SURVEI PROFIL KONDISI FISIK PEMAIN SEPAKBOLA
PORPROV KABUPATEN SLEMAN TAHUN 2011
Oleh:
Fathan Nurcahyo
POR-PJKR FIK UNY
Email: fathan_nurcahyo@uny.ac.id
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui seberapa tinggi profil kondisi fisik pemain sepakbola Porprov
Kabupaten Sleman tahun 2011.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif
kuantitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei
dengan teknik tes dan pengukuran. Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh
pemain sepakbola Porprov Sleman tahun 2011. Adapun jumlah pemain sepakbola
Porprov Sleman pada tahun 2011 ini adalah 25 orang pemain. Instrumen yang
digunakan untuk melakukan pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan
instrumen dari tes A.C.S.P.F.T untuk taruna dan mahasiswa atau yang sederajat
yang diterbitkan oleh Depdikbud dan Puskesjasrek tahun 1977 yang telah
dimodifikasi dan diberi tambahan beberapa item tes. Adapun tes yang
dimodifikasi tersebut memiliki 10 item tes yang terdiri dari tes kecepatan
(dengan tes lari 35 meter, dari http://www.brianmac.co.uk/speedtest.htm), tes daya ledak (dengan tes lompat jauh
tanpa awalan, dari Depdikbud, 1977), tes kekuatan (kekuatan otot perut dengan
tes sit-up dan kekuatan lengan tangan dengan tes pull-up, dari Depdikbud,
1977), tes kelincahan (dengan tes illinois
agility run test, milik Davis B., 2000, dalam http://www.scribd.com/doc/45984412/kelincahan), tes kelentukan (dengan tes forward flexion of trunk, dari
Depdikbud, 1977), tes daya tahan jantung paru-paru (dengan tes Balke, dalam http://www.brianmac.co.uk/vo2max.htm#vo2), tes keseimbangan (dengan tes strok stand, Johnson and Nelson: 1986 yang dikutip oleh David K. Miller, 2002), tes koordinasi (dengan tes koordinasi
tangan, mata, dan kaki, milik Sridadi, 2010), tes aksi-reaksi (dengan tes
aksi-reaksi, milik Panggung Sutopo, 2009). Teknik analisis data dalam
penelitian ini menggunakan teknik analisis statistik deskriptif kuantitatif
dengan persentase, serta menggunakan 5 kategori yaitu baik sekali, baik,
sedang, kurang, dan kurang sekali.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa profil kondisi fisik pemain sepakbola Porprov Sleman Tahun 2011 secara rinci adalah sebagai berikut: kategori
kurang sekali sebanyak 0 orang (0,00 %), kategori kurang
sebanyak 0 orang (0,00 %), kategori sedang sebanyak
8 orang (32,00 %), kategori baik
sebanyak 17 orang (68,00 %), dan kategori baik sekali sebanyak 0 orang atau (0,00 %). Berdasarkan
hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar kondisi fisik pemain
sepakbola Porprov Sleman Tahun 2011 masuk pada kategori ”baik”.
Kata Kunci: Kondisi Fisik, Pemain Sepakbola
PENDAHULUAN
Sepakbola merupakan cabang olahraga yang sudah memasyarakat dan sebagai
suatu hiburan bahkan suatu permainan untuk peningkatan kondisi tubuh atau
sebagai prestasi untuk membela desa, daerah, instansi atau negara. Permainan
sepakbola adalah suatu permainan yang menuntut adanya teknik dasar atau taktik
dan strategi yang baik, kondisi fisik yang prima, mental bertanding dan kerjasama
yang baik dan rapi di antara lini.
Pada kenyataanya saat ini dalam dunia olahraga secara umum khususnya di
Negara Indonesia banyak klub-klub olahraga tersebut belum dapat mengelola
asset-asset yang dimilikinya dengan baik antara lain karena disebabkan oleh
beberapa hal, misalnya: satu, tidak ada atau terbatasannya jumlah orang atau
tenaga pengelola yang berpengalaman (pengelola, pelatih, dan stakeholder) dalam mengembangkan bisnis
dalam dunia olahraga khususnya sepakbola. Dua, tidak ada atau terbatasannya
jumlah dan sumber modal atau keuangan untuk kemajuan dan pengembangan dunia
olahraga khususnya sepakbola. Tiga,
tidak ada atau terbatasnya jumlah alat dan sarana prasarana yang akan dikelola
dan dikembangkan untuk kemajuan dalam dunia olahraga khususnya sepakbola.
Misalnya: kesulitan mencari lapangan, bola sepak, sepatu sepakbola atau
perlengkapan lain untuk kegiatan latihan sepakbola. Empat, adanya gambaran
tentang masa depan yang kurang menyenangkan bagi atlet, yang mana setelah
pensiun atau tidak menjadi atlet lagi sudah tidak dihargai oleh orang lain atau
organisasi. Misalnya: apabila terjadi kecelakaan atau cedera fatal atau setelah
usia prestasinya tidak cemerlang lagi. Selanjutnya yang kelima adalah tidak ada
atau terbatasannya perhatian dan pembinaan dari pemerintah atau masyarakat
terhadap penyelenggaraan kejuaraan atau turnamen olahraga kelompok umur
(khususnya usia dini) dalam sepakbola. Misalnya: adanya orangtua yang over protective (perlindungan yang
berlebihan/terlalu mengekang aktivitas anak) terhadap anaknya ketika
beraktivitas (terutama aktivitas olahraga body
contact) penyelenggaraan kompetisi yang tidak teratur dapat menyebabkan
puncak prestasi anak menjadi tidak bertahan lama atau tidak bisa mencapai
puncak prestasi tertingginya, (ketika masih anak-anak berprestasi baik namun
setelah remaja atau dewasa tidak dapat berprestasi lagi).
