Friday, 16 November 2012

1

Berkelainan dan Pendidikan Berkebutuhan Khusus

PERTANYAAN-PERTANYAAN PENDAHULUAN

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut pada saat Anda membaca bagian ini:
1.  Faktor-faktor     apakah     yang   mengarah     pada    perkembangan       pendidikan
    berkebutuhan khusus?
2.  Apakah     prinsip-prinsip   yang   mendorong     pendidikan    berkebutuhan    khusus
    dewasa ini?
3.  Mengapa beberapa siswa mendapatkan pendidikan berkebutuhan khusus?
4.  Siapa yang berhak untuk pendidikan berkebutuhan khusus?
5.  Apakah     keuntungan     dan  kerugian   dari  pengklasifikasian    siswa   bagi  pen-
    didikan berkebutuhan khusus?
6.  Apakah perbedaan antara pendidikan berkebutuhan khusus dan umum?

TERMINOLOGI DAN UNGKAPAN PENTING

klasifikasi                              timbul (prevalensi)
berkelainan (exceptionality)             hak untuk pendidikan
sejarah                                  pendidikan khusus
labeling                                 kebutuhan pendidikan khusus
keabsahan (legislation)                  pendidikan berkebutuhan khusus
orang tua dan keluarga

PENDAHULUAN

Studi   tentang   anak-anak  berkelainan  adalah   studi   tentang   perbedaan-perbedaan
dan keanekaragaman. Seorang anak yang berkelainan bisa memiliki kesulitan atau
talenta khusus dalam hal melihat, mendengar, berbicara, berpikir, bergerak, atau
bersosialisasi. Studi tentang anak-anak berkelainan juga merupakan studi tentang
persamaan.     Seorang    anak   berkelainan   tidaklah  berbeda    dari  anak-anak    pada
umumnya   dalam   segala   hal.   Barangkali   lebih   banyak   persamaannya   dalam   hal
karakteristik, kebutuhan, dan cara belajar ketimbang perbedaan-perbedaan antara
anak-anak   berkelainan   dan   tidak   berkelainan.   Untuk   tujuan-tujuan   pendidikan,
anak-anak      berkelainan    didefinisikan    sebagai    mereka    yang    membutuhkan
pendidikan     berkebutuhan    khusus    dan  layanan-layanan     terkait  apabila  mereka
menyadari   akan   kemampuan   atau   potensi   penuh   mereka.   Namun   demikian,   kita
harus   ingat  bahwa    mereka   sangat   berbeda   dalam   karakteristik  dan  kebutuhan
pendidikan.

                                                    RUANG LINGKUP PENDIDIKAN BERKEBUTUHAN KHUSUS

Pada     masa-masa     lalu,  pendidikan     merupakan      hak  istimewa     di  seluruh   dunia.
 Sekarang ini, sebagian besar anak-anak di negara-negara maju telah memiliki hak
untuk     mengikuti    sekolah.    Bangsa-bangsa      tersebut  telah   mengimplementasikan
pendidikan   wajib  atau   wajib   belajar   (compulsory   education)         di   pelbagai   ting-
katan. Pemerintah diharuskan untuk mempersiapkan pendidikan, sedangkan para
orang     tua  diharuskan    mengirimkan       anak-anak    mereka     ke  sekolah.   Anak-anak
perempuan       dan    laki-laki,  kaya    dan   miskin,    dan   anak-anak     dengan     seluruh
kemampuan dan latar belakang tiba di sekolah setiap pagi. Keanekaragaman anak-
anak     seperti  ini  membutuhkan       para   guru   yang   terampil   dan   para   profesional
lainnya – sebuah tantangan bagi kita semua.
         Di   berbagai   bangsa,   anak-anak   yang   cacat   sekarang   menjadi   bagian   dari
sistem pendidikan publik dan memiliki hak memperoleh pendidikan publik yang
bebas   dan   memadai.   Anak-anak   yang   memiliki   bakat   khusus   dan   talenta   secara
historis   telah   diikutsertakan   dalam   perbincangan   tentang   pendidikan   kebutuhan
khusus,      sementara      program-program         untuk     anak-anak      berbakat     tidaklah
seuniversal program bagi anak-anak yang berkelainan (cacat). Dewasa ini, anak-
anak     yang   berkebutuhan     khusus    meliputi    mereka    penyandang     cacat/keterbela-
kangan     mental     (tunagrahita),    berkesulitan     komunikasi,      berkesulitan     belajar,
penyimpangan        perilaku,     cacat    penglihatan     (tunanetra),    cacat    pendengaran
(tunarungu),   cacat   fisik   dan   kesehatan   (tuna   daksa),   berbakat   dan   kreatif,   atau
suatu kombinasi dari cacat ganda dan/atau talenta khusus.

Definisi Pendidikan Berkebutuhan Khusus

Istilah  “pendidikan  khusus”  secara  tradisional  dikaitkan  dengan   anak-anak   yang
tidak    mampu,     cacat   atau  memiliki    kesulitan.   Namun     demikian     ruang   lingkup
pendidikan berkebutuhan khusus  telah meluas hingga melibatkan anak-anak yang
berbakat   atau   bertalenta   atau   bahkan   anak-anak   dari   budaya   yang   berbeda   dan
berbicara  dengan   bahasa   yang   berbeda.   Banyak   buku   yang   ada   serta   publikasi
tentang pendidikan khusus di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Inggeris,
Kanada   dan   Australia   memasukkan   kedua   kelompok   anak-anak   tersebut.   Ruang
lingkup   yang  lebih   luas   dari   bidang  ini   juga   telah   menerima   kemampuan   saling
merubah      dari   terminologi     seperti    “pendidikan     berkebutuhan       khusus”     dan 
“pendidikan khusus”.
         Peraturan federal di Amerika Serikat mendefinisikan “pendidikan khusus” 
sebagai pendidikan individu yang dirancang khusus “tanpa biaya bagi para orang
tua untuk memenuhi kebutuhan unik dari anak-anak penyandang cacat, termasuk
instruksi yang dilaksanakan di dalam ruangan kelas, di rumah, di rumah sakit dan
lembaga-lembaga,         dan    di  situasi   lainnya,    dan   instruksi    dalam    pendidikan
jasmansi”  (34  Code  of  Federal  17  [a],  [1]).  Untuk  dapat  memperoleh  layanan 
pendidikan berkebutuhan khusus, “seorang anak yang berkebutuhan khusus” atau 
sering disebut “anak berkelainan” didefinisikan sebagai “seseorang yang memiliki 
performansi   fisik,   mental   dan   perilaku   yang   secara   substansial   berdeviasi   atau
menyimpang  dari  yang  normal,  baik  lebih  tinggi  atau  lebih  rendah.”  (Hardman, 
Drew, & Egan, 1996, p.5)

