicara beberapa patah kata, berdiri tegak,
makan dengan piring
dan peralatan makan
lainnya, dan berinteraksi dengan
orang-orang lain melalui
teknik yang dtelah dirancang dengan hati-hati. Itard merekam
rincian teknik yang
digunakan serta
filosofi yang relevan
dengan kemajuan Victor.
Banyak dari
teknik-teknik tersebut masih digunakan hingga hari ini.
Seorang
pionir lainnya dalam
bidang pendidikan khusus
adalah Edouard
Seguin, seorang
murid Itard. Ia
menerbitkan sebuah thesis
pendidikan khusus
yang pertama. “Perlakuan Mental, Kesehatan dan
Pendidikan bagi Idiot
dan
Anak-anak Terbelakang” (The Moral Treatment, Hygiene, and
Education of Idiots
and Other Backward
Chidren) pada tahun
1846. Setelah pindah
ke Amerika
Serikat, ia membantu
dalam mendirikan Asosiasi
Petugas Medis Lembaga-
lembaga Amerika bagi penyandang Keterbelakangan Mental
(Idiots) dan Orang-
orang Lemah Mental (Association of Medical Officers of
American Institutions for
Idiots and Feebleminded Persons)
pada tahun 1876.
Organisasi ini kemudian
menjadi Persatuan Amerika bagi Kelemahan Mental (the
American Association on
Mental
Deficiency/AAMD) dan selanjutnya berubah
menjadi Persatuan
Cacat/Keterbelakangan
Mental Amerika (the
American Association on Mental
Retardation/AAMR),
merupakan asosiasi profesional yang
terbesar dan tertua
dalam bidang cacat/ keterbelakangan mental.
Seguin juga memberi
pengaruh kepada Maria Montessori, seorang dokter
wanita
pertama berkebangsaan Itali.
Montessori bekerja dengan
anak-anak
penyandang
cacat/keterbelakangan mental sebelum
ia bekerja dengan
anak-anak
muda. Ia percaya dan mempertunjukkan bahwa pengalaman
konkret serta sebuah
lingkungan yang kaya
dengan bahan-bahan yang manipulatif akan
memfasilitasi
pembelajaran
anak-anak muda. Montessori terkenal
sebagai penemu gerakan
prasekolah Montessori sekarang.
Lembaga-lembaga
residensial didirikan di Amerika
Serikat untuk
mengajar
anak-anak penyandang cacat
terbanyak di awal
tahun 1800-an. Kelas-
kelas pendidikan khusus di sekolah umum mulai bermunculan di
kota-kota besar
di akhir abad ke-19, misalnya, kelas bagi anak-anak tunadaksa
di sekolah umum
Chicago pada
tahun 1900 (Lian,
1999). Namun demikian,
hanya 12 persen
dari
seluruh
anak-anak dan pemuda
penyandang cacat yang
memperoleh instruksi
pendidikan khusus di tahun 1948 (Ballard, Ramirez, &
Weintraub, 1982). Tidak
sedikit anak-anak penyandang cacat lainnya yang mungkin
dapat berfungsi hingga
tingkatan tertentu di komunitas rumahnya sementara yang
lainnya dipaksa untuk
masuk lembaga-lembaga terpisah.
Sekali upaya-upaya
mendidik anak-anak penyandang cacat dicanangkan di
Amerika
Serikat, maka negara
ini mulai memimpin
negara-negara lain dalam
perkembangan
layanan pendidikan khusus
di berbagai aspek.
Di awal 1905
kesempatan training pertama bagi para guru pendidikan khusus ditawarkan oleh
Sekolah
Training bagi Anak-anak
Lemah Mental New
Jersey (the New Jersey
Training Schoolfor Feebleminded Boys and Girls ) selama
musim panas (Kanner,
1964).
Pengenalan yang perlahan-lahan terhadap
pendidikan khusus sebagai
sebuah
profesi yang membutuhkan keahlian telah
merangsang perkembangan
bidang ini.
5 Organisasi-organisasi profesi
dan kelompok-kelompok pendukung
mulai
didirikan dan menjadi
kekuatan yang dahsyat di belakang banyak perubahan yang
telah mengakar dan
memberikan kekuatan munculnya layanan-layanan
pendidikan
khusus. Pada tahun
1922, Elizabeth
Farrell mendirikan Dewan
Internasional bagi
Pendidikan Anak-anak Berkelainan (the International Council
for the Education
of Exceptional Children )
(Aiello, 1976) untuk
memberikan
kesempatan kepada
para anggota kelas
pendidikan khusus musim panas
pada
College Guru
Universitas Columbia (the
Teacher’s College
of Columbia
University) agar
bisa bertemu setahun
sekali guna bertukar
pikiran dalam hal
pendidikan
khusus. Organisasi ini
kemudian menjadi Dewan
Anak-anak
Berkelainan (the
Council for Exceptional Children
atau CEC). Sekarang
CEC
tetap merupakan organisasi profesi
pendidikan khusus terbesar
di Amerika
Serikat.