Keberhasilan atau prestasi akan dapat diraih apabila latihan dilakukan secara
rutin, terprogram dan sesuai dengan prinsip-prinsip latihan. Selain kemampuan
teknik dasar yang harus dikuasai secara individu, kondisi fisik bagi pemain
sepakbola juga menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian khusus dari para
pelatih untuk dibina, dilatih dan dikembangkan dengan baik. Mochamad Sajoto
(1988: 57), menyatakan dalam pengembangan teknik, mental dan strategi bermain,
fisik merupakan unsur penting yang menjadi dasar/fondasi setiap pemain agar
selalu dalam kondisi prima. Kondisi fisik merupakan satu kesatuan yang utuh
dari komponen-komponen yang tidak dapat dipisahkan, baik dalam pemeliharaan maupun
upaya untuk peningkatkannya. Pemain sepakbola dalam bertahan maupun menyerang
kadang-kadang harus menghadapi benturan yang keras keras (body contact), ataupun
harus bergerak, berlari dengan kecepatan penuh ataupun kelincahan/berkelit dalam
menghindari lawan, sampai bergerak atau berhenti dengan tiba-tiba untuk
menguasai dan memainkan bola (menendang, menggiring, menyundul, menangkap,
melempar, dll). Pemain sepakbola diwajibkan memiliki kondisi fisik yang baik
karena dituntut dapat bermain atau bertanding selama 2 babak (2x45 menit)
terkadang jika pertandingan tersebut menggunakan sistem gugur juga harus
menjalani babak tambahan waktu selama 2x15 menit.
Kondisi fisik dan penguasaan teknik dasar yang baik dapat memberikan
sumbangan yang cukup besar dalam mencapai kecakapan bermain atau prestasi sepakbola
yang lebih baik. Kondisi fisik yang baik tanpa didukung dengan penguasaan
teknik bermain, taktik yang baik serta mental yang baik, maka prestasi yang
akan dicapai tidak dapat berjalan seimbang. Demikian pula sebaliknya memiliki
kondisi fisik yang jelek tetapi teknik, taktik dan mental yang baik juga kurang
mendukung untuk pencapaian yang maksimal. Hubungan kondisi fisik dan teknik
menurut Sardjono, dkk (1977: 1-2), seorang olahragawan yang mempunyai teknik
yang baik, tetapi tidak pernah berlatih sehingga kondisi fisiknya jelek sekali
tidak akan dapat menggunakan teknik dasarnya secara sempurna, karena pemain
tersebut akan lekas kepayahan atau kelelahan. Untuk itu perlu pembinaan fisik
dan teknik dasar yang baik, termasuk pada cabang olahraga permainan sepakbola.
Proses atau kegiatan latihan dari unsur-unsur kondisi fisik menempati
posisi terdepan untuk dilatih, yang berlanjut ke latihan teknik, taktik, mental
dan kematangan bertanding dalam pencapaian prestasi. Lebih lanjut Suharno HP
(1985: 24), menyatakan bahwa pembinaan fisik, teknik, taktik, mental dan
kematangan bertanding merupakan sasaran latihan secara keseluruhan, di mana
aspek yang satu tidak dapat ditinggalkan dalam program latihan yang
berkesinambungan sepanjang tahun. Latihan kondisi fisik secara teratur dan
berkesinambungan dapat memberikan sumbangan yang besar bagi peningkatan
kemampuan pengembangan teknik dalam pertandingan.
Unsur-unsur kondisi fisik yang perlu dilatih dan ditingkatkan sesuai
dengan cabang olahraga masing-masing atau sesuai dengan kebutuhannya dalam
permainan maupun pertandingan. Dalam peningkatan kondisi fisik maka perlu
dilatih dengan beberapa unsur latihan fisik serta akan lebih baik lagi apabila
ditambah dengan latihan beban. Menurut Suharno (1985: 24), komponen fisik secara
umum meliputi kekuatan, daya tahan, kecepatan, kelincahan, dan kelentukan, sedangkan
komponen fisik secara khusus antara lain stamina, power, reaksi, koordinasi, dan keseimbangan. Dalam cabang olahraga
sepakbola kondisi fisik yang dibutuhkan sangat komplek, antara lain meliputi:
daya tahan, kecepatan, kelincahan, kekuatan, kelentukan, keseimbangan, daya
ledak, dan koordinasi. Karena pentingnya kondisi fisik tersebut dalam permainan
sepakbola maka perlu mendapat porsi dan perhatian khusus dari pelatih atau pembina
tim sepakbola.
Salah satu tim sepakbola yang
dipersiapkan dan dibina untuk menghadapi event resmi tingkat Provinsi untuk
mewakili tingkat Kabupaten adalah tim sepakbola Porprov Sleman. Pemain Porprov
Sleman ini berasal dari klub-klub lokal dan sekolah sepakbola (SSB) yang
berdomisili di Kabupaten Sleman dan berhasil lolos seleksi yang dilakukan oleh
para pemandu bakat (talents scouting)
dan pelatih yang berlisensi. Banyak pemain-pemain binaan Kabupaten Sleman
berhasil masuk dalam kompetisi nasional yang diselenggarakan oleh PSSI bahkan
adapula yang masuk dalam sekuat Timnas Garuda Indonesia, seperti T. A. Musafri
(2009-2010) di bawah asuhan pelatih Beni Dollo dan Slamet Riyadi (2011) di
bawah asuhan pelatih Alfred Riedl. Dalam event Porprov yang diselenggarakan 2
tahun sekali ini prestasi tim Porprov Sleman dari tahun ke tahun tidak stabil
tetapi juga tidak terlalu buruk, hal ini salah satunya karena disebabkan oleh
faktor kondisi fisik yang kurang mendapat perhatian baik dari para pengurus dan
pelatih. Adapun data mengenai prestasi tim sepakbola Porprov Sleman selama 5
pekan terakhir ini adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Prestasi Tim Sepakbola Porprov Sleman dalam 5 Pekan Terakhir
|
No.
|
Nama Event
Olahraga
|
Tahun
|
Pelatih
|
Tuan Rumah
|
Prestasi
|
|
1.