                                                       RUANG LINGKUP PENDIDIKAN BERKEBUTUHAN KHUSUS

Pada     masa-masa     lalu,  pendidikan     merupakan      hak  istimewa     di  seluruh   dunia.
 Sekarang ini, sebagian besar anak-anak di negara-negara maju telah memiliki hak
untuk     mengikuti    sekolah.    Bangsa-bangsa      tersebut  telah   mengimplementasikan
pendidikan   wajib  atau   wajib   belajar   (compulsory   education)         di   pelbagai   ting-
katan. Pemerintah diharuskan untuk mempersiapkan pendidikan, sedangkan para
orang     tua  diharuskan    mengirimkan       anak-anak    mereka     ke  sekolah.   Anak-anak
perempuan       dan    laki-laki,  kaya    dan   miskin,    dan   anak-anak     dengan     seluruh
kemampuan dan latar belakang tiba di sekolah setiap pagi. Keanekaragaman anak-
anak     seperti  ini  membutuhkan       para   guru   yang   terampil   dan   para   profesional
lainnya – sebuah tantangan bagi kita semua.
         Di   berbagai   bangsa,   anak-anak   yang   cacat   sekarang   menjadi   bagian   dari
sistem pendidikan publik dan memiliki hak memperoleh pendidikan publik yang
bebas   dan   memadai.   Anak-anak   yang   memiliki   bakat   khusus   dan   talenta   secara
historis   telah   diikutsertakan   dalam   perbincangan   tentang   pendidikan   kebutuhan
khusus,      sementara      program-program         untuk     anak-anak      berbakat     tidaklah
seuniversal program bagi anak-anak yang berkelainan (cacat). Dewasa ini, anak-
anak     yang   berkebutuhan     khusus    meliputi    mereka    penyandang     cacat/keterbela-
kangan     mental     (tunagrahita),    berkesulitan     komunikasi,      berkesulitan     belajar,
penyimpangan        perilaku,     cacat    penglihatan     (tunanetra),    cacat    pendengaran
(tunarungu),   cacat   fisik   dan   kesehatan   (tuna   daksa),   berbakat   dan   kreatif,   atau
suatu kombinasi dari cacat ganda dan/atau talenta khusus.

Definisi Pendidikan Berkebutuhan Khusus

Istilah  “pendidikan  khusus”  secara  tradisional  dikaitkan  dengan   anak-anak   yang
tidak    mampu,     cacat   atau  memiliki    kesulitan.   Namun     demikian     ruang   lingkup
pendidikan berkebutuhan khusus  telah meluas hingga melibatkan anak-anak yang
berbakat   atau   bertalenta   atau   bahkan   anak-anak   dari   budaya   yang   berbeda   dan
berbicara  dengan   bahasa   yang   berbeda.   Banyak   buku   yang   ada   serta   publikasi
tentang pendidikan khusus di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Inggeris,
Kanada   dan   Australia   memasukkan   kedua   kelompok   anak-anak   tersebut.   Ruang
lingkup   yang  lebih   luas   dari   bidang  ini   juga   telah   menerima   kemampuan   saling
merubah      dari   terminologi     seperti    “pendidikan     berkebutuhan       khusus”     dan 
“pendidikan khusus”.
         Peraturan federal di Amerika Serikat mendefinisikan “pendidikan khusus” 
sebagai pendidikan individu yang dirancang khusus “tanpa biaya bagi para orang
tua untuk memenuhi kebutuhan unik dari anak-anak penyandang cacat, termasuk
instruksi yang dilaksanakan di dalam ruangan kelas, di rumah, di rumah sakit dan
lembaga-lembaga,         dan    di  situasi   lainnya,    dan   instruksi    dalam    pendidikan
jasmansi”  (34  Code  of  Federal  17  [a],  [1]).  Untuk  dapat  memperoleh  layanan 
pendidikan berkebutuhan khusus, “seorang anak yang berkebutuhan khusus” atau 
sering disebut “anak berkelainan” didefinisikan sebagai “seseorang yang memiliki 
performansi   fisik,   mental   dan   perilaku   yang   secara   substansial   berdeviasi   atau
menyimpang  dari  yang  normal,  baik  lebih  tinggi  atau  lebih  rendah.”  (Hardman, 
Drew, & Egan, 1996, p.5)

                                                                                                 2          Di  Hong  Kong,  “Pendidikan  berkebutuhan  khusus”  didefinisikan  dalam 
konteks   anak-anak   yang   memiliki   kualifikasi   untuk   menerima   layanan   khusus.
Secara resmi definisi “anak-anak dengan kebutuhan khusus” adalah:

         Anak-anak      dianggap    memiliki    kebutuhan    pendidikan    khusus   apabila   mereka
         tidak   dapat   memperoleh   manfaat   penuh   dari   kurikulum   yang   dibuat   bagi  anak-
         anak   seusianya   dan/atau   yang   tidak   dapat   dibina   secara   memadai   dalam   situasi
         pendidikan   yang   biasa.   Anak-anak   dengan   satu   atau   lebih   karakteristik   berikut
         dapat    dianggap    sebagai   anak    yang   berkebutuhan     pendidikan    khusus:   cacat
         penglihatan (tunanetra),  cacat pendengaran (tunarungu), cacat fisik (tunadaksa),
         cacat/keterbelakangan      mental    (tunagrahita),   kesulitan   penyesuaian    diri  (mal-
         adjustment/tunalaras) dan kesulitan belajar. (Dewan Pengurus Pendidikan / Board
         of Education, 1996, hal. 16).

         Terdapat      perbedaan     yang   mencolok      antara   peraturan    yang    dianut   oleh
sistem     pendidikan     Amerika     Serikat    dan   Hong    Kong.     Sistem     AS    menjamin
pendidikan umum   yang  bebas dan memadai dari lahir hingga berumur 21,   yang
mencakup peralatan yang diperlukan untuk berperan serta dalam kegiatan sekolah
serta transportasi untuk membawa pelajar pulang pergi antara sekolah dan rumah
tanpa   terlambat,   sedangkan   dalam   sistem   pendidikan   Hong   Kong   tidak.   Anak-
anak yang berkebutuhan khusus dijamin suatu pendidikan yang bebas, wajib dari
mulai taman kanak-kanak hingga usia 15, akan tetapi pelbagai layanan disediakan
berdasarkan   ketersediaan   ketimbang   mandat   resmi.   Sebagai   contoh,   anak-anak
yang     memiliki    kualifikasi    mendapatkan       layanan-layanan      khusus    seperti   terapi
bicara sering harus menunggu lowongan untuk menerima layanan dan pemerintah
tidak   bertanggung   jawab   secara   hukum   bilamana   layanan   tidak   tersedia   secara
tepat   waktu.    Pemerintah      dan   sekolah   hanya    sedikit   bertanggung   jawab       dalam
pengadaan-pengadaan tersebut.

LABELING DAN KLASIFIKASI

Siswa-siswa         yang     berkebutuhan        khusus     adalah      individu-individu       yang
membutuhkan          layanan     pendidikan      khusus     agar    mencapai      potensi    mereka
sepenuhnya. Sebuah cara yang tampaknya alamiah dalam menentukan siapa yang
berkualifikasi     untuk    layanan    pendidikan     khusus    adalah    dengan     mengorganisir
anak-anak yang memiliki berbagai kebutuhan belajar ke dalam kategori-kategori
dari    klasifikasi.   Anak-anak       yang    kebutuhannya       atau   kemampuannya          sesuai
dengan   kategori-kategori   tertentu   diberikan   label-label   sebagai   identifikasi   dan
referensi.    Perbedaan      antara  labeling    dan    klasifikasi   adalah    bahwa    label-label
diberikan      dan   ditempelkan      pada    individu-individu      dan    bisa   meliputi    istilah
stigmatis     (penghinaan)      seperti    “lunatics”     (gila   atau   bodoh)     dan    “idiots,” 
sedangkan klasifikasi menjelaskan “suatu sistem terstruktur yang mengidentifikasi 
dan     mengorganisir      karakteristik-karakteristik       guna    menciptakan      suatu    keter-
aturan”  (Smith & Luckasson, 1995, hal. 5).
         Ketika     hukum-hukum         diperkenalkan     untuk    menjamin      hak   memperoleh
pendidikan,      sistem   klasifikasi    dan   label   menjadi    juru   kunci   untuk    menjamin
bahwa      hanya    merekalah      yang   menyandang        label-label    tersebut   yang    berhak
memperoleh        layanan     pendidikan     khusus     di  bawah     suatu    sistem    klasifikasi.
Hubungan   seperti   itu   antara   kewajiban   hukum   dan   sekolah jelas   tercermin   dan
dipraktekkan       di  negara-negara      maju    seperti   Amerika     Serikat.   Kendati    belum

