Monday, 12 November 2012


SURVEI PROFIL KONDISI FISIK PEMAIN SEPAKBOLA
PORPROV KABUPATEN SLEMAN TAHUN 2011

Oleh:
Fathan Nurcahyo
POR-PJKR FIK UNY
Email: fathan_nurcahyo@uny.ac.id

ABSTRAK
           
            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa tinggi profil kondisi fisik pemain sepakbola Porprov Kabupaten Sleman tahun 2011.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan teknik tes dan pengukuran. Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh pemain sepakbola Porprov Sleman tahun 2011. Adapun jumlah pemain sepakbola Porprov Sleman pada tahun 2011 ini adalah 25 orang pemain. Instrumen yang digunakan untuk melakukan pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan instrumen dari tes A.C.S.P.F.T untuk taruna dan mahasiswa atau yang sederajat yang diterbitkan oleh Depdikbud dan Puskesjasrek tahun 1977 yang telah dimodifikasi dan diberi tambahan beberapa item tes. Adapun tes yang dimodifikasi tersebut memiliki 10 item tes yang terdiri dari tes kecepatan (dengan tes lari 35 meter, dari http://www.brianmac.co.uk/speedtest.htm), tes daya ledak (dengan tes lompat jauh tanpa awalan, dari Depdikbud, 1977), tes kekuatan (kekuatan otot perut dengan tes sit-up dan kekuatan lengan tangan dengan tes pull-up, dari Depdikbud, 1977), tes kelincahan (dengan tes illinois agility run test, milik Davis B., 2000, dalam http://www.scribd.com/doc/45984412/kelincahan), tes kelentukan (dengan tes forward flexion of trunk, dari Depdikbud, 1977), tes daya tahan jantung paru-paru (dengan tes Balke, dalam http://www.brianmac.co.uk/vo2max.htm#vo2), tes keseimbangan (dengan tes strok stand, Johnson and Nelson: 1986 yang dikutip oleh David K. Miller, 2002), tes koordinasi (dengan tes koordinasi tangan, mata, dan kaki, milik Sridadi, 2010), tes aksi-reaksi (dengan tes aksi-reaksi, milik Panggung Sutopo, 2009). Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis statistik deskriptif kuantitatif dengan persentase, serta menggunakan 5 kategori yaitu baik sekali, baik, sedang, kurang, dan kurang sekali.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil kondisi fisik pemain sepakbola Porprov Sleman Tahun 2011 secara rinci adalah sebagai berikut: kategori kurang sekali sebanyak 0 orang (0,00 %), kategori kurang sebanyak 0 orang (0,00 %), kategori sedang sebanyak 8 orang (32,00 %), kategori baik sebanyak 17 orang (68,00 %), dan kategori baik sekali sebanyak 0 orang atau (0,00 %). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar kondisi fisik pemain sepakbola Porprov Sleman Tahun 2011 masuk pada kategori ”baik”.

Kata Kunci: Kondisi Fisik, Pemain Sepakbola



PENDAHULUAN
Sepakbola merupakan cabang olahraga yang sudah memasyarakat dan sebagai suatu hiburan bahkan suatu permainan untuk peningkatan kondisi tubuh atau sebagai prestasi untuk membela desa, daerah, instansi atau negara. Permainan sepakbola adalah suatu permainan yang menuntut adanya teknik dasar atau taktik dan strategi yang baik, kondisi fisik yang prima, mental bertanding dan kerjasama yang baik dan rapi di antara lini.