|
PORDA
|
2003
|
M. Djazuli
|
Gunung Kidul
|
JUARA II
|
|
2.
|
PORDA
|
2005
|
M. Djazuli
|
Kulonprogro
|
JUARA II
|
|
3.
|
PORDA
|
2007
|
Balet Sugeng
W.
|
Bantul
|
JUARA I
|
|
4.
|
PORPROV
|
2009
|
Balet Sugeng
W.
|
Kodya Jogja
|
–
|
|
5.
|
PORPROV
|
2011
|
Roy Gesper
|
Sleman
|
?
|
Sumber: Sekretaris KONI Sleman (Suparlan)
2011
Pada pembentukan tim sepakbola
Porprov Sleman ini, pemain benar-benar diseleksi dengan cermat oleh para
pelatih dan pemandu bakat yang berasal dari Kabupaten Sleman. Pelatih tim
sepakbola Porprov Sleman tahun 2011 yang ditunjuk untuk menangani tim ini pun
juga sudah benar–benar dimusyawarahkan berdasarkan hasil rapat pengurus cabang
(pengcab) PSSI Kabupaten Sleman dan memenuhi kualifikasi untuk menjadi pelatih
utama. Berdasarkan beberapa kandidat yang ada, akhirnya pengurus Pengcab PSSI
Kabupaten Sleman memilih Roy Gesper sebagai pelatih utama, selain banyak pengalaman
juga memiliki lisensi melatih. Namun berdasarkan hasil observasi dan wawancara
yang dilakukan oleh peneliti kepada beberapa pemain, diperoleh data informasi
yaitu pada saat berlatih sering ada atlet/pemain yang mengalami cedera otot
atau kram, ada yang mengeluh program latihan terlalu berat, adapula pemain yang
sampai muntah-muntah pada saat latihan, atau minta ijin istirahat karena sudah
tidak kuat mengikuti program latihan. Namun disisi lain peneliti juga melihat
ada beberapa pemain yang memiliki kebiasaan kurang baik seperti merokok,
berdasarkan hasil wawancara dengan pemain lain adapula yang memiliki kebiasaan
sering begadang sampai larut malam. Berdasarkan hasil data tersebut maka dapat
diasumsikan bahwa kebiasaan buruk, metode melatih dan program latihan yang
diberikan oleh pelatih akan berpengaruh terhadap kondisi fisik yang dimiliki
oleh setiap pemain.
Di sisi lain pada tahun 2011
ini Kabupaten Sleman ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggara event olahraga
Porprov. Karena pada tahun 2011 ini Kabupaten Sleman sebagai tuan rumah
penyelenggara event olahraga Porprov maka tidaklah mengherankan apabila
pengurus KONI Kabupaten Sleman beserta jajarannya mentargetkan Kabupaten Sleman
sebagai juara umum, termasuk merebut emas atau juara satu dalam cabang olahraga
sepakbola. Target yang terlalu tinggi kadang tidak serta merta diikuti oleh
persiapan yang baik misalnya dari segi pembiayaan, sarana prasarana pendukung,
waktu persiapan/latihan, pemilihan pelatih serta seleksi pemain, dan lain-lain.
Selain menjadikan motivasi yang tinggi, bonus dan target sebagai juara umum
juga menjadikan beban atau ketegangan (stress)
yang lebih tinggi bagi setiap pemain yang akan bertanding. Setiap terjadi
kegagalan maka persiapan yang terlalu mepet selalu dijadikan alasan atau
kambing hitam oleh para pengurus atau pelatih sepakbola Porprov Kabupaten
Sleman.
Sampai sejauh ini persiapan
tim sepakbola Porprov Sleman masih belum terlihat baik, hal ini terbukti dengan
masih adanya bongkar pasang materi atau komposisi pemain dan program latihan
yang belum konsisten dan bahkan setiap latihan atau ujicoba latih tanding
dengan tim lain hampir dipastikan selalu ada pemain yang mengalami cedera otot
atau kram. Berdasarkan beberapa penjelasan tersebut di atas, maka peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian mengenai kondisi fisik pada pemain sepakbola
tim Porprov Kabupaten Sleman tahun 2011.
KAJIAN PUSTAKA
Hakikat Kondisi Fisik
Kondisi fisik
merupakan unsur yang penting dan menjadi dasar dalam mengernbangkan teknik,
taktik, maupun strategi dalam bermain sepakbola. Menurut Moch. Sajoto (1988:
57), kondisi fisik adalah salah satu prasyarat yang sangat diperlukan dalam
usaha peningkatan prestasi seorang atlet, bahkan sebagai landasan awal titik
tolak pada suatu olahraga prestasi. Status kondisi fisik dapat mencapai titik
optimal jika latihan dimulai sejak usia dini dan dilakukan secara terus menerus
dan berkelanjutan dengan berpedoman pada prinsip-prinsip dasar latihan yang
baik dan benar. Menurut Pendapat Djoko Pekik Irianto (2000: 10-11), secara umum
prinsip-prinsip latihan untuk menjaga atau meningkatkan status kebugaran
jasmani ataupun kondisi fisik atlet antara lain meliputi: (a) beban lebih (overload), (b) kekhususan (specifity), (c) kembali asal (riversible), (d) variasi (variative), dan (e) perseorangan (individual).