                                                                                                    3 terdapat   hukum   tentang   pendidikan   khusus   seperti   itu,   pemerintah   Hong   Kong
mendanai       sekolah-sekolah       dan    program-program        bagi    anak-anak      yang
berkebutuhan       khusus    berdasarkan     pada    apakah    mereka     terbukti   memiliki
kebutuhan-kebutuhan         dalam    kategori-kategori    kebutuhan     khusus    yang    telah
ditentukan.
        Labeling      menentukan       individu-individu        atau    kelompok-kelompok
berdasarkan   atas   suatu   kategori   yang   telah   ditentukan   untuknya.   Dampak   dari
labeling    pada     seorang     individu   disebabkan     kebutuhan       khususnya      telah
mendapatkan   perhatian   yang   luas   dalam   pendidikan   khusus.   Istilah-istilah   yang
kita    gunakan    untuk    menjelaskan      orang-orang     yang    berkebutuhan      khusus,
misalnya,     “crippled”     (tunadaksa),     “feebleminded ”     (lemah     mental),     atau 
“handicapped”  (cacat)  dapat  mempengaruhi  cara  berpikir  orang-orang   tentang
individu-individu      ini   serta  kemampuan       dan/atau    potensi    mereka    terhadap
pencapaian     (achievement).     Mereka    yang   kontra   terhadap   labeling   bersikukuh
bahwa     memberikan      label  kepada    seseorang    dengan   suatu   kategori   kecacatan
(disabilities) dapat berdampak secara negatif pada persepsi mengenai kemampuan
individu tersebut. Di lain pihak, mereka yang pro terhadap  labeling berpendapat
bahwa     labeling    akan    membantu       para   profesional    untuk    mengidentifikasi
kebutuhan-kebutuhan         tertentu  dari   seorang   individu    serta  untuk    merancang
intervensi instruksional yang sesuai bagi individu tersebut.
         Sudah    barang   tentu    terdapat   beberapa    manfaat    dari  klasifikasi  bagi
pendidikan     berkebutuhan     khusus.    Pertama,   suatu   sistem   klasifikasi  memung-
kinkan kita untuk memberi nama kecacatan, untuk membedakan satu dengan yang
lainnya,   dan   untuk   mengkomunikasikan   tentang   suatu   kecacatan   khusus   dengan
pemaknaan   penuh   serta      efisien.   Kedua,   suatu  sistem   klasifikasi  adalah   sangat
penting bagi keperluan riset atau penelitian. Para peneliti bisa memfokuskan dan
melakukan spesialisasi pada kategori-kategori tertentu serta mencari pemahaman
yang     mendalam      terhadap    hal-hal   yang   berkaitan    dengan     kategori-kategori
tersebut.   Ketiga,   sistem   tersebut   memudahkan   untuk   menghubungkan  treatment
(perlakuan)     tertentu  terhadap   diagnosa    tertentu.  Kelemahan      utama   dari  suatu
sistem klasifikasi adalah memberikan penekanan terlalu besar terhadap kelompok
di   bawah     kategori   spesifik   dan   memberikan      penekanan     sedikit   dalam    hal
menyesuaikan layanan dengan kebutuhan-kebutuhan individual.
         Klasifikasi   yang    digunakan     dalam    buku   ini  adalah   secara   kategoris,
mengorganisir   kebutuhan-kebutuhan   khusus   ke   dalam   kategori-kategori.   Setiap
kategori   memiliki   subkategorinya   sendiri.   Misalnya,   kategori   dari   cacat/keterbe-
lakangan  mental   disubkategorikan   ke   dalam   tiga   intensitas   pendukung:   ringan,
sedang, dan berat serta dalam.

SEJARAH PENDIDIKAN BERKEBUTUHAN KHUSUS

Pendidikan     khusus    tumbuh    dari  suatu   kesadaran    awal   bahwa    beberapa    anak
membutuhkan sejenis pendidikan yang berbeda dari pendidikan yang tipikal atau
biasa    agar  dapat   mencapai     potensi   mereka.    Akar    dari  kesadaran    ini  dapat
ditelusuri di Eropa pada tahun 1700-an ketika para pionir tertentu mulai membuat
upaya-upaya terpisah untuk mendidik anak-anak penyandang cacat.
         Salah seorang pionir tersebut bernama Jean-Marc-Gaspard   Itard, seorang
dokter berkebangsaan Perancis dianggap sebagai bapak pendidikan berkebutuhan
khusus. Karya   Itard   yang paling penting adalah   usahanya untuk menolong   yang

                                                                                             4 biasa disebut anak laki-laki liar dari Aveyron, yang ditemukan di hutan Perancis
pada   tahun   1799   dan   kemudian   diberi   nama   Victor.   Ia   kemungkinan   menderita
cacat/keterbelakangan mental dan terkucil dari lingkungan. Itard mengajari Victor
semua hal yang dipelajari anak-anak normal dari keluarga mereka dan di sekolah.
Victor belajar berbicara beberapa patah kata, berdiri tegak, makan dengan piring
dan   peralatan   makan   lainnya,   dan   berinteraksi   dengan   orang-orang   lain   melalui
teknik yang dtelah dirancang dengan hati-hati. Itard merekam rincian teknik yang
digunakan      serta  filosofi  yang   relevan   dengan    kemajuan     Victor.   Banyak    dari
teknik-teknik tersebut masih digunakan hingga hari ini.
         Seorang pionir  lainnya  dalam   bidang   pendidikan   khusus   adalah   Edouard
Seguin,   seorang   murid   Itard.   Ia   menerbitkan   sebuah   thesis   pendidikan   khusus
yang  pertama.  “Perlakuan       Mental,     Kesehatan     dan  Pendidikan     bagi   Idiot  dan
Anak-anak Terbelakang” (The Moral Treatment, Hygiene, and Education of Idiots
and    Other   Backward     Chidren)    pada   tahun   1846.   Setelah   pindah    ke  Amerika
Serikat,    ia  membantu      dalam    mendirikan     Asosiasi   Petugas    Medis    Lembaga-
lembaga Amerika bagi penyandang Keterbelakangan Mental (Idiots) dan Orang-
orang Lemah Mental (Association of Medical Officers of American Institutions for
Idiots   and   Feebleminded   Persons)   pada   tahun   1876.   Organisasi   ini   kemudian
menjadi Persatuan Amerika bagi Kelemahan Mental (the American Association on
Mental      Deficiency/AAMD)          dan    selanjutnya     berubah     menjadi     Persatuan
Cacat/Keterbelakangan        Mental    Amerika   (the  American   Association       on   Mental
Retardation/AAMR),         merupakan     asosiasi   profesional    yang   terbesar  dan   tertua
dalam bidang cacat/ keterbelakangan mental.
         Seguin juga memberi pengaruh kepada Maria Montessori, seorang dokter
wanita     pertama    berkebangsaan      Itali.  Montessori     bekerja    dengan    anak-anak
penyandang  cacat/keterbelakangan  mental   sebelum   ia   bekerja  dengan   anak-anak
muda. Ia percaya dan mempertunjukkan bahwa pengalaman konkret  serta sebuah
lingkungan   yang kaya dengan bahan-bahan  yang manipulatif akan memfasilitasi
pembelajaran      anak-anak     muda.    Montessori     terkenal   sebagai   penemu     gerakan
prasekolah Montessori sekarang.
         Lembaga-lembaga         residensial     didirikan    di   Amerika     Serikat    untuk
mengajar  anak-anak   penyandang  cacat   terbanyak   di   awal   tahun   1800-an.   Kelas-
kelas pendidikan khusus di sekolah umum mulai bermunculan di kota-kota besar
di akhir abad ke-19, misalnya, kelas bagi anak-anak tunadaksa di sekolah umum
Chicago   pada  tahun   1900   (Lian,   1999).   Namun   demikian,   hanya   12   persen   dari
seluruh    anak-anak     dan  pemuda     penyandang     cacat   yang   memperoleh      instruksi
pendidikan khusus di tahun 1948 (Ballard, Ramirez, & Weintraub, 1982). Tidak
sedikit anak-anak penyandang cacat lainnya yang mungkin dapat berfungsi hingga
tingkatan tertentu di komunitas rumahnya sementara yang lainnya dipaksa untuk
masuk lembaga-lembaga terpisah.
         Sekali upaya-upaya mendidik anak-anak penyandang cacat dicanangkan di
Amerika   Serikat,   maka   negara   ini   mulai   memimpin   negara-negara   lain   dalam
perkembangan        layanan   pendidikan     khusus    di  berbagai   aspek.   Di   awal    1905
kesempatan training pertama bagi para  guru pendidikan khusus ditawarkan oleh
Sekolah   Training   bagi   Anak-anak   Lemah   Mental   New   Jersey   (the   New   Jersey
Training Schoolfor Feebleminded Boys and Girls ) selama musim panas (Kanner,
1964).     Pengenalan     yang   perlahan-lahan     terhadap    pendidikan    khusus    sebagai
sebuah     profesi  yang    membutuhkan       keahlian   telah  merangsang      perkembangan
bidang ini.