Banyak sukarelawan
dan organisasi orang
tua yang dibentuk
pada per-
tengahan abad
ke duapuluh. Asosiasi
Nasional bagi Warga
Negara yang Cacat
(the National
Association for Retarded Citizens/NARC) atau Asosiasi Anak-anak
Cacat, (the
ARC, sebelumnya bernama
Asosiasi Anak-anak penyandang
Cacat
Amerika Serikat/the Association for
Retarded Children of
the Unites States)
didirikan pada tahun
1950; Asosiasi Cerebral Palsy Amerika Serikat (the United
Cerebral Palsy
Association, Inc.) pada
tahun 1949; Masyarakat
Nasional bagi
Anak-anak Autis
(the National Society
for Autistic Children)
pada tahun 1961;
Asosiasi Kesulitan
Belajar Amerika (the
Learning Disability Association of
America)
pada tahun 1963; dan Yayasan Epilepsi Amerika (Epilepsy Foundation
of America) pada
tahun 1968.
Gerakan hak
azasi manusia secara
signifikan telah membantu
perkem-
bangan penyediaan layanan-layanan pendidikan khusus
bagi anak-anak
penyandang
cacat di seluruh
dunia pada abad
ke-20. Konsep normalisasi
telah
membawa pergerakan deinstitusionalisasi (Wolfensberger, 1972), yang
selanjutnya melahirkan konsep
dan gerakan lingkungan yang
paling sedikit
keterbatasannya (the
least restrictive environment)
dan inklusi(penggabungan)
bagi anak-anak
penyandang cacat.
Perkembangan dari pendidikan
berkebutuhan khusus
telah benar-benar
dikaitkan dengan
hukum dan perjanjian-perjanjian skala
dunia semenjak tahun
1950-an. Amerika Serikat
memimpin dunia dalam
melegalkan hak-hak
pendidikan bagi anak-anak dan orang dewasa penyandang cacat.
Hukum hak-hak
sipil yang
paling menonjol bagi
anak-anak penyandang cacat
adalah Undang-
Undang Pendidikan Bagi
Individu Penyandang Cacat
(the Individuals with
Disabilities
Education Act/IDEA) tahun
1990 [diawali dan
ditanda tangani
menjadi hukum
di bawah judul
asli Undang-Undang Pendidikan bagi
Semua
Anak Cacat (the
Education for All Handicapped Children Act) pada tahun 1975]
dan bagi
orang dewasa Undang-Undang Warga Negara
Penyandang Cacat
Amerika Serikat (the
Americans with Disabilities Act/ADA) tahun 1990. Negara-
negara Eropa,
Australasia dan Asia selanjutnya memiliki hal yang sama dengan
tingkat yang
bervariasi tentang kewajiban secara legal seperti yang tercantum di
dalam Undang-Undang
Pendidikan Bagi Individu Penyandang Cacat dan Undang-
Undang Warga Negara
Penyandang Cacat Amerika Serikat.
Di Spanyol,
para perwakilan ke sebuah konferensi tingkat dunia mengenai
pendidikan
khusus pada tahun
1994 meminta dengan
sangat kepada pemerintah
dan LSM
(Non-Govermental
Organization) untuk menggalakkan integrasi
(keterpaduan) di
seluruh negara (UNESCO
– United Nations
Educational,
6 Scientific and Cultural
Organization dan Kementrian Pendidikan dan
Sains,
Spanyol,
1994). Kendati dianggap
sebagai bangsa dunia
ketiga dengan
perkembangan ekonomi yang komparatif, Cina juga telah
berperan serta di dalam
pergerakan
integrasi dan pendidikan wajib
bagi semua, dengan
atau tanpa
kecacatan,
selama dasawarsa terakhir.
Perdebatan mengenai sejauh
mana anak-
anak
penyandang cacat harus
berperanserta di dalam
pendidikan yang biasa
(reguler)
dengan teman-teman sebaya
mereka yang normal
telah diupayakan
dengan gigih selama
dua hingga tiga dasawarsa terakhir dan terus bertambah di
berbagai belahan dunia.
Apakah anak-anak berkebutuhan khusus
dididik dalam suatu
situasi
terpisah atau terpadu,
mereka mengikuti sekolah
dewasa ini. Setiap
negara
menyediakan
jenis-jenis layanan yang
berbeda didasarkan pada
sumber daya
keuangan
mereka. Pengadaan pendidikan
khusus akan terus
menarik perhatian
dari para pembuat
kebijakan, orang tua,
pendidik, kelompok-kelompok
pendukung akan terus berupaya mendapatkan mandat guna
menjamin terlaksana-
nya pengadaan tersebut.