Faktor-faktor
yang mempengaruhi kesegaran jasmani juga akan mempengaruhi kondisi fisik
seseorang. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kesegaran jasmani seseorang
menurut pendapat yang disampaikan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia
(1994: 8-10), antara lain adalah: umur/usia, jenis kelamin, genetika/keturunan,
status kesehatan, status gizi/nutrisi, kegiatan fisik, lingkungan (suhu/iklim)
dan kebiasaan yang kurang baik (merokok, miras, dll). Status kondisi fisik pemain dapat diketahui dengan cara penilaian yang
berbentuk tes kemampuan. Tes ini dapat dilakukan di dalam laboratorium ataupun
di lapangan. Kondisi fisik adalah satu kesatuan utuh dari komponen-komponen
yang tidak dapat dipisahkan begitu saja, baik peningkatan maupun
pemeliharaannya. Adapun menurut pendapat Moch. Sajoto (1988: 57-59), terdapat 10
komponen kondisi fisik yaitu meliputi:
a. Kekuatan (strength), adalah
komponen kondisi fisik seseorang tentang kemampuannya dalam mempergunakan otot
untuk menerima beban sewaktu bekerja.
b. Daya tahan (Endurance)
Daya
tahan (endurance) dibedakan menjadi
dua golongan, yaitu
1)
Daya tahan otot setempat (local endurance) yaitu kemampuan seseorang dalam mempergunakan
suatu kelompok ototnya untuk berkontraksi secara terus-menerus dalam waktu
relatif cukup lama dengan beban tertentu.
2)
Daya tahan umum (cardiorespiratory
endurance) yaitu kemampuan seseorang dalam mempergunakan sistem jantung,
pernafasan dan peredaran darahnya secara efektif dan efisien dalam menjalankan
kerja terus-menerus.
c.
Daya Ledak Otot (Muscular Power) adalah
kemampuan seseorang untuk melakukan kekuatan maksimum dengan usaha yang
dikerahkannya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Dalam hal ini dapat
dikemukakan bahwa daya ledak otot atau power = kekuatan atau Force X kecepatan
atau Velocity (P = F X T).
d.
Kecepatan (Speed)
adalah kemampuan seseorang dalam melakukan gerakan berkesinambungan, dalam
bentuk yang sama dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
e.
Kelentukan (Flexibility)
adalah keefektifan seseorang dalam penyesuaian dirinya untuk melakukan segala
aktivitas tubuh dengan penguluran seluas-luasnya, terutama otot-otot,
ligamen-ligamen di sekitar persendian.
f.
Keseimbangan
(Balance) adalah kemampuan seseorang mengendalikan organ-organ syaraf
ototnya selama melakukan gerak yang cepat dengan perubahan letak titik-titik
berat badan yang cepat pula, baik dalam keadaan statis maupun dalam gerak
dinamis.
g.
Koordinasi (Coordination)
adalah kemampuan seseorang dalam mengintegrasikan gerakan yang berbeda ke dalam
satu pola tunggal secara efektif.
h.
Kelincahan (Agility)
adalah kemampuan seseorang dalam merubah arah, dalam posisi-posisi di arena
tertentu. Seseorang yang mampu merubah satu posisi kesuatu posisi yang berbeda,
dengan kecepatan tinggi dan kordinasi gerak yang baik, berarti kelincahannya
cukup tinggi.
i.
Ketepatan (Accuracy)
adalah kemampuan seseorang dalam mengendalikan gerak-gerak bebas terhadap suatu
sasaran.
j.
Reaksi (Reaction)
adalah kemampuan seseorang untuk bertindak secepatnya dalarn menanggapi
rangsangan-rangsangan yang datang lewat indera, syaraf atau feeling lainnya.
Apabila membicarakan
tes kesegaran jasmani, ada organisasi internasional yang sasarannya adalah
menyusun dan membakukan (men-standar-kan) berbagai bentuk tes kesegaran
jasmani. Organisasi tersebut adalah International
Committee on the Standardization of Physical Fitness Test (I.C.S.P.F.T.). Menurut Pusat Kesegaran
Jasmani dan Rekreasi, Depdikbud (1977: 1-2), I.C.S.P.F.T telah menyusun instrumen tes yang terdiri dari 7 jenis
(item) tes. Item atau jenis-jenis tes tersebut diperuntukkan bagi putra dan
putri yang berusia mahasiswa, taruna atau yang setingkat. Adapun 7 jenis atau
item tes tersebut adalah: 1) Lari cepat 50 meter (dash/sprint), 2) Lompat jauh tanpa awalan (standing broad jump), 3) Lari jauh (distance run), dengan jarak 1000 meter, 4) Bergantung angkat badan
(pull-up), 5) Lari hilir-mudik (shuttle run) 4 x 10 meter, 6) Baring
duduk (sit-up) selama 30 detik, dan
7) Lentuk togok ke muka (forward flexion
of trunk).
Hakikat Permainan Sepakbola
Menurut pendapat yang dikemukakan
oleh Wade (1978: 3) menjelaskan bahwa sepakbola adalah:
Soccer is a game played between two team.
When one time has the ball they try to score by dribbling it, running with it,
kicking it, heading it, and passing it with from one player to the other so
that finally the ball is played through, past or over opposing players to score
a goal. The team which does not have the ball tries to prevent shots towards
the goal which it is defending by tackling for the ball, blocking shots,
marking dangerous opponents, and by kicking, heading, dribbling, or passing the
ball away from danger areas near to goal. At the highest level, the game is
played by eleven players in a team.
Menurut pendapat lain dari
Sukintaka (1982: 70) permainan sepakbola adalah permainan yang dimainkan oleh
dua regu yang mana masing-masing regu terdiri dari 11 orang pemain.
Masing-masing regu berusaha memasukan bola sebanyak-banyaknya ke gawang lawan
dan mempertahankan gawangnya sendiri untuk tidak kemasukan. Regu yang lebih
banyak membuat goal dinyatakan sebagai pemenang dalam pertandingan. Untuk
memasukan bola ke gawang lawan dan mempertahankan gawangnya sendiri, diperlukan
kerjasama dan tolong menolong dalam satu regu. Agar permainan itu dapat berdaya
guna dan berhasil guna, maka tiap pemain dalam satu regu diberi
kewajiban-kewajiban sendiri. Kewajiban-kewajiban itu dapat dibagi dalam tiga
kelompok besar, yakni barisan penyerang, barisan penghubung dan barisan
penahan. Biasanya permainan sepakbola dimainkan dalam dua babak dengan diberi
waktu istirahat di antara kedua babak itu. Isi dari permainan sepakbola itu
sendiri adalah kerjasama, berpikir, bergerak, memutuskan dan bertanggung jawab.