                                                                                               5          Organisasi-organisasi   profesi   dan  kelompok-kelompok   pendukung   mulai
 didirikan dan menjadi kekuatan yang dahsyat di belakang banyak perubahan yang
 telah    mengakar       dan    memberikan       kekuatan      munculnya       layanan-layanan
pendidikan      khusus.    Pada    tahun   1922,    Elizabeth    Farrell   mendirikan     Dewan
 Internasional bagi Pendidikan Anak-anak Berkelainan (the International Council
for   the   Education   of   Exceptional   Children )   (Aiello,   1976)   untuk   memberikan
 kesempatan   kepada   para   anggota   kelas   pendidikan   khusus        musim     panas   pada
 College     Guru    Universitas     Columbia     (the  Teacher’s   College   of      Columbia 
 University)   agar   bisa   bertemu   setahun   sekali   guna   bertukar   pikiran   dalam   hal
pendidikan       khusus.    Organisasi     ini   kemudian      menjadi     Dewan     Anak-anak
 Berkelainan   (the   Council   for   Exceptional   Children  atau  CEC).      Sekarang   CEC
 tetap   merupakan      organisasi    profesi   pendidikan     khusus    terbesar   di  Amerika
 Serikat.
         Banyak  sukarelawan  dan   organisasi   orang   tua   yang   dibentuk   pada   per-
 tengahan   abad   ke   duapuluh.   Asosiasi   Nasional   bagi   Warga   Negara   yang   Cacat
 (the National Association for Retarded Citizens/NARC) atau Asosiasi Anak-anak
 Cacat,   (the  ARC,   sebelumnya   bernama   Asosiasi   Anak-anak   penyandang   Cacat
 Amerika     Serikat/the    Association    for  Retarded    Children    of  the  Unites   States)
 didirikan pada tahun 1950; Asosiasi Cerebral Palsy Amerika Serikat (the United
 Cerebral   Palsy   Association,   Inc.)   pada   tahun   1949;   Masyarakat   Nasional   bagi
 Anak-anak   Autis   (the   National   Society   for   Autistic   Children)   pada   tahun   1961;
 Asosiasi    Kesulitan    Belajar   Amerika     (the   Learning    Disability    Association    of
America) pada tahun 1963; dan Yayasan Epilepsi Amerika (Epilepsy Foundation
 of America) pada tahun 1968.
         Gerakan   hak   azasi   manusia   secara   signifikan   telah   membantu   perkem-
 bangan      penyediaan      layanan-layanan       pendidikan      khusus     bagi    anak-anak
penyandang   cacat   di   seluruh   dunia   pada   abad   ke-20.   Konsep   normalisasi   telah
 membawa         pergerakan      deinstitusionalisasi      (Wolfensberger,       1972),     yang
 selanjutnya     melahirkan     konsep    dan   gerakan   lingkungan      yang  paling    sedikit
 keterbatasannya     (the   least   restrictive   environment)  dan  inklusi(penggabungan)
 bagi anak-anak penyandang cacat.
         Perkembangan       dari   pendidikan     berkebutuhan     khusus    telah  benar-benar
 dikaitkan   dengan   hukum   dan   perjanjian-perjanjian   skala   dunia   semenjak   tahun
 1950-an.      Amerika     Serikat    memimpin        dunia    dalam     melegalkan      hak-hak
pendidikan bagi anak-anak dan orang dewasa penyandang cacat. Hukum hak-hak
 sipil   yang   paling   menonjol   bagi   anak-anak   penyandang   cacat   adalah   Undang-
 Undang      Pendidikan     Bagi   Individu    Penyandang      Cacat    (the  Individuals    with
Disabilities     Education     Act/IDEA)    tahun     1990   [diawali    dan   ditanda    tangani
 menjadi    hukum     di  bawah    judul  asli  Undang-Undang        Pendidikan     bagi  Semua
 Anak Cacat (the Education for All Handicapped Children Act) pada tahun 1975]
 dan    bagi   orang   dewasa     Undang-Undang        Warga     Negara    Penyandang      Cacat
 Amerika Serikat (the Americans with Disabilities Act/ADA) tahun 1990. Negara-
 negara Eropa, Australasia dan Asia selanjutnya   memiliki hal   yang sama dengan
 tingkat yang bervariasi tentang kewajiban secara legal seperti yang tercantum di
 dalam Undang-Undang Pendidikan Bagi Individu Penyandang Cacat dan Undang-
 Undang Warga Negara Penyandang Cacat Amerika Serikat.
         Di Spanyol, para perwakilan ke sebuah konferensi tingkat dunia mengenai
pendidikan   khusus   pada   tahun   1994   meminta  dengan   sangat   kepada   pemerintah
 dan    LSM     (Non-Govermental         Organization)      untuk    menggalakkan       integrasi
 (keterpaduan)      di  seluruh    negara   (UNESCO         United     Nations    Educational,

                                                                                                6 Scientific   and   Cultural    Organization    dan   Kementrian      Pendidikan    dan   Sains,
Spanyol,      1994).    Kendati    dianggap     sebagai    bangsa    dunia   ketiga    dengan
perkembangan ekonomi yang komparatif, Cina juga telah berperan serta di dalam
pergerakan      integrasi  dan   pendidikan     wajib   bagi   semua,    dengan    atau  tanpa
kecacatan,   selama   dasawarsa   terakhir.   Perdebatan   mengenai   sejauh   mana   anak-
anak    penyandang     cacat   harus   berperanserta    di  dalam   pendidikan     yang   biasa
(reguler)    dengan    teman-teman     sebaya   mereka    yang    normal   telah   diupayakan
dengan   gigih selama dua hingga tiga dasawarsa terakhir dan terus bertambah di
berbagai belahan dunia.
         Apakah     anak-anak     berkebutuhan      khusus   dididik    dalam   suatu   situasi
terpisah   atau   terpadu,    mereka    mengikuti    sekolah    dewasa    ini.  Setiap  negara
menyediakan       jenis-jenis  layanan   yang    berbeda   didasarkan    pada   sumber    daya
keuangan   mereka.   Pengadaan   pendidikan   khusus   akan   terus   menarik   perhatian
dari    para    pembuat     kebijakan,     orang    tua,   pendidik,    kelompok-kelompok
pendukung akan terus berupaya mendapatkan mandat guna menjamin terlaksana-
nya pengadaan tersebut.