SEJARAH PENDIDIKAN BERKEBUTUHAN KHUSUS DI
HONG KONG
Sejarah
pendidikan berkebutuhan khusus
mencerminkan
perkembangan secara
kronologis dari kegiatan kepedulian lembaga-lembaga filantropis
serta individual
hingga secara perlahan-lahan melibatkan upaya
pemerintah yang terorganisir
dengan
mandat legal yang
makin meningkat. Perkembangan pendidikan
berkebutuhan khusus di Hong Kong
mengikuti alur yang sama. Menurut Young
(1997),
pendirian rumah untuk
tunanetra oleh Canossian
bersaudara pada tahun
1863, telah membawa bentuk layanan-layanan pendidikan khusus
yang pertama.
Beberapa
dasawarsa berikutnya, pada
tahun 1935, tiga
orang misionaris
mendirikan
Sekolah Hong Kong
bagi Tunarungu. Keterlibatan pemerintah
sangatlah minim dan tidak menonjol selama periode ini.
Setelah PD
II, pemerintah Hong Kong mengarahkan
mayoritas sumber
daya
masyarakat untuk membangun kembali tingkat
sosial (society) dan
memperluas
sistem pendidikan dasar
bagi anak-anak pengungsi
dari Cina.
Merawat kelompok yang secara sosial tercampakkan seperti
para tunawisma dan
para anak yatim
menjadi tugas utama
dari pendidikan khusus,
sebuah bentuk
kesejahteraan
bagi anak-anak selama
periode ini. Sebagian
besar lembaga-
lembaga yang melayani anak-anak penyandang cacat adalah
dalam bentuk pusat-
pusat rekreasi dan/atau
pusat-pusat pelatihan di
bawah tanggung jawab
Departemen Kesejahteraan Sosial.
Pada tahun
1960, Departemen Pendidikan menyiapkan sebuah
Seksi
Sekolah Khusus. Pelatihan bagi para guru pendidikan khusus
dimulai pada tahun
1961. Meskipun pemerintah Hong Kong
mulai memberikan kontribusi yang lebih
bagi pengadaan layanan pendidikan khusus dengan ekpansi ekonomi yang luas,
namun sumbangan dari
organisasi kemanusiaan untuk
mengawali pelbagai jenis
layanan masih tetap menjadi sumber kunci keuangan. Sekitar
tahun 1963 konsep
untuk memiliki
suatu pendidikan normal
bagi anak-anak penyandang cacat
dikemukakan
dalam laporan pertama
dari Komisi Pendidikan (Marsh
dan
Sampson,
1963). Filosopi untuk
memadukan anak-anak penyandang cacat
disebutkan kembali dalam
Laporan Tahunan 1968
dari Departemen Pendidikan
7 (Departemen Pendidikan, 1968). Sementara itu, Departemen Pendidikan
berupaya
untuk pertama kalinya
memasukkan suatu kelas
khusus bagi anak-anak
yang
menyandang pendengaran parsial ke dalam sekolah umum. Pada
tahun 1969 lima
sekolah bagi anak-anak
yang secara sosial
terpisahkan dipindahkan dari
Departemen
Kesejahteraan Sosial kepada
Departemen Pendidikan. Sekolah-
sekolah ini selanjutnya
diberi nama sekolah-sekolah bagi
anak-anak yang
menyimpang (maladjusted) pada tahun 1970-an.
Seperti di
Amerika Serikat, tahun
1970-an menunjukkan suatu
periode
ekpansi dan perkembangan yang menonjol bagi pendidikan
berkebutuhan khusus
di Hong Kong. Wajib
belajar (compulsary education) 6
(enam) tahun yang
dilaksanakan
pada tahun 1971
telah membantu pemerintah
menyadari perlunya
menyediakan
layanan-layanan bagi anak-anak
berkebutuhan khusus, serta
memiliki
sebuah sistem yang
komprehensif untuk mengidentifikasi anak-anak
tersebut karena mereka
harus tetap berada
dalam sistem pendidikan.
Layanan
penyaringan
(screening) bagi indentifikasi dini
anak-anak berkebutuhan khusus
mulai pada awal
tahun 1970-an. Tempat-tempat tambahan bagi
anak-anak
penyandang cacat di sekolah khusus maupun umum disediakan.
Pada tahun 1973
dan 1974, dua buah pusat asesmen didirikan di bawah Seksi
Pendidikan Khusus di
Pulau Hong Kong
dan di Kowloon. Kemudian
dalam Kertas Kerja
1977 (yaitu,
Rencana Program Rehabilitasi 1977) mengajukan rekomendasi
yang lebih keras.
Departemen Pendidikan diminta untuk lebih berperan aktif
dalam pelbagai jenis
pengadaan layanan pendidikan khusus.