Kondisi Fisik Dalam Cabang Olahraga Sepakbola
Menurut Hurlock (1990) seperti yang dikutip oleh M. Furqon H. (2002: 5–6)
dijelaskan lebih lanjut bahwa secara khusus dalam cabang olahraga permainan
sepakbola untuk anak usia dini yang dimaksudkan adalah anak yang berumur antara
10–12 tahun, pada usia inilah sebaiknya anak usia dini mulai dikenalkan pada
olahraga permainan sepakbola selanjutnya masuk pada tahap spesialisai saat usia
11–13 tahun dan diharapkan dapat mencapai puncak prestasinya pada saat berusia
18–24 tahun.
Tabel 2. Data Tabel Usia Dini Berolahraga, Usia Spesialisasi, dan
Usia Pencapaian Prestasi Puncak
|
No.
|
Cabang Olahraga
|
Usia Dini Berolahraga (Thn)
|
Usia Spesialisasi
(Thn)
|
Usia Pencapaian Prestasi Puncak (Thn)
|
|
1.
|
Atletik
|
10-12
|
13-14
|
18-23
|
|
2.
|
Basket
|
8-9
|
10-12
|
20-25
|
|
3.
|
Tinju
|
13-14
|
15-16
|
20-25
|
|
4.
|
Renang
|
3-7
|
10-12
|
16-18
|
|
5.
|
Sepakbola
|
10-12
|
11-13
|
18-24
|
|
6.
|
Senam
|
6-7
|
10-11
|
14-18
|
|
7.
|
Bolavoli
|
11-12
|
14-15
|
20-25
|
Sumber : Pembinaan Olahraga Usia Dini (M. Furqon,
2002: 6)
Menurut teori piramida emas
yang dikemukakan oleh pendapat M. Furqon (2002: 5), bahwa di dalam teori
peramida emas tersebut terdapat tiga tahapan yang ideal di dalam melakukan
pembinaan olahraga prestasi yaitu: (1) pemassalan olahraga, (2) pembibitan atlet,
dan (3) pembinaan prestasi puncak. Berikut ini dapat dilihat gambar tentang
teori piramida pembinaan prestasi olahraga:


Gambar 1. Pembinaan Prestasi Olahraga Ditinjau dari Teori Piramida, Usia
Berlatih, Status Atlet dan Tingkat Pertumbuhan serta Perkembangan Atlet.
Sumber: M. Furqon, (2002: 5)
Menurut pendapat
Adam Maulana (2007: 57), bahwa dalam masing-masing cabang olahraga terdapat
unsur-unsur kebugaran jasmani yang dominan dan sangat dibutuhkan dalam
spesifikasi cabang olahraga tersebut. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel di
bawah ini:
Tabel 3. Komponen Kondisi Fisik untuk
Masing-Masing Cabang Olahraga
|
NO.
|
CABANG
OLAHRAGA
|
BAHU
|
PUNGGUNG
|
DADA
|
LENGAN
|
TUNGKAI
|
|
1.
|
Bulutangkis
|
1,2,3
|
1
|
1
|
1,2,3,4
|
1,2,3
|
|
2.
|
Renang
|
1,2,3
|
1,2
|
1,2
|
1,2,3,4
|
1,2,3,4
|
|
3.
|
Bolavoli
|
1,3
|
1
|
1
|
1,2,3,4
|
1,2,3
|
|
4.
|
Senam
|
1,2,3
|
1
|
1
|
1,2,3
|
1,3
|
|
5.
|
Sepakbola
|
1
|
1,4
|
1
|
1,2,3
|
1,2,3,4
|
Sumber: Adam
Maulana (2006: 57)
Keterangan: 1. Kekuatan Otot.
2. Daya Tahan Otot.
3. Kelincahan atau Kelentukan.
4. Daya Ledak atau Power.
Tabel 4. Komponen-Komponen Kondisi
Fisik Khusus Dalam Cabang Olahraga Permainan Sepakbola
|
Cabang Olahraga
|
Kekuatan
Otot
|
Daya Tahan Otot
|
Power
|
Kapasitas
an aerobic
|
Daya Tahan
Jantung Paru-paru
|
Kelen
tukan
|
Kompo
sisi
tubuh
|
|
Sepakbola
|
1
|
2
|
1
|
2
|
2
|
1
|
1
|
Keterangan : 1. Amat Penting
2. Penting
3. Kurang
Penting
Selain itu komponen fisik yang harus dikembangkan
pada anggota tubuh pemain sepakbola yaitu:
Tabel 5. Komponen Kondisi Fisik
Anggota Tubuh Dalam Cabang Olahraga Permainan Sepakbola
|
Cabang Olahraga
|
Bahu
|
Punggung
|
Dada
|
Lengan
|
Tungkai
|
Perut
|
|
Sepakbola
|
1
|
1
|
1,2
|
1,2,3
|
1,2,3,4
|
1,2,4
|
Keterangan : 1.
Kekuatan Otot
2. Daya
Tahan Otot
3.
Kelentukan
4. Daya
Ldak atau Power
Kerangka Berpikir
Sepakbola adalah suatu
permainan yang sangat populer di dunia. Jika dibandingkan dengan cabang permainan olahraga yang lain, permainan
sepakbola mempunyai daya tarik tersendiri. Daya tarik tersebut diantaranya
memperagakan kemampuan dalam mengolah bola, penampilan yang sungguh-sungguh dan
penuh perjuangan dalam bermain, gerakan yang dinamis disertai dengan
kejutan-kejutan taktik yang membuat penonton kagum melihatnya. Agar permainan
sepakbola menjadi menarik dan berprestasi, maka kondisi fisik adalah pondasi
utama dalam mencapai tujuan tersebut. Dikarenakan permainan sepakbola akan
terlihat menarik apabila pemain memiliki teknik dasar yang baik, sedangkan
teknik dasar yang baik dapat diperoleh apabila pemain memiliki kondisi fisik
yang prima.