SEJARAH PENDIDIKAN BERKEBUTUHAN KHUSUS DI
HONG KONG

Sejarah    pendidikan  berkebutuhan       khusus    mencerminkan      perkembangan       secara
kronologis dari kegiatan kepedulian lembaga-lembaga filantropis serta individual
hingga    secara   perlahan-lahan     melibatkan    upaya    pemerintah    yang    terorganisir
dengan      mandat     legal   yang    makin    meningkat.      Perkembangan       pendidikan
berkebutuhan khusus di Hong Kong mengikuti alur yang sama. Menurut Young
(1997),   pendirian   rumah   untuk   tunanetra   oleh   Canossian   bersaudara   pada   tahun
1863, telah membawa bentuk layanan-layanan pendidikan khusus yang pertama.
Beberapa      dasawarsa     berikutnya,    pada    tahun    1935,    tiga  orang    misionaris
mendirikan      Sekolah    Hong     Kong    bagi   Tunarungu.      Keterlibatan    pemerintah
sangatlah minim dan tidak menonjol selama periode ini.
         Setelah   PD   II,   pemerintah   Hong   Kong   mengarahkan   mayoritas   sumber
daya     masyarakat     untuk    membangun       kembali     tingkat   sosial   (society)   dan
memperluas       sistem   pendidikan     dasar   bagi   anak-anak     pengungsi    dari   Cina.
Merawat kelompok yang secara sosial tercampakkan seperti para tunawisma dan
para   anak   yatim   menjadi   tugas   utama   dari   pendidikan   khusus,   sebuah   bentuk
kesejahteraan     bagi   anak-anak     selama    periode   ini.  Sebagian    besar   lembaga-
lembaga yang melayani anak-anak penyandang cacat adalah dalam bentuk pusat-
pusat    rekreasi    dan/atau    pusat-pusat    pelatihan    di   bawah     tanggung     jawab
Departemen Kesejahteraan Sosial.
         Pada    tahun   1960,   Departemen      Pendidikan     menyiapkan      sebuah   Seksi
Sekolah Khusus. Pelatihan bagi para guru pendidikan khusus dimulai pada tahun
1961. Meskipun pemerintah Hong Kong mulai memberikan kontribusi yang lebih
bagi pengadaan layanan pendidikan khusus dengan ekpansi                 ekonomi yang luas,
namun   sumbangan   dari   organisasi   kemanusiaan   untuk   mengawali   pelbagai   jenis
layanan masih tetap menjadi sumber kunci keuangan. Sekitar tahun 1963 konsep
untuk    memiliki     suatu  pendidikan     normal    bagi   anak-anak    penyandang      cacat
dikemukakan        dalam    laporan   pertama    dari   Komisi    Pendidikan     (Marsh     dan
Sampson,      1963).    Filosopi   untuk    memadukan       anak-anak     penyandang      cacat
disebutkan kembali dalam   Laporan Tahunan             1968 dari Departemen Pendidikan

                                                                                              7 (Departemen Pendidikan, 1968). Sementara itu, Departemen Pendidikan berupaya
untuk    pertama   kalinya   memasukkan      suatu   kelas  khusus   bagi  anak-anak    yang
menyandang pendengaran parsial ke dalam sekolah umum. Pada tahun 1969 lima
sekolah     bagi   anak-anak     yang   secara    sosial  terpisahkan    dipindahkan     dari
Departemen       Kesejahteraan    Sosial   kepada    Departemen      Pendidikan.    Sekolah-
sekolah     ini  selanjutnya   diberi   nama    sekolah-sekolah     bagi   anak-anak    yang
menyimpang (maladjusted) pada tahun 1970-an.
         Seperti   di   Amerika   Serikat,   tahun   1970-an   menunjukkan  suatu   periode
ekpansi dan perkembangan yang menonjol bagi pendidikan berkebutuhan khusus
di   Hong    Kong.   Wajib    belajar  (compulsary    education)    6  (enam)    tahun  yang
dilaksanakan   pada   tahun   1971   telah   membantu   pemerintah   menyadari   perlunya
menyediakan       layanan-layanan      bagi   anak-anak     berkebutuhan      khusus,    serta
memiliki     sebuah   sistem  yang   komprehensif     untuk   mengidentifikasi    anak-anak
tersebut   karena   mereka   harus   tetap   berada   dalam   sistem   pendidikan.   Layanan
penyaringan  (screening)  bagi   indentifikasi   dini   anak-anak   berkebutuhan   khusus
mulai    pada   awal    tahun   1970-an.    Tempat-tempat      tambahan    bagi   anak-anak
penyandang cacat di sekolah khusus maupun umum disediakan. Pada tahun 1973
dan 1974, dua buah pusat asesmen didirikan di bawah Seksi Pendidikan Khusus di
Pulau   Hong  Kong  dan   di   Kowloon.   Kemudian   dalam   Kertas   Kerja  1977   (yaitu,
Rencana Program Rehabilitasi 1977) mengajukan rekomendasi yang lebih keras.
Departemen Pendidikan diminta untuk lebih berperan aktif dalam pelbagai jenis
pengadaan layanan pendidikan khusus.
        Pada    tahun     1978,   peraturan    wajib    belajar   kembali    mempengaruhi
pengadaan layanan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Pelaksanaan pendidikan
wajib 9 (sembilan) tahun yang bebas, lebih jauh menekan Departemen Pendidikan
untuk memasukkan anak-anak berkebutuhan khusus dalam perencanaan   mereka.
Pengajaran   remedial   serta   layanan   bimbingan   siswa   bagi   sekolah-sekolah   dasar
diperkenalkan pada waktu itu yang bertujuan untuk mendalami kesulitan-kesulitan
pembelajaran,     perilaku,   dan   emosional    yang   sebagian    timbul   karena   adanya
kewajiban      belajar   dengan    mana    sebagian     anak,   yang    seyogyanya     sudah
bersekolah, dipaksa untuk tetap dan berjuang demi kesuksesan mereka.
        Dua      buah    instrumen     penting    untuk    pengidentifikasian     anak-anak
berkebutuhan   khusus   telah   dikembangkan   di   awal   tahun   1980-an.   Hong   Kong
Skala Inteligensi Weschler bagi Anak-anak Hong Kong (Pemerintah Hong Kong,
1981)   dan   Uji   Matriks   Progresif   Raven   (Departemen   Pendidikan,   1986)   telah
distandarisasikan pada waktu hampir bersamaan. Tahun 1980-an merupakan suatu
periode    perkembangan      dan   konsolidasi   dari  layanan-layanan     pendukung     bagi
anak-anak   berkebutuhan   khusus   di   Hong   Kong.     Tahun   1990-an   mencerminkan
kesadaran pemerintah terhadap perlunya memperkuat perkembangan profesi para
guru    dan   menjamin     pemberian     layanan    yang   berkualitan   bagi   para   siswa,
sedangkan      awal   abad   baru   meliputi   tren-tren  (kecenderungan)      baru,  seperti
integrasi atau memadukan anak-anak berkebutuhan pendidikan khusus ke dalam
sekolah-sekolah umum (mainstream) (Departemen Pendidikan Hong Kong, 2001)
serta penggunaan teknologi (Lian, 2001).