Pada tahun
1978, peraturan wajib
belajar kembali mempengaruhi
pengadaan layanan bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Pelaksanaan pendidikan
wajib 9 (sembilan) tahun yang bebas, lebih jauh menekan
Departemen Pendidikan
untuk memasukkan anak-anak berkebutuhan khusus dalam
perencanaan mereka.
Pengajaran
remedial serta layanan
bimbingan siswa bagi
sekolah-sekolah dasar
diperkenalkan pada waktu itu yang bertujuan untuk mendalami
kesulitan-kesulitan
pembelajaran,
perilaku, dan emosional
yang sebagian timbul
karena adanya
kewajiban
belajar dengan mana
sebagian anak, yang
seyogyanya sudah
bersekolah, dipaksa untuk tetap dan berjuang demi kesuksesan
mereka.
Dua buah
instrumen penting untuk
pengidentifikasian anak-anak
berkebutuhan
khusus telah dikembangkan di
awal tahun 1980-an.
Hong Kong
Skala Inteligensi Weschler bagi Anak-anak Hong
Kong (Pemerintah Hong Kong,
1981) dan Uji
Matriks Progresif Raven
(Departemen Pendidikan, 1986)
telah
distandarisasikan pada waktu hampir bersamaan. Tahun 1980-an
merupakan suatu
periode
perkembangan dan konsolidasi
dari layanan-layanan pendukung bagi
anak-anak
berkebutuhan khusus di Hong Kong. Tahun
1990-an mencerminkan
kesadaran pemerintah terhadap perlunya memperkuat
perkembangan profesi para
guru dan menjamin
pemberian layanan yang
berkualitan bagi para
siswa,
sedangkan
awal abad baru
meliputi tren-tren (kecenderungan) baru,
seperti
integrasi atau memadukan anak-anak berkebutuhan pendidikan khusus
ke dalam
sekolah-sekolah umum (mainstream) (Departemen Pendidikan
Hong Kong, 2001)
serta penggunaan teknologi (Lian, 2001).
TIMBULNYA KEBUTUHAN KHUSUS
Menurut Dewan Kesejahteraan Sosial
Hong Kong (1995),
jumlah keseluruhan
orang-orang penyandang cacat diperkirakan sebanyak 264.000
pada tahun 1994,
8 2 1di antara
mereka kira-kira 20%
hingga 25% usia
sekolah. Distribusi dari
kecacatan
pada mereka meliputi
cacat/keterbelakangan
mental – tunagrahita
(44,9%), cacat fisik – tunadaksa (29,0%), sakit mental
(8,8%), cacat pendengaran
– tunarungu (5,0%), kesulitan berbicara – bisu (3,6%),
penyimpangan perilaku –
maladjustment
(2,5%), dan autis
(0,5%). Diperkirakan bahwa
pada tahun 2004
jumlah ini akan
bertambah hingga 310.000
orang (Dewan Kesejahteraan Sosial
Hong Kong, 1995).
KELUARGA-KELUARGA YANG MEMILIKI ANAK-ANAK
BERKEBUTUHAN KHUSUS
Bilamana
memberikan pelayanan kepada
anak-anak berkebutuhan khusus,
para
profesional
harus melihat mereka
sebagai bagian dari
tingkat sosial (society),
masyarakat (community), dan keluarga-keluarga mereka. Para orang tua dan para
profesional
harus membangun suatu
kemitraan (partnership ) sebab
orang tua
merupakan
penjaga dan perawat
(caretaker) yang utama
serta membantu anak-
anak mereka. Para profesional
harus peka terhadap
kebutuhan seluruh keluarga,
tidak hanya kebutuhan si
anak penyandang cacat
saja. Para profesional
perlu
memiliki
pemahaman mendasar dari
dampak mempunyai seorang
anak penyan-
dang cacat di
dalam keluarga dan
memiliki rasa hormat
(respect) kepada para
orang tua yang
mungkin tidak dilatih sebagai pendidik khusus. Pemahaman dan
rasa hormat seperti itu akan mempermudah kemitraan yang
efektif antara rumah
dan sekolah. Pembahasan lebih jauh mengenai orang tua dan
keluarga anak-anak
berkebutuhan khusus terdapat dalam Bagian 11.
RINGKASAN
1. Anak-anak
berkelainan dan teman-teman sebaya
mereka yang normal
saling
berbagi kesamaan
maupun perbedaan individual.
2. Pendidikan berkebutuhan khusus
bertujuan menyediakan kesempatan bagi
anak-anak
berkelainan untuk mencapai potensi penuh mereka.
3. Hak untuk
memperoleh pendidikan tidak
boleh menjadi hak
istimewa bagi
sebagian orang.