Pada kenyataanya saat ini dalam dunia olahraga secara umum khususnya di Negara Indonesia banyak klub-klub olahraga tersebut belum dapat mengelola asset-asset yang dimilikinya dengan baik antara lain karena disebabkan oleh beberapa hal, misalnya: satu, tidak ada atau terbatasannya jumlah orang atau tenaga pengelola yang berpengalaman (pengelola, pelatih, dan stakeholder) dalam mengembangkan bisnis dalam dunia olahraga khususnya sepakbola. Dua, tidak ada atau terbatasannya jumlah dan sumber modal atau keuangan untuk kemajuan dan pengembangan dunia olahraga khususnya sepakbola.  Tiga, tidak ada atau terbatasnya jumlah alat dan sarana prasarana yang akan dikelola dan dikembangkan untuk kemajuan dalam dunia olahraga khususnya sepakbola. Misalnya: kesulitan mencari lapangan, bola sepak, sepatu sepakbola atau perlengkapan lain untuk kegiatan latihan sepakbola. Empat, adanya gambaran tentang masa depan yang kurang menyenangkan bagi atlet, yang mana setelah pensiun atau tidak menjadi atlet lagi sudah tidak dihargai oleh orang lain atau organisasi. Misalnya: apabila terjadi kecelakaan atau cedera fatal atau setelah usia prestasinya tidak cemerlang lagi. Selanjutnya yang kelima adalah tidak ada atau terbatasannya perhatian dan pembinaan dari pemerintah atau masyarakat terhadap penyelenggaraan kejuaraan atau turnamen olahraga kelompok umur (khususnya usia dini) dalam sepakbola. Misalnya: adanya orangtua yang over protective (perlindungan yang berlebihan/terlalu mengekang aktivitas anak) terhadap anaknya ketika beraktivitas (terutama aktivitas olahraga body contact) penyelenggaraan kompetisi yang tidak teratur dapat menyebabkan puncak prestasi anak menjadi tidak bertahan lama atau tidak bisa mencapai puncak prestasi tertingginya, (ketika masih anak-anak berprestasi baik namun setelah remaja atau dewasa tidak dapat berprestasi lagi).
Keberhasilan atau prestasi akan dapat diraih apabila latihan dilakukan secara rutin, terprogram dan sesuai dengan prinsip-prinsip latihan. Selain kemampuan teknik dasar yang harus dikuasai secara individu, kondisi fisik bagi pemain sepakbola juga menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian khusus dari para pelatih untuk dibina, dilatih dan dikembangkan dengan baik. Mochamad Sajoto (1988: 57), menyatakan dalam pengembangan teknik, mental dan strategi bermain, fisik merupakan unsur penting yang menjadi dasar/fondasi setiap pemain agar selalu dalam kondisi prima. Kondisi fisik merupakan satu kesatuan yang utuh dari komponen-komponen yang tidak dapat dipisahkan, baik dalam pemeliharaan maupun upaya untuk peningkatkannya. Pemain sepakbola dalam bertahan maupun menyerang kadang-kadang harus menghadapi benturan yang keras keras (body contact), ataupun harus bergerak, berlari dengan kecepatan penuh ataupun kelincahan/berkelit dalam menghindari lawan, sampai bergerak atau berhenti dengan tiba-tiba untuk menguasai dan memainkan bola (menendang, menggiring, menyundul, menangkap, melempar, dll). Pemain sepakbola diwajibkan memiliki kondisi fisik yang baik karena dituntut dapat bermain atau bertanding selama 2 babak (2x45 menit) terkadang jika pertandingan tersebut menggunakan sistem gugur juga harus menjalani babak tambahan waktu selama 2x15 menit.
Kondisi fisik dan penguasaan teknik dasar yang baik dapat memberikan sumbangan yang cukup besar dalam mencapai kecakapan bermain atau prestasi sepakbola yang lebih baik. Kondisi fisik yang baik tanpa didukung dengan penguasaan teknik bermain, taktik yang baik serta mental yang baik, maka prestasi yang akan dicapai tidak dapat berjalan seimbang. Demikian pula sebaliknya memiliki kondisi fisik yang jelek tetapi teknik, taktik dan mental yang baik juga kurang mendukung untuk pencapaian yang maksimal. Hubungan kondisi fisik dan teknik menurut Sardjono, dkk (1977: 1-2), seorang olahragawan yang mempunyai teknik yang baik, tetapi tidak pernah berlatih sehingga kondisi fisiknya jelek sekali tidak akan dapat menggunakan teknik dasarnya secara sempurna, karena pemain tersebut akan lekas kepayahan atau kelelahan. Untuk itu perlu pembinaan fisik dan teknik dasar yang baik, termasuk pada cabang olahraga permainan sepakbola.