TIMBULNYA KEBUTUHAN KHUSUS

Menurut   Dewan   Kesejahteraan   Sosial   Hong   Kong   (1995),   jumlah   keseluruhan
orang-orang penyandang cacat diperkirakan sebanyak 264.000 pada tahun 1994,

                                                                                            8                                           2                                       1di    antara   mereka    kira-kira   20%    hingga    25%     usia  sekolah.    Distribusi   dari
kecacatan      pada   mereka    meliputi    cacat/keterbelakangan       mental     tunagrahita
(44,9%), cacat fisik – tunadaksa (29,0%), sakit mental (8,8%), cacat pendengaran
– tunarungu (5,0%), kesulitan berbicara – bisu (3,6%), penyimpangan perilaku –
maladjustment  (2,5%),   dan   autis   (0,5%).   Diperkirakan   bahwa   pada   tahun   2004
jumlah   ini   akan   bertambah   hingga   310.000   orang   (Dewan   Kesejahteraan   Sosial
Hong Kong, 1995).

KELUARGA-KELUARGA YANG MEMILIKI ANAK-ANAK
BERKEBUTUHAN KHUSUS

Bilamana   memberikan   pelayanan   kepada   anak-anak   berkebutuhan   khusus,   para
profesional   harus   melihat   mereka      sebagai   bagian   dari   tingkat  sosial  (society),
masyarakat (community), dan keluarga-keluarga mereka. Para orang tua dan para
profesional     harus   membangun       suatu  kemitraan     (partnership )   sebab   orang   tua
merupakan   penjaga   dan   perawat   (caretaker)   yang   utama   serta   membantu   anak-
anak   mereka.   Para  profesional   harus   peka  terhadap   kebutuhan   seluruh   keluarga,
tidak   hanya   kebutuhan      si   anak  penyandang   cacat   saja.   Para   profesional   perlu
memiliki   pemahaman   mendasar   dari   dampak   mempunyai   seorang   anak   penyan-
dang   cacat   di   dalam   keluarga   dan   memiliki   rasa   hormat   (respect)   kepada   para
orang tua   yang mungkin tidak dilatih sebagai pendidik khusus. Pemahaman dan
rasa hormat seperti itu akan mempermudah kemitraan yang efektif antara rumah
dan sekolah. Pembahasan lebih jauh mengenai orang tua dan keluarga anak-anak
berkebutuhan khusus terdapat dalam Bagian 11.

RINGKASAN

 1.  Anak-anak   berkelainan   dan teman-teman   sebaya   mereka   yang  normal   saling
     berbagi kesamaan maupun perbedaan individual.
2.   Pendidikan     berkebutuhan      khusus    bertujuan   menyediakan      kesempatan      bagi
     anak-anak berkelainan untuk mencapai potensi penuh mereka.
3.   Hak   untuk   memperoleh   pendidikan   tidak  boleh   menjadi   hak   istimewa   bagi
     sebagian     orang.   Siswa-siswa     yang   berkebutuhan     khusus    pada   abad   ke-21
     berhak memperoleh pendidikan umum yang bebas, memadai, yang disediakan
     dalam   lingkungan   yang   paling   sedikit   keterbatasannya   (the   least   restrictive
     environment).
4.   Anak-anak       yang    bekebutuhan      khusus    meliputi     mereka    yang    memiliki
     kecacatan/keterbelakangan mental – tunagrahita (mental retardation), kesulit-
     an   berkomunikasi      (communication       disorders),    kesulitan   belajar   (learning
     disabilities), penyimpangan perilaku – tunalaras (behavioral disorders), cacat
     penglihatan – tunanetra (visual impairments), cacat pendengaran – tunarungu
     (hearing impairments), cacat fisik (physical disabilities ) dan cacat kesehatan
     (health impairments) – tunadaksa, berbakat (gifted) dan berkemampuan kreatif
     (creative   abilities),  serta   kombinasi   dari   kecacatan   ganda   dan/atau   talenta-
     talenta khusus.
5.   Di Hong Kong, pendidikan berkebutuhan khusus didefinisikan dalam konteks
     anak-anak yang memenuhi kriteria tertentu guna memperoleh layanan khusus

                                                                                                9    di    sekolah.   Kita   perlu   membandingkan        dengan     pendidikan     berkebutuhan
    khusus   di   negara-negara   yang   sudah   maju   dan   mengambil   apa   yang   sesuai
    dengan sistem pendidikan di Hong Kong.
6.  Labeling     dan   pengklasifikasian      anak-anak    berkebutuhan      khusus    cenderung
    memiliki manfaat dan kerugian. Disarankan bahwa para pembuat administrasi
    dan     kebijakan,    personel    sekolah,   dan   masyarakat      umum     memiliki     sikap
    (attitude), menggunakan teknologi dan bahasa yang sesuai dan produktif, serta
    menghindari        penghinaan-penghinaan         yang    membahayakan         (stigma)     dan
    pengaruh-pengaruh negatif dalam usaha memenuhi sasaran (goal) pendidikan
    individual siswa-siswa berkebutuhan khusus.
7.   Sejarah pendidikan berkebutuhan khusus mencakup para pionir di tahun-tahun
    awal,     pembentukan      kelompok-kelompok          orang   tua   dan   pendukung      serta
    organisasi-organisasi        profesioal,    gerakan     hak   azasi    manusia,     tindakan-
    tindakan secara hukum, dan keterlibatan pemerintah.
8.  Perkembangan pendidikan berkebutuhan khusus di Hong Kong mengikuti alur
    yang      sama     dari    usaha-usaha      yang     progresif    dari    program-program
    kemanusiaan/sumbangan            (charity   programs),     layanan    kesejahteraan    sosial,
    wajib   belajar   atau   pendidikan   wajib   (compulsary   education)   dan,   terakhir,
    kepemimpinan pemerintah yang meningkat.
9.  Estimasi   dari   timbulnya   (prevalence )  kebutuhan   khusus   adalah   perlu   guna
    perencanaan       berbasis    konsumen      dalam     alokasi   sumber     daya,   persiapan
    personel,     serta  pembangunan       program-program        dan   layanan-layanan      yang
    memadai.
10. Para   orang   tua   maupun   anggota   keluarga   lainnya   dari   si   anak   berkebutuhan
    khusus   memiliki   peran   yang   sangat   penting   di   dalam   program   pendidikan
    yang efektif dan layanan-layanan terkait. Mereka harus diterima dengan baik
    di   sekolah   dan   masyarakat     serta   diperlakukan   sebagai     mitra   sejajar   dalam
     semua   upaya   untuk   membina   sebuah   kehidupan   berkualitas   bagi   anak-anak
    mereka.