Siswa-siswa yang berkebutuhan khusus
pada abad ke-21
berhak memperoleh
pendidikan umum yang bebas, memadai, yang disediakan
dalam lingkungan
yang paling sedikit
keterbatasannya (the least
restrictive
environment).
4. Anak-anak yang
bekebutuhan khusus meliputi
mereka yang memiliki
kecacatan/keterbelakangan mental – tunagrahita (mental retardation),
kesulit-
an berkomunikasi (communication disorders), kesulitan
belajar (learning
disabilities),
penyimpangan perilaku – tunalaras (behavioral disorders), cacat
penglihatan –
tunanetra (visual impairments), cacat pendengaran – tunarungu
(hearing
impairments), cacat fisik (physical disabilities ) dan cacat kesehatan
(health
impairments) – tunadaksa, berbakat (gifted) dan berkemampuan kreatif
(creative abilities),
serta kombinasi dari
kecacatan ganda dan/atau
talenta-
talenta khusus.
5. Di Hong Kong,
pendidikan berkebutuhan khusus didefinisikan dalam konteks
anak-anak yang
memenuhi kriteria tertentu guna memperoleh layanan khusus
9 di sekolah.
Kita perlu membandingkan dengan pendidikan berkebutuhan
khusus di
negara-negara yang sudah
maju dan mengambil
apa yang sesuai
dengan sistem
pendidikan di Hong Kong.
6. Labeling dan
pengklasifikasian
anak-anak berkebutuhan khusus
cenderung
memiliki manfaat
dan kerugian. Disarankan bahwa para pembuat administrasi
dan kebijakan, personel
sekolah, dan masyarakat umum
memiliki sikap
(attitude),
menggunakan teknologi dan bahasa yang sesuai dan produktif, serta
menghindari penghinaan-penghinaan yang
membahayakan (stigma) dan
pengaruh-pengaruh
negatif dalam usaha memenuhi sasaran (goal) pendidikan
individual
siswa-siswa berkebutuhan khusus.
7. Sejarah
pendidikan berkebutuhan khusus mencakup para pionir di tahun-tahun
awal, pembentukan kelompok-kelompok orang tua
dan pendukung serta
organisasi-organisasi
profesioal, gerakan hak
azasi manusia, tindakan-
tindakan secara
hukum, dan keterlibatan pemerintah.
8. Perkembangan
pendidikan berkebutuhan khusus di Hong Kong
mengikuti alur
yang sama
dari usaha-usaha yang
progresif dari program-program
kemanusiaan/sumbangan
(charity programs), layanan
kesejahteraan sosial,
wajib belajar
atau pendidikan wajib
(compulsary education) dan,
terakhir,
kepemimpinan
pemerintah yang meningkat.
9. Estimasi dari
timbulnya (prevalence ) kebutuhan
khusus adalah perlu
guna
perencanaan berbasis konsumen dalam
alokasi sumber daya,
persiapan
personel, serta
pembangunan
program-program dan layanan-layanan yang
memadai.
10. Para orang
tua maupun anggota
keluarga lainnya dari
si anak berkebutuhan
khusus memiliki
peran yang sangat
penting di dalam
program pendidikan
yang efektif dan
layanan-layanan terkait. Mereka harus diterima dengan baik
di sekolah
dan masyarakat serta
diperlakukan sebagai mitra
sejajar dalam
semua upaya
untuk membina sebuah
kehidupan berkualitas bagi
anak-anak
mereka.
KEGIATAN
1. Tuliskanlah
definisi dari layanan-layanan pendidikan khusus pada kelompok
kecil atau secara
individual dengan menggunakan kata-kata Saudara sendiri.
Ceriterakan kepada
yang lain, bandingkan dan
bedakan definisi-definisi
tersebut.
2. Di Hong Kong, seorang
anak berusia 14
tahun pertama kali
didiagnosa
memiliki kecacatan/keterbelakangan mental di
usia dini (prasekolah). Ia
selanjutnya diklasifikasikan lagi
(reclassification) sebagai anak
berkesulitan
belajar di
Sekolah Dasar kelas
2. Kemudian ketika
ia di kelas
5 Sekolah
Dasar, ia
diklasifikasikan lagi sebagai
anak autis. Diskusikan
faktor-faktor
yang telah
memberikan kontribusi terhadap
perubahan klasifikasi dan
diagnosa tersebut
dan cara-cara untuk
menghindari jenis ketidakpastian
(confusion)
seperti ini.
3. Susunlah sebuah
daftar atau direktori
layanan-layanan dan dukungan-
dukungan bagi
para individu yang
membutuhkan pendidikan khusus
beserta
keluarga mereka.
Direktori tersebut harus
mencantumkan nama agen
penyedia, alamat,
nomor telepon, populasi
sasaran (target population), dan
penjelasan
ringkas tentang dukungan yang disediakan.