Proses atau kegiatan latihan dari unsur-unsur kondisi fisik menempati posisi terdepan untuk dilatih, yang berlanjut ke latihan teknik, taktik, mental dan kematangan bertanding dalam pencapaian prestasi. Lebih lanjut Suharno HP (1985: 24), menyatakan bahwa pembinaan fisik, teknik, taktik, mental dan kematangan bertanding merupakan sasaran latihan secara keseluruhan, di mana aspek yang satu tidak dapat ditinggalkan dalam program latihan yang berkesinambungan sepanjang tahun. Latihan kondisi fisik secara teratur dan berkesinambungan dapat memberikan sumbangan yang besar bagi peningkatan kemampuan pengembangan teknik dalam pertandingan.
Unsur-unsur kondisi fisik yang perlu dilatih dan ditingkatkan sesuai dengan cabang olahraga masing-masing atau sesuai dengan kebutuhannya dalam permainan maupun pertandingan. Dalam peningkatan kondisi fisik maka perlu dilatih dengan beberapa unsur latihan fisik serta akan lebih baik lagi apabila ditambah dengan latihan beban. Menurut Suharno (1985: 24), komponen fisik secara umum meliputi kekuatan, daya tahan, kecepatan, kelincahan, dan kelentukan, sedangkan komponen fisik secara khusus antara lain stamina, power, reaksi, koordinasi, dan keseimbangan. Dalam cabang olahraga sepakbola kondisi fisik yang dibutuhkan sangat komplek, antara lain meliputi: daya tahan, kecepatan, kelincahan, kekuatan, kelentukan, keseimbangan, daya ledak, dan koordinasi. Karena pentingnya kondisi fisik tersebut dalam permainan sepakbola maka perlu mendapat porsi dan perhatian khusus dari pelatih atau pembina tim sepakbola.
Salah satu tim sepakbola yang dipersiapkan dan dibina untuk menghadapi event resmi tingkat Provinsi untuk mewakili tingkat Kabupaten adalah tim sepakbola Porprov Sleman. Pemain Porprov Sleman ini berasal dari klub-klub lokal dan sekolah sepakbola (SSB) yang berdomisili di Kabupaten Sleman dan berhasil lolos seleksi yang dilakukan oleh para pemandu bakat (talents scouting) dan pelatih yang berlisensi. Banyak pemain-pemain binaan Kabupaten Sleman berhasil masuk dalam kompetisi nasional yang diselenggarakan oleh PSSI bahkan adapula yang masuk dalam sekuat Timnas Garuda Indonesia, seperti T. A. Musafri (2009-2010) di bawah asuhan pelatih Beni Dollo dan Slamet Riyadi (2011) di bawah asuhan pelatih Alfred Riedl. Dalam event Porprov yang diselenggarakan 2 tahun sekali ini prestasi tim Porprov Sleman dari tahun ke tahun tidak stabil tetapi juga tidak terlalu buruk, hal ini salah satunya karena disebabkan oleh faktor kondisi fisik yang kurang mendapat perhatian baik dari para pengurus dan pelatih. Adapun data mengenai prestasi tim sepakbola Porprov Sleman selama 5 pekan terakhir ini adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Prestasi Tim Sepakbola Porprov Sleman dalam 5 Pekan Terakhir
No.
Nama Event Olahraga
Tahun
Pelatih
Tuan Rumah
Prestasi
1.
PORDA
2003
M. Djazuli
Gunung Kidul
JUARA II
2.
PORDA
2005
M. Djazuli
Kulonprogro
JUARA II
3.
PORDA
2007
Balet Sugeng W.
Bantul
JUARA I
4.
PORPROV
2009
Balet Sugeng W.
Kodya Jogja
5.
PORPROV
2011
Roy Gesper
Sleman
?