KEGIATAN

1.   Tuliskanlah definisi dari layanan-layanan pendidikan khusus pada kelompok
     kecil atau secara individual dengan menggunakan kata-kata Saudara sendiri.
     Ceriterakan      kepada    yang   lain,   bandingkan     dan   bedakan     definisi-definisi
     tersebut.
2.   Di   Hong     Kong,    seorang   anak    berusia   14   tahun   pertama    kali  didiagnosa
     memiliki     kecacatan/keterbelakangan         mental    di  usia   dini  (prasekolah).     Ia
     selanjutnya   diklasifikasikan   lagi   (reclassification)   sebagai   anak   berkesulitan
     belajar   di   Sekolah   Dasar   kelas   2.   Kemudian   ketika   ia   di   kelas   5   Sekolah
     Dasar,   ia   diklasifikasikan   lagi   sebagai   anak   autis.   Diskusikan   faktor-faktor
     yang     telah   memberikan       kontribusi    terhadap     perubahan     klasifikasi    dan
     diagnosa     tersebut    dan   cara-cara    untuk   menghindari      jenis   ketidakpastian
     (confusion) seperti ini.
3.   Susunlah      sebuah     daftar   atau   direktori   layanan-layanan       dan   dukungan-
     dukungan   bagi   para  individu   yang  membutuhkan   pendidikan   khusus   beserta
     keluarga     mereka.     Direktori    tersebut    harus    mencantumkan        nama     agen
     penyedia,   alamat,   nomor   telepon,   populasi   sasaran   (target   population),   dan
     penjelasan ringkas tentang dukungan yang disediakan.

                                                                                                104.   Setelah melakukan review singkat tentang sejarah ringkas dari perkembangan
    pendidikan   khusus   di   dunia,   diskusikan   seperti   apa   pengadaan pendidikan
     khusus pada abad 21.
5.   Bacalah cetak biru Reformasi Pendidikan dan pernyataan kebijakan dari Chief
    Executive    mengenai     cara-cara   meningkatkan     pendidikan    di  Hong   Kong.
     Diskusikan     dalam    kelompok-kelompok        kecil   bagaimana     mereka    bisa
     mengubah pengadaan layanan-layanan pendidikan khusus.

SUMBER-SUMBER

Sumber-sumber di Hong Kong

The Boys’ and Girls Club Association of Hong Kong
3 Lockhart Road, Wanchai, Hong Kong
Alamat web: http://www.bgcahk.org

Cactus Special Education Internet Resource
Alamat web: http://cactus-sped.uhome.net

Caritas Chan Chun Ha Day Activity Centre
2/F, 227-252 On Tao House, Cheung On Estate
Tsing Yi, New Territories

Caritas Chan Chun Ha Hostel
2/F, 227-252 On Tao House, Cheung On Estate
Tsing Yi, New Territories

Caritas Clinical Psychological Service
Caritas House, 2-8 Caine Road, Hong Kong

Caritas Comprehensive Intervension Programme for Autistic Children
Room 607, 42 St. Francis Street, Wanchai, Hong Kong

Caritas Dr. & Mrs. Olinto De Sousa Family Service (Shatin)
Unit 102-107, G/F, Block A, Herring Gulf House, Sha Kok Estate
Shatin, New Territories

Caritas Hong Kong
Alamat web: http://www.caritas.org.hk/
Caritas Family Service – Chai Wan
Unit 112, G/F, Lei Tsui house, Wan Tsui Estate
Chaiwan, Hong Kong

Caritas Family Aide Service – Chai Wan
Unit 112, G/F, Lei Tsui house, Wan Tsui Estate
Chaiwan, Hong Kong

Caritas Family Service – Aberdeen
1/F, 20 Tin Wan Street, Aberdeen, Hong Kong

                                                                                       11Caritas Family Service – Caine Road
1/F, Caritas House, 2 Caine Road, Hong Kong

Caritas Family Service – Fanling
Unit 217-220, Cheung Lai house, Cheung Wah Estate
Fanling, New Territories

Caritas Family Service – Kowloon
Caritas Social Centre – Kowloon
2/F, 134 Boundary Street, Kowloon

Caritas Family Service – Ngau Tau Kok
G/F, 1 On Tak Road, Ngau Tau Kok, Kowloon

Caritas Family Service – Tsuen Wan
No. 9, Shing Mun Road
Tsuen Wan, New Territories

Caritas Family Service – Tuen Mun (North)
Unit 32, G/F, Hing Shing House, Tai Hing Estate
Tuen Mun, New Territories

Caritas Family Service – Tuen Mun (South)
Unit 11-16, G/F, High Block, Wu Boon House,
Wu King Estate, Tuen Mun, New Territories

Caritas Family Service – Tung Tau
12, G/F, Wing Tung House, Tung Tau Estate, Kowloon

Caritas Family Service – Yuen Long
4/F, Tin Shui Community Centre, Tin Shui Estate
Tin Shui Wai, Yuen Long, New Territories

Caritas Lok Fung Day Activity Centre
G/F, Wah Lai House, 8 Wah Kwai Estate, Hong Kong

Caritas Lok Hang Workshop
5/F, Caritas Social Centre – Yaumatei, 4 Cliff Road
Yaumatei, Kowloon

Caritas Lok Heep Club – Hong Kong Centre
130 Hennessy Road, 12/F, Southern Centre
Wanchai, Hong Kong

Caritas Lok Heep Club – Kowloon Centre
G/F, Yiu Tong House, Tung Tau Estate, Kowloon

Caritas Lok Him Day Activity Centre
Podium M/F, Verbena Heights, 8 Mau Tai Road
Tseung Kwan O, Sai Kung, New Territories

                                                                               12Caritas Lok Hing Child Care Centre
No. 40-45, G/F, Hing Yiu House, Tai Hing Estate
Tune Mun, New Territories

Caritas Lok Kim Workshop
G/F, On Chiu House, Cheung On Estate
Tsing Yi, New Territories

Caritas Lok King Hostel
Podium G/F, Verbena Heights, 8 Mau Tai Road
Tseung Kwan O, Sai Kung, New Territories

Caritas Lok Miu Early Education & Training Centre
1/F, Causeway Bay Community Centre, 7 Fook Yun Road
North Point, Hong Kong

Caritas Lok Wo Hostel
M/F, Whampoa Plaza, Whampoa Garden, 7 Tak On Street
Hunghom, Kowloon

Caritas Lok Shing Hostel
G/F, Wah Hau House, Wah Kwai Estate, Hong Kong

Caritas Lok Wo Hostel
1/F, On Chiu House, Cheung On Estate
Tsing Yi, New Territories

Caritas Lok Yau Early Education & Training Centre
Room 12, Caritas House, 2 Caine Road, Hong Kong

Caritas Lok Yin Day Activity Centre
M/F, Whampoa Plaza, Whampoa Garden,
7 Tak On Street, Hunghom, Kowloon

Caritas Morning Star Hostel
58-61, Kai Yue House, Kai Yip Estate,
Kowloon Bay, Kowloon

Caritas Occational Child Care Services for Disabled Pre-Schoolers
1/F, Causeway Bay Community Centre, 7 Fook Yum Road
North Point, Hong Kong

Caritas Occational Child Care Services for Disabled Pre-Schoolers
Room 102, Caritas House, 2 Caine Road, Hong Kong

Caritas Parents Resource Centre
1/F, Causeway Bay Community Centre, 7 Fook Yum Road
North Point, Hong Kong

                                                                              13Caritas Parents Resource Centre
Room 101, Caritas House, 2 Caine Road, Hong Kong

Caritas Pre-School Education Material Reference Centre
54 Pokfulam Road, Hong Kong

Hong Kong Society for Rehabilitation Community Rehabilitatio Network
Alamat web: http://www.renet.org/crn/

Caritas Pui Man House Social Centre – Ngau Tau Kok
1 On Tak Road, Ngau Tau Kok, Kowloon

Caritas Rotary Women & Family Service Centre – Shaukiwan
Flat 1, 1/F, Lee Ga Building, 131 San Wan Ho Street
Shaukiwan, Hong Kong

Caritas Social Centre – Kowloon
2/F, 134 Boundary Street, Kowloon

Caritas Social Centre – Kowloon
Wing C, G/F, Yun Tin House, Pak Tin Estate, Sham Shui Po, Kowloon