104. Setelah melakukan review
singkat tentang sejarah ringkas dari perkembangan
pendidikan khusus
di dunia, diskusikan
seperti apa pengadaan pendidikan
khusus pada abad
21.
5. Bacalah cetak
biru Reformasi Pendidikan dan pernyataan kebijakan dari Chief
Executive mengenai
cara-cara meningkatkan pendidikan di Hong Kong.
Diskusikan dalam
kelompok-kelompok
kecil bagaimana mereka
bisa
mengubah
pengadaan layanan-layanan pendidikan khusus.
SUMBER-SUMBER
Sumber-sumber di Hong Kong
The Boys’ and Girls Club Association of Hong
Kong
3 Lockhart Road,
Wanchai, Hong Kong
Alamat web: http://www.bgcahk.org
Cactus Special Education Internet Resource
Alamat web: http://cactus-sped.uhome.net
Caritas Chan Chun Ha Day Activity Centre
2/F, 227-252 On Tao House, Cheung On Estate
Tsing Yi, New Territories
Caritas Chan Chun Ha Hostel
2/F, 227-252 On Tao House, Cheung On Estate
Tsing Yi, New Territories
Caritas Clinical Psychological Service
Caritas House, 2-8
Caine Road, Hong Kong
Caritas Comprehensive Intervension Programme for Autistic
Children
Room 607, 42
St. Francis Street, Wanchai, Hong
Kong
Caritas Dr.
& Mrs. Olinto De Sousa Family Service (Shatin)
Unit 102-107, G/F, Block A, Herring Gulf
House, Sha Kok Estate
Shatin, New Territories
Caritas Hong Kong
Alamat web: http://www.caritas.org.hk/
Caritas Family Service – Chai Wan
Unit 112, G/F, Lei Tsui house, Wan Tsui Estate
Chaiwan, Hong Kong
Caritas Family Aide Service – Chai Wan
Unit 112, G/F, Lei Tsui house, Wan Tsui Estate
Chaiwan, Hong Kong
Caritas Family Service – Aberdeen
1/F, 20 Tin Wan Street, Aberdeen,
Hong Kong
11Caritas Family
Service – Caine Road
1/F, Caritas House, 2 Caine Road, Hong
Kong
Caritas Family Service – Fanling
Unit 217-220, Cheung Lai house, Cheung Wah Estate
Fanling, New Territories
Caritas Family Service – Kowloon
Caritas Social Centre – Kowloon
2/F, 134
Boundary Street, Kowloon
Caritas Family Service – Ngau Tau Kok
G/F, 1 On Tak
Road, Ngau Tau Kok, Kowloon
Caritas Family Service – Tsuen Wan
No. 9, Shing
Mun Road
Tsuen Wan, New Territories
Caritas Family Service – Tuen Mun (North)
Unit 32, G/F, Hing Shing House, Tai Hing Estate
Tuen Mun, New Territories
Caritas Family Service – Tuen Mun (South)
Unit 11-16, G/F, High Block, Wu Boon House,
Wu King Estate, Tuen Mun, New Territories
Caritas Family Service – Tung Tau
12, G/F, Wing Tung House, Tung Tau Estate, Kowloon
Caritas Family Service – Yuen Long
4/F, Tin Shui Community Centre, Tin Shui Estate
Tin Shui Wai, Yuen Long, New Territories
Caritas Lok Fung Day Activity Centre
G/F, Wah Lai House, 8 Wah Kwai Estate, Hong
Kong
Caritas Lok Hang Workshop
5/F, Caritas Social Centre – Yaumatei, 4 Cliff Road
Yaumatei, Kowloon
Caritas Lok Heep Club – Hong Kong Centre
130 Hennessy
Road, 12/F, Southern Centre
Wanchai, Hong Kong
Caritas Lok Heep Club – Kowloon Centre
G/F, Yiu Tong House, Tung Tau Estate, Kowloon
Caritas Lok Him Day Activity Centre
Podium M/F, Verbena
Heights, 8 Mau Tai Road
Tseung Kwan O, Sai Kung, New Territories
12Caritas
Lok Hing Child Care Centre
No. 40-45, G/F, Hing Yiu House, Tai Hing Estate
Tune Mun, New Territories
Caritas Lok Kim Workshop
G/F, On Chiu House, Cheung On Estate
Tsing Yi, New Territories
Caritas Lok King Hostel
Podium G/F, Verbena
Heights, 8 Mau Tai Road
Tseung Kwan O, Sai Kung, New Territories
Caritas Lok Miu Early Education & Training Centre
1/F, Causeway
Bay Community Centre, 7 Fook Yun Road
North Point, Hong Kong
Caritas Lok Wo Hostel
M/F, Whampoa Plaza, Whampoa
Garden, 7 Tak On Street
Hunghom, Kowloon
Caritas Lok Shing Hostel