Setiap pemain sepakbola harus
mempunyai kondisi fisik yang prima agar dapat mencapai prestasi yang optimal.
Untuk mendapatkan kondisi fisik yang prima, tentu harus melalui proses latihan
yang tepat dan terprogram. Selain itu, seorang pemain sepakbola juga harus bisa
menjaga dan mempertahankan kondisi fisiknya agar jangan sampai mengalami
penurunan. Karena dengan kondisi fisik yang bagus akan memudahkan pemain dalam
mempelajari keterampilan yang relatif sulit, mampu menyelesaikan program
latihan yang diberikan oleh pelatih tanpa mengalami banyak kesulitan, serta
tidak akan mudah lelah saat mengikuti latihan maupun pertandingan. Selain itu,
pemain yang memiliki kondisi fisik bagus akan cepat dalam proses pemulihan saat
mengikuti latihan maupun pertandingan yang berat. Agar permainan sepakbola menjadi menarik
dan berprestasi, maka kondisi fisik adalah pondasi utama dalam mencapai tujuan
tersebut. Dikarenakan permainan sepakbola akan terlihat menarik apabila pemain
memiliki teknik dasar yang baik, sedangkan teknik dasar yang baik dapat
diperoleh apabila pemain memiliki kondisi fisik yang prima.
|
|
|
Gambar 2. Alur Kerangka Berpikir
METODE
PENELITIAN
Desain Penelitian
Desain penelitian berkenaan dengan sebuah metode yaitu suatu cara yang
berkenaan dengan bagaimana data atau informasi yang diperlukan dalam penelitian
tersebut dapat diperoleh. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif
kuantitatif yaitu suatu penelitian yang bertujuan mendapatkan gambaran atau
kenyataan yang sesungguhnya dari keadaan objek penelitian dengan didukung oleh
data-data berupa angka yang diperoleh dari hasil pengambilan data yaitu tes dan
pengukuran, tanpa melakukan pengujian
hipotesis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
survei karena hanya menggambarkan keadaan objek secara terbatas.
Subjek Penelitian
Menurut Sugiyono (2010: 80), populasi adalah seluruh wilayah generalisasi
yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik
tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk diteliti atau dipelajari dan
kemudian ditarik suatu kesimpulan. Subjek
atau populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pemain sepakbola Porprov
Sleman tahun 2011 yang berjumlah 25 orang pemain, dan seluruhnya akan dijadikan
sebagai sampel penelitian. Jadi penelitian ini merupakan penelitian populasi
sehingga teknik sampling dalam
penelitian ini adalah teknik total
sampling.
Instrumen Penelitian
Menurut
Sugiyono (2010: 102), instrumen adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur
fenomena alam maupun sosial yang sedang diamati. Instrument yang digunakan
dalam penelitian tes A.C.S.P.F.T. Menurut
Depdikbud dan Puskesjasrek (1977: 1-3), A.C.S.P.F.T merupakan salah satu instrumen
tes yang dapat digunakan untuk mengukur atau mengambilan data mengenai kondisi
fisik. Tes A.C.S.P.F.T ini terdiri dari 7 item tes, namun instrumen tes yang
digunakan dalam penelitian ini telah diadakan modifikasi menjadi 10 item tes yaitu
meliputi:
a.
Kecepatan (speed) diukur dengan menggunakan tes
lari 35 meter, menggunakan stopwacth
dengan satuan detik, dikutip dari http://www.brianmac.co.uk/speedtest.htm.
b.
Kelincahan (agility) diukur dengan menggunakan tes
lari illinois agility run test menggunakan stopwatch
dengan satuan detik, dari
Davis B., 2000, dikutip dari http://www.scribd.com/doc/45984412/kelincahan.
c. Daya ledak (power) diukur dengan menggunakan tes lompat jauh tanpa awalan,
menggunakan meteran dengan satuan centimeter, dikutip dari Depdikbud (1977).
d. Kekuatan otot (strenght) diukur dengan dua jenis tes yaitu:
1) Tes kekuatan otot lengan tangan diukur
dengan menggunakan tes bergantung mengangkat tubuh (pull-up) selama-lamanya dengan satuan berapa kali ulangan, dikutip
dari Depdikbud (1977).
2) Tes kekuatan otot perut diukur dengan
menggunakan tes baring duduk (sit-up)
selama 30 detik dihitung berapa kali ulangan, dikutip dari Depdikbud (1977).
e. Keseimbangan (balance) diukur dengan menggunakan tes berdiri satu kaki (stork stand) dilakukan selama-lamanya/sekuat-kuatnyamenggunakan stopwatch dengan satuan detik menit, Johnson
and Nelson (1986) yang dikutip dari David K. Miller (2002).
f.
Ketepatan
(accuration) dan Koordinasi (coordination) diukur dengan menggunakan tes koordinasi mata, tangan dan kaki, selama
30 detik menggunakan stopwatch dengan
satuan jumlah skor yang diperoleh, dikutip dari Sridadi (2010).
g. Aksi-Reaksi (action-reaction) diukur
dengan tes aksi-reaksi menggunakan penggaris dengan satuan centimeter, yang
dikutip dari Panggung Sutapa, (2009: 9-10).
h. Kelentukan (flaxibility) diukur dengan menggunakan tes kelentukan togok ke muka
(forward flexion of trunk) dengan
satuan centimeter, yang dikutip dari Depdikbud (1977).
i.
Daya
tahan jantung paru-paru (cardoirespiration)
diukur dengan menggunakan tes lari selama 15 menit (tes Balke) menggunakan stopwatch
dengan satuan meter, yang dikutip dari http://www.brianmac.co.uk/vo2max.htm#vo2.
Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara peneliti
mengumpulkan para pemain pada saat jadwal latihan di stadion sepakbola Tridadi,
Sleman dan diberi penjelasan dan simulasi gerakan mengenai pelaksanaan tes dan
pengukuran kondisi fisik tersebut. Selanjutnya setiap pemain sepakbola Porprov
Sleman wajib melaksanakan seluruh rangkaian item tes dan pengukuran kondisi
fisik tersebut secara urut. Setelah data kasar dari setiap item tes oleh
masing-masing pemain terkumpul langkah selanjutnya adalah melakukan perhitungan
atau teknik analisis data.
Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah teknik analisis data statistik deskriptif kuantitatif
dengan persentase. Statistik ini ditujukan untuk mengumpulkan data, menyajikan
data, dan menentukan nilai. Selanjutnya dapat dilakukan pemaknaan sebagai
pembahasan atas permasalahan yang diajukan.
Langkah-langkah analisis data dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut: data kasar hasil pengukuran
masing-masing komponen kondisi fisik yang terdiri dari 10 item tes, dimasukan
ke dalam pengkatagorian yang telah ada. Untuk membuat daftar distribusi frekuensi dengan panjang kelas yang sama
menggunakan rumus dari Sudjana (2002: 47), sebagai berikut: rentang (data terbesar–data terkecil), banyak kelas (1+3,3 log N) panjang kelas (rentang/banyak kelas). Selanjutnya untuk menghitung persentase hasil tes, kemudian dikelompokan
dengan menggunakan rumus menurut Suharsimi Arikunto (1998: 245-246), sebagai
berikut:
P = F/N x 100%
Keterangan:
P =
Pesentase
F =
Frekuensi
N = Jumlah Sampel,
Sumber: Suharsimi Arikunto, (1998: 245-246)
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Data Hasil Penelitian
Penelitian ini
berlangsung sejak bulan April sampai dengan Desember 2011. Adapun jadwal dan
rincian tes pengambilan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 8. Jadwal Pelaksanaan Tes
dan Pengambilan Data Kondisi Fisik
|
No.
|
Hari, Tanggal
|
Item Tes
|
|
1.
|
Sabtu, 23 April 2011
|
1. Tes Lari 35 Meter
2. Tes Kelincahan
3. Tes Lompat Jauh Tanpa Awalan
4. Tes Kelentukan
5.Tes Sit-Up
|
|
2.
|
Minggu, 24 April 2011
|
1. Tes Aksi-Reaksi
2. Tes Keseimbangan
3. Tes Koordinasi
4. Tes Bergantung Angkat Badan (Pull-Up)
5. Tes Balke (Lari 15 Menit)
|
Data yang
diperoleh dalam penelitian ini masih merupakan data kasar maksudnya adalah data
ini hasil dari setiap item tes
kondisi fisik A.C.S.P.F.T yang
dimodifikasi yang dicapai oleh pemain sepakbola
Porprov Sleman. Selanjutnya hasil yang diperoleh dari masing-masing item tes kemudian dikonversikan ke dalam
norma penilaian masing-masing item tes yang dinyatakan dalam bentuk angka dan
dipersentasekan. Setelah data dikonversikan ke dalam norma
penilaian, kemudian hasilnya dijumlahkan untuk mengetahui hasil keseluruhan
tes. Hasil penjumlahan
tersebut dapat digunakan untuk mengetahui kriteria atau kategori setiap item
tes, apakah tes tersebut masuk ke dalam kategori Baik Sekali, Baik, Sedang,
Kurang, atau Kurang Sekali.
Berdasarkan Hasil penelitian ini agar
mudah dipahami dan mudah dibaca maka disajikan dalam bentuk tabel. Berikut ini adalah
hasil dari analisis data
profil kondisi fisik
pemain sepakbola Porprov Sleman Tahun 2011 diukur menggunakan tes A.C.S.P.F.T yang telah dimodifikasi dan kemudian
penilaiannya ditentukan sesuai dengan norma yang telah ada. Hasil analisis data
mengenai profil tingkat kondisi
fisik pemain sepakbola Porprov Sleman tahun 2011 dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 9. Distribusi Frekuensi Tingkat Kondisi
Fisik Pemain Sepakbola Porprov Sleman Tahun 2011
|
Interval
|
Kategori
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
41 – 50
|
Baik Sekali
(BS)
|
0
|
0,00%
|
|
31 – 40
|
Baik (B)
|
17
|
68,00%
|
|
21 – 30
|
Sedang (S)
|
8
|
32,00%
|
|
11 – 20
|
Kurang (K)
|
0
|
0,00%
|
|
1 – 10
|
Kurang Sekali
(KS)
|
0
|
0,00%
|
|
Jumlah
|
25
|
100,00%
|
|
Apabila data di atas digambarkan dalam bentuk histogram, maka
diperoleh gambar histogram seperti yang tampak pada gambar histogram di bawah ini:
|
|
|
|
|
Gambar 3. Histogram Profil Kondisi Fisik Pemain Sepakbola Porprov Sleman Tahun 2011
Pembahasan Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil perhitungan
di atas maka kondisi fisik
pemain sepakbola Porprov Sleman Tahun 2011 berkategori baik. Secara rinci kategori kurang sekali sebanyak 0 orang (00,00 %), kurang sebanyak 0 orang (0,00 %), sedang sebanyak 8 orang (32,00 %), baik sebanyak 17 orang (68,00 %), dan baik sekali sebanyak 0 orang atau (0,00 %). Pemain sepakbola Porprov Kabupaten Sleman memiliki kondisi fisik dengan kategori sedang sebanyak 8 orang (32,00%), disebabkan
pemain Porprov tersebut kurang
disiplin atau kurang serius dalam mengikuti program latihan sehingga program
latihan yang diberikan pelatih tidak berjalan sempurna, dan kategori baik sebanyak 17 orang (68,00%), disebabkan pemain Porprov
selalu disiplin dalam menjalani latihan yang diberikan oleh pelatih. Jadi
kemungkinan besar yang mempengaruhi
tingkat kondisi fisik pemain sepakbola Porprov Sleman Tahun 2011 adalah
faktor latihan dan keseriusan saat mengikuti latihan. Selain itu dari 8 pemain yang berada pada kategori sedang tersebut sebagian
besar adalah pemain cadangan selain itu juga ada pemain berposisi sebagai
penjaga gawang yang notabennya tidak terbiasa dengan latihan kondisi fisik yang
berat dan lebih banyak latihan teknik, koordinasi, dan aksi reaksi.