Caritas Supported Employment Service
5/F, Caritas Social Centre – Yaumatei, 4 Cliff Road, Yaumatei, Kowloon

Caritas Wong Yiu Nam Centre
Tseung Kwan O Post Office, P.O.Box 65274, Kowloon

Equal Opportunity Commision (EOC)
Unit 2002, 20/F, Office Tower, Convention Plaza
1 Harbour Road, Wanchai, Hong Kong
Tel.:852-2511-8211 Fax:852-2511-8142
E-mail: eoc@eoc.gov.hk
Alamat web: http://www.eoc.org.hk/

Haven of Hope Sunnyside School
Alamat web: http://hoh.hkcampus.net/

Hired Vehicle Service for Mentally Handicapped Persons
M/F, Whampoa Plaza, Whampoa Garden, 7 Tak On Street
Hunghom, Kowloon

Hong Kong Education Department Internet Resource
Alamat web: http://www.ed.gov.hk/

Hong Kong Institute of Education, Department of Special Education
10 Lo Ping Road, Tai Po, New Territories

Hong Kong Red Cross
43 Hartcourt Road, Wanchai, Hong Kong

                                                                             14Alamat web: http://www.redcross.org.hk/index.html

Po Leung Kuk
Alamat web: http://www.poleungkuk.org.hk/index_e.htm

Special Education Resource Center, Hong Kong Education Department

Tel.:852-2760-6201 atau 852-2760-6202 Fax:852-2761-0976
E-mail:serc@ed.gov.hk
Alamat web: http://serc.ed.gov.hk/

Special Education Society of Hong Kong

Tel.: 852-2320-3452
Alamat web: http://www.seshk.org.hk/

The Spastics Association of Hong Kong
Room 603, Duke of Windsor Social Service Bldg
15 Hennessy Road, Wanchai, Hong Kong
Alamat web: http://www.spastic.org.hk/

The University of Hong Kong, Department of Education
Pokfulam Road, Hong Kong

Sumber-sumber di Taiwan

ArBao’s Paradise
E-mail:spe.aide.gov.tw
Alamat web: http://spe.aide.gov.tw/image/index.asp

Tel.:886-2-23566051-2
E-mail:mail@mail.moe.gov.te
Alamat web: http://speedu.tkblid.tku.edu.tw/

Special Education Association of Republic of China

Tel.:886-02-2392-2784
Alamat web: http://searoc.aide.gov.tw/index.htm

Sumber-sumber Internasional

The Accrediation Council on Services for People with Disabilities
8100 Profession Place, Suite 204, Landover, MD 20785-225 U.S.A.

American Network of Community Options and Resources
4200 Evergreen Lane, Suite 305, Annandale, VA 22003 U.S.A.

                                                                               15Alamat web: http://www.redcross.org.hk/index.html

Po Leung Kuk
Alamat web: http://www.poleungkuk.org.hk/index_e.htm

Special Education Resource Center, Hong Kong Education Department

Tel.:852-2760-6201 atau 852-2760-6202 Fax:852-2761-0976
E-mail:serc@ed.gov.hk
Alamat web: http://serc.ed.gov.hk/

Special Education Society of Hong Kong

Tel.: 852-2320-3452
Alamat web: http://www.seshk.org.hk/

The Spastics Association of Hong Kong
Room 603, Duke of Windsor Social Service Bldg
15 Hennessy Road, Wanchai, Hong Kong
Alamat web: http://www.spastic.org.hk/

The University of Hong Kong, Department of Education
Pokfulam Road, Hong Kong

Sumber-sumber di Taiwan

ArBao’s Paradise
E-mail:spe.aide.gov.tw
Alamat web: http://spe.aide.gov.tw/image/index.asp

Tel.:886-2-23566051-2
E-mail:mail@mail.moe.gov.te
Alamat web: http://speedu.tkblid.tku.edu.tw/

Special Education Association of Republic of China

Tel.:886-02-2392-2784
Alamat web: http://searoc.aide.gov.tw/index.htm

Sumber-sumber Internasional

The Accrediation Council on Services for People with Disabilities
8100 Profession Place, Suite 204, Landover, MD 20785-225 U.S.A.

American Network of Community Options and Resources
4200 Evergreen Lane, Suite 305, Annandale, VA 22003 U.S.A.

                                                                               15U.S. Department of Education
400 Maryland Avenue, SW, Washington, DC 20202-0498 U.S.A.

University of Kansas, Beach Center on Families and Disability
Bureau of Child Research, 4138 Haword Hall, Lawrence, KS 66045 U.S.A.

REFERENSI

34 C.F.R. (Code of Federal Regulation) Section 300.17
Aiello,    B.  (1976),   Especially   for  special   educators:   A   sense   of  our  own    history,
       Exceptional children. 42, 244-252.
Ballard, J., Ramirez, B.A., & Weintraub, FJ. (1982). Special Education in America: Its
       legal and governmental foundation. Reston, VA: Council for Exceptional Children.
Board   of   Education.   (1996).  Report   of   the   sub-committee   on   special   education.  Hong
       Kong: Government Printer.
Education   Department.   (1968).  Education   Department:   Annual   Reports.  Hong   Kong:
       Government Printer.
Education     Department.     (1986).  Hong     Kong    Supplement     to  Guide   to  the  Standard
       Progressive Matrices. Hong Kong: Government Printer.
Hardman, M.L., Drew, CJ., & Egan, M.W. (1996). Human exceptionality: Society, school
       and family. (5th ed.), Needham Heights, MA: Allyn & Bacon.
Hong  Kong  Council   of  Social   Welfare.   (1995, May).  White   paper   on rehabilitation:   A
       better tomorrow for all.  [Online] http://swik.socialnet.org.hk/swik1/C400/c402/hk/
       Erehab.htm#C4C37
Hong     Kong    Education     Department.     (2001,   September).   Implementation       guide   for
       integrated education. Hong Kong: HKED.
Hong Kong Government. (1981). Hong Kong –  Wechsler Intelligence Scale for Children:
       Manual. Hong Kong: Government Printer.
Kanner, L. (1964). A history of  the care and study of the mentally retarded. Springfield,
       IL: Thomas.
Lian,   M-G.J.   (1999).  Getting   to   know   individuals   with   physical   disabilities   and   health
       impairments. Normal, IL: University Communication, Illinois State University.
Lian,   M-G.J.    (2001,   July  21). Use    of  technology   for  students   with  severe   cognitive
       disabilities.  Paper   presented   at   the   Hong   Kong   School   Leadership   Network-SEG
       Cross-school Collaboration Project, Hong Kong Institute of Education. Hong Kong.
Marsh, R.M. & Sampson, J.R. (1963). Report of the Education Commission. Hong Kong:
       Government Printer.
Screerenberger, R.C. (1983). A history of mental retardation. Baltimore: Brookes.
Smith, D.D. & Luckasson, R. (1995). Introduction to special education: Teaching in an
       age challenge    (2nd  ed.). Needham Heights, MA: Allyn & Bacon.

United    Nations    Educational,    Scientific   and  Cultural   Organization     and   Ministry   of
       Education and Science. (1994, June). Final Report. World Conference on Special
       Needs Education: Access and Quality. Salamanca, Spain.
Wolfensberger,       W.    (1972).   Citizan    Advocacy      for   handicapped,     impaired,     and
       disadvantaged: An interview. [DHEW Publication No. OS 72-42] Washington, DC:
       Government Printing Services.
Yung, K.K. (1997). Special Education in Hong Kong: Is history repeating itself? Special
       Education Forum. I (1), 1-7.

                                                                                                    17

No comments:

Post a Comment