G/F, Wah Hau House, Wah Kwai Estate, Hong
Kong
Caritas Lok Wo Hostel
1/F, On Chiu House, Cheung On Estate
Tsing Yi, New Territories
Caritas Lok Yau Early Education & Training Centre
Room 12, Caritas House, 2 Caine Road, Hong
Kong
Caritas Lok Yin Day Activity Centre
M/F, Whampoa Plaza, Whampoa
Garden,
7 Tak On Street, Hunghom, Kowloon
Caritas Morning Star Hostel
58-61, Kai Yue House, Kai Yip Estate,
Kowloon Bay, Kowloon
Caritas Occational Child Care Services for Disabled
Pre-Schoolers
1/F, Causeway
Bay Community Centre, 7 Fook Yum Road
North Point, Hong Kong
Caritas Occational Child Care Services for Disabled
Pre-Schoolers
Room 102, Caritas House, 2 Caine Road, Hong
Kong
Caritas Parents Resource Centre
1/F, Causeway
Bay Community Centre, 7 Fook Yum Road
North Point, Hong Kong
13Caritas Parents Resource Centre
Room 101, Caritas House, 2 Caine Road, Hong
Kong
Caritas
Pre-School Education
Material Reference Centre
54 Pokfulam
Road, Hong Kong
Hong Kong Society for
Rehabilitation Community Rehabilitatio Network
Alamat web: http://www.renet.org/crn/
Caritas Pui Man House Social Centre – Ngau Tau Kok
1 On Tak Road,
Ngau Tau Kok, Kowloon
Caritas Rotary Women & Family Service Centre – Shaukiwan
Flat 1, 1/F, Lee
Ga Building,
131 San Wan Ho Street
Shaukiwan, Hong Kong
Caritas Social Centre – Kowloon
2/F, 134
Boundary Street, Kowloon
Caritas Social Centre – Kowloon
Wing C, G/F, Yun Tin House, Pak Tin Estate, Sham Shui Po, Kowloon
Caritas Supported Employment Service
5/F, Caritas Social Centre – Yaumatei, 4 Cliff Road, Yaumatei, Kowloon
Caritas Wong Yiu Nam Centre
Tseung Kwan O Post Office, P.O.Box 65274, Kowloon
Equal Opportunity Commision (EOC)
Unit 2002, 20/F, Office
Tower, Convention Plaza
1 Harbour Road,
Wanchai, Hong Kong
Tel.:852-2511-8211 Fax:852-2511-8142
E-mail: eoc@eoc.gov.hk
Alamat web: http://www.eoc.org.hk/
Haven of Hope
Sunnyside School
Alamat web: http://hoh.hkcampus.net/
Hired Vehicle Service for Mentally Handicapped Persons
M/F, Whampoa Plaza, Whampoa
Garden, 7 Tak On Street
Hunghom, Kowloon
Hong Kong Education Department Internet Resource
Alamat web: http://www.ed.gov.hk/
Hong Kong Institute of Education, Department of Special
Education
10 Lo Ping Road, Tai Po,
New Territories
Hong Kong Red Cross
43 Hartcourt
Road, Wanchai, Hong Kong
14Alamat web: http://www.redcross.org.hk/index.html
Po Leung Kuk
Alamat web: http://www.poleungkuk.org.hk/index_e.htm
Special
Education Resource
Center, Hong Kong
Education Department
Tel.:852-2760-6201 atau 852-2760-6202 Fax:852-2761-0976
E-mail:serc@ed.gov.hk
Alamat web: http://serc.ed.gov.hk/
Special Education Society of Hong Kong
Tel.: 852-2320-3452
Alamat web: http://www.seshk.org.hk/
The Spastics Association of Hong Kong
Room 603, Duke of Windsor
Social Service Bldg
15 Hennessy
Road, Wanchai, Hong Kong
Alamat web: http://www.spastic.org.hk/
The University
of Hong Kong, Department
of Education
Pokfulam Road,
Hong Kong
Sumber-sumber di Taiwan
ArBao’s Paradise
E-mail:spe.aide.gov.tw
Alamat web: http://spe.aide.gov.tw/image/index.asp
Tel.:886-2-23566051-2
E-mail:mail@mail.moe.gov.te
Alamat web: http://speedu.tkblid.tku.edu.tw/
Special Education Association of Republic of China
Tel.:886-02-2392-2784
Alamat web: http://searoc.aide.gov.tw/index.htm
Sumber-sumber Internasional
The Accrediation Council on Services for People with
Disabilities
8100 Profession
Place, Suite 204, Landover, MD 20785-225
U.S.A.
American Network of Community Options and Resources
4200 Evergreen
Lane, Suite 305, Annandale, VA 22003 U.S.A.