Kondisi fisik akan meningkat
apabila didukung dengan aktivitas fisik (olahraga) yang teratur. Latihan fisik
yang baik dan benar adalah
latihan fisik dengan model latihan
dan takaran atau dosis latihan yang tepat, terukur, terprogram, dan
terencana. Dosis latihan meliputi
frekuensi, intensitas dan waktu. Latihan untuk meningkatkan kebugaran
jasmani atau kondisi fisik adalah minimal
3-5 kali dalam se-Minggu dan sebaiknya dilakukan berselang dengan
waktu pemulihan atau recovery.
Intensitas menunjukkan
kualitas berat ringannya beban suatu latihan yang dijalani, sedangkan waktu menunjukan lamanya latihan dalam setiap sesi atau
lamanya waktu dalam sekali latihan.
Berdasarkan hasil tes dan
pengukuran diperoleh 17 pemain memiliki kondisi fisik yang baik dibanding
dengan pemain-pemain yang lain salah satunya memang selain merupakan
pemain inti juga dikarenakan
faktor-faktor yang telah disebutkan di atas yaitu selalu disiplin dalam latihan
dan mengikuti program latihan yang diberikan oleh pelatih, sedangkan bagi
pemain yang memiliki tingkat kondisi fisik sedang disebabkan oleh faktor yaitu
kurang disiplin dalam latihan.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa kondisi fisik pemain sepakbola Porprov
Sleman Tahun 2011, secara rinci adalah
sebagai berikut: pada kategori kurang sekali sebanyak 0 orang
(0,00 %), kategori kurang sebanyak 0 orang (0,00 %), kategori
sedang sebanyak 8 orang (32,00 %), kategori baik sebanyak 17 orang (68,00 %), dan pada kategori baik sekali sebanyak 0 orang (0,00 %). Berdasarkan
hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar profil kondisi fisik
pemain sepakbola Porprov Sleman tahun 2011 berada pada kategori ”Baik”.
SARAN-SARAN
Berdasarkan hasil penelitian
dan kesimpulan di atas, maka ada beberapa saran yang dapat disampaikan yaitu:
1. Bagi pelatih hendaknya memperhatikan
faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi fisik pemain dan meningkatkan frekuensi dan variasi latihan
kondisi fisik pemain dengan berbagai bentuk model dan tujuan latihan.
2. Bagi pemain hendaknya agar terus termotivasi, semangat
dalam berlatih, menjaga dan meningkatkan
kondisi fisik yang dimilikinya dengan menambah program latihan di luar jadwal latihan atau mengatur
gaya hidup dan pola makan.
3. Bagi penelitian selanjutnya hendaknya perlu dilakukan suatu penelitian yang serupa, yang membandingkan dengan tim
sepakbola Porprov yang lain sehingga dapat dilihat dan
dibandingkan produktifitas dari perubahan yang diperoleh dari hasil latihan
yang dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA
Adam Maulana. (2007). Olahraga Dynamis. Solo: Tiga Serangkai.
Allen Wade. (1978). The FA Guide To Teaching Football Game (First Published). London: Hainemann.
Danny Mielke. (2007). Dasar-dasar Sepakbola. Jakarta: Pakar Raya.
David K. Miller. (2002). Measurement by the Physical Educator Why and
How. Amerika: McGraw-Hill Companies.
Depkes RI. (1994). Kebugaran Jasmani Indonesia. Jakarta: Depkes RI.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
(1977). Penilaian Kesegaran Jasmani dengan
Tes A.C.S.P.F.T. Jakarta: Departemen Kesehatan.
Djoko Pekik Irianto. (2002). Dasar Kepelatihan. Yogyakarta: FIK UNY.
.................................
(2000). Panduan Latihan Kebugaran yang
Efektif dan Aman. Yogyakarta: Lukman Offset.
Frank Horwill. (1994). Obsession for Running Colin Davies Printers / British Milers'
Club.
Luxbacher A. Joseph. (2008). Sepakbola: Langkah-langkah Menuju Sukses. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
M. Furqon H. (2002). Pembinaan Olahraga Usia Dini. Surakarta:
Pusat Penelitian Dan Pengembangan Keolahragaan (Puslitbang-OR) Universitas
Sebelas Maret, Surakarta.
M. Sajoto. (1988). Pembinaan Kondisi
Fisik Dalam O1ahraga. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Ngatman. (2002). Tes dan Pengukuran dalam Pendidikan Jasmani. Yogyakarta: FIK UNY.
Panggung Sutapa. (2009). Petunjuk Praktikum Fisiologi Latihan.
Yogyakarta: FIK UNY.
Sumsunuwiyati Mar’at. (2009). Desmita
Psikologi Perkembangan. Bandung: CV. Rosda Karya.
Sardjono. (1977). Conditioning. Yogyakarta.
Sridadi. (2011). Kordinasi Mata, Tangan, dan Kaki. Yogyakarta: FIK UNY.
Sucipto. (2000). Sepakbola. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sudjana. (2010). Metoda Statistika. Bandung: Tarsito.
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: CV
Alfabeta.
Suharno HP. (1985). Latihan Kondisi Fisik. Yogyakarta: IKIP.
.................... (1978). Ilmu Coaching Umum. Yogyakarta: Yayasan
Sekolah Tinggi Olahraga.
Suharsimi Arikunto. (2003). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek
Edisi Revisi VI. Jakarta: Rineka Cipta.
Sukintaka. (1982). Permainan dan Metodik. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
................. (1979). Permainan dan Metodik. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sunsunuwiyati Mar’at. (1999). Psikologi Perkembangan Remaja. Jakarta
Rieka Cipta.
Suparno. (2008). Penjasorkes 1
SMA/MA. Jakarta: Bumi Aksara.
No comments:
Post a Comment