Sumber: Sekretaris KONI Sleman (Suparlan) 2011
Pada pembentukan tim sepakbola Porprov Sleman ini, pemain benar-benar diseleksi dengan cermat oleh para pelatih dan pemandu bakat yang berasal dari Kabupaten Sleman. Pelatih tim sepakbola Porprov Sleman tahun 2011 yang ditunjuk untuk menangani tim ini pun juga sudah benar–benar dimusyawarahkan berdasarkan hasil rapat pengurus cabang (pengcab) PSSI Kabupaten Sleman dan memenuhi kualifikasi untuk menjadi pelatih utama. Berdasarkan beberapa kandidat yang ada, akhirnya pengurus Pengcab PSSI Kabupaten Sleman memilih Roy Gesper sebagai pelatih utama, selain banyak pengalaman juga memiliki lisensi melatih. Namun berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada beberapa pemain, diperoleh data informasi yaitu pada saat berlatih sering ada atlet/pemain yang mengalami cedera otot atau kram, ada yang mengeluh program latihan terlalu berat, adapula pemain yang sampai muntah-muntah pada saat latihan, atau minta ijin istirahat karena sudah tidak kuat mengikuti program latihan. Namun disisi lain peneliti juga melihat ada beberapa pemain yang memiliki kebiasaan kurang baik seperti merokok, berdasarkan hasil wawancara dengan pemain lain adapula yang memiliki kebiasaan sering begadang sampai larut malam. Berdasarkan hasil data tersebut maka dapat diasumsikan bahwa kebiasaan buruk, metode melatih dan program latihan yang diberikan oleh pelatih akan berpengaruh terhadap kondisi fisik yang dimiliki oleh setiap pemain.
Di sisi lain pada tahun 2011 ini Kabupaten Sleman ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggara event olahraga Porprov. Karena pada tahun 2011 ini Kabupaten Sleman sebagai tuan rumah penyelenggara event olahraga Porprov maka tidaklah mengherankan apabila pengurus KONI Kabupaten Sleman beserta jajarannya mentargetkan Kabupaten Sleman sebagai juara umum, termasuk merebut emas atau juara satu dalam cabang olahraga sepakbola. Target yang terlalu tinggi kadang tidak serta merta diikuti oleh persiapan yang baik misalnya dari segi pembiayaan, sarana prasarana pendukung, waktu persiapan/latihan, pemilihan pelatih serta seleksi pemain, dan lain-lain. Selain menjadikan motivasi yang tinggi, bonus dan target sebagai juara umum juga menjadikan beban atau ketegangan (stress) yang lebih tinggi bagi setiap pemain yang akan bertanding. Setiap terjadi kegagalan maka persiapan yang terlalu mepet selalu dijadikan alasan atau kambing hitam oleh para pengurus atau pelatih sepakbola Porprov Kabupaten Sleman.
Sampai sejauh ini persiapan tim sepakbola Porprov Sleman masih belum terlihat baik, hal ini terbukti dengan masih adanya bongkar pasang materi atau komposisi pemain dan program latihan yang belum konsisten dan bahkan setiap latihan atau ujicoba latih tanding dengan tim lain hampir dipastikan selalu ada pemain yang mengalami cedera otot atau kram. Berdasarkan beberapa penjelasan tersebut di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai kondisi fisik pada pemain sepakbola tim Porprov Kabupaten Sleman tahun 2011.
KAJIAN PUSTAKA
Hakikat Kondisi Fisik
Kondisi fisik merupakan unsur yang penting dan menjadi dasar dalam mengernbangkan teknik, taktik, maupun strategi dalam bermain sepakbola. Menurut Moch. Sajoto (1988: 57), kondisi fisik adalah salah satu prasyarat yang sangat diperlukan dalam usaha peningkatan prestasi seorang atlet, bahkan sebagai landasan awal titik tolak pada suatu olahraga prestasi. Status kondisi fisik dapat mencapai titik optimal jika latihan dimulai sejak usia dini dan dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan dengan berpedoman pada prinsip-prinsip dasar latihan yang baik dan benar. Menurut Pendapat Djoko Pekik Irianto (2000: 10-11), secara umum prinsip-prinsip latihan untuk menjaga atau meningkatkan status kebugaran jasmani ataupun kondisi fisik atlet antara lain meliputi: (a) beban lebih (overload), (b) kekhususan (specifity), (c) kembali asal (riversible), (d) variasi (variative), dan (e) perseorangan (individual).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kesegaran jasmani juga akan mempengaruhi kondisi fisik seseorang. Adapun faktor-­faktor yang mempengaruhi kesegaran jasmani seseorang menurut pendapat yang disampaikan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia (1994: 8-10), antara lain adalah: umur/usia, jenis kelamin, genetika/keturunan, status kesehatan, status gizi/nutrisi, kegiatan fisik, lingkungan (suhu/iklim) dan kebiasaan yang kurang baik (merokok, miras, dll). Status kondisi fisik pemain dapat diketahui dengan cara penilaian yang berbentuk tes kemampuan