15Alamat web: http://www.redcross.org.hk/index.html
Po Leung Kuk
Alamat web: http://www.poleungkuk.org.hk/index_e.htm
Special
Education Resource
Center, Hong Kong
Education Department
Tel.:852-2760-6201 atau 852-2760-6202 Fax:852-2761-0976
E-mail:serc@ed.gov.hk
Alamat web: http://serc.ed.gov.hk/
Special Education Society of Hong Kong
Tel.: 852-2320-3452
Alamat web: http://www.seshk.org.hk/
The Spastics Association of Hong Kong
Room 603, Duke of Windsor
Social Service Bldg
15 Hennessy
Road, Wanchai, Hong Kong
Alamat web: http://www.spastic.org.hk/
The University
of Hong Kong, Department
of Education
Pokfulam Road,
Hong Kong
Sumber-sumber di Taiwan
ArBao’s Paradise
E-mail:spe.aide.gov.tw
Alamat web: http://spe.aide.gov.tw/image/index.asp
Tel.:886-2-23566051-2
E-mail:mail@mail.moe.gov.te
Alamat web: http://speedu.tkblid.tku.edu.tw/
Special Education Association of Republic of China
Tel.:886-02-2392-2784
Alamat web: http://searoc.aide.gov.tw/index.htm
Sumber-sumber Internasional
The Accrediation Council on Services for People with
Disabilities
8100 Profession
Place, Suite 204, Landover, MD 20785-225
U.S.A.
American Network of Community Options and Resources
4200 Evergreen
Lane, Suite 305, Annandale, VA 22003 U.S.A.
15U.S. Department of Education
400 Maryland
Avenue, SW, Washington, DC 20202-0498
U.S.A.
University of Kansas, Beach
Center on Families and
Disability
Bureau of Child Research, 4138 Haword Hall, Lawrence, KS
66045 U.S.A.
REFERENSI
34 C.F.R. (Code of Federal Regulation) Section 300.17
Aiello, B. (1976),
Especially for special
educators: A sense
of our own
history,
Exceptional
children. 42, 244-252.
Ballard, J., Ramirez, B.A., & Weintraub, FJ. (1982).
Special Education in America:
Its
legal and
governmental foundation. Reston,
VA: Council for Exceptional
Children.
Board of Education.
(1996). Report of
the sub-committee on
special education. Hong
Kong:
Government Printer.
Education
Department. (1968). Education
Department: Annual Reports.
Hong Kong:
Government
Printer.
Education
Department. (1986). Hong Kong Supplement to
Guide to the
Standard
Progressive
Matrices. Hong Kong: Government Printer.
Hardman, M.L., Drew, CJ., & Egan, M.W. (1996). Human
exceptionality: Society, school
and family.
(5th ed.), Needham Heights,
MA: Allyn & Bacon.
Hong Kong Council
of Social Welfare.
(1995, May). White paper
on rehabilitation: A
better tomorrow
for all. [Online]
http://swik.socialnet.org.hk/swik1/C400/c402/hk/
Erehab.htm#C4C37
Hong
Kong
Education Department. (2001,
September). Implementation guide
for
integrated
education. Hong Kong: HKED.
Hong Kong Government.
(1981). Hong Kong – Wechsler Intelligence Scale for Children:
Manual. Hong Kong: Government Printer.
Kanner, L. (1964). A history of the care and study of the mentally retarded. Springfield,
IL: Thomas.
Lian, M-G.J. (1999).
Getting to know
individuals with physical
disabilities and health
impairments. Normal, IL: University
Communication, Illinois
State University.
Lian, M-G.J. (2001,
July 21). Use of
technology for students
with severe cognitive
disabilities. Paper presented
at the Hong
Kong School Leadership
Network-SEG
Cross-school
Collaboration Project, Hong Kong Institute of Education. Hong
Kong.
Marsh, R.M. & Sampson, J.R. (1963). Report of the
Education Commission. Hong Kong:
Government
Printer.
Screerenberger, R.C. (1983). A history of mental
retardation. Baltimore:
Brookes.
Smith, D.D. & Luckasson, R. (1995). Introduction to
special education: Teaching in an
age
challenge (2nd ed.). Needham
Heights, MA: Allyn
& Bacon.
United Nations Educational, Scientific
and Cultural Organization and
Ministry of
Education and
Science. (1994, June). Final Report. World Conference on Special
Needs
Education: Access and Quality. Salamanca,
Spain.
Wolfensberger,
W. (1972). Citizan
Advocacy for handicapped, impaired, and
disadvantaged:
An interview. [DHEW Publication No. OS 72-42] Washington, DC:
Government
Printing Services.
Yung, K.K. (1997). Special Education in Hong
Kong: Is history repeating itself? Special
Education
Forum. I (1), 1-7.
17
No comments:
Post a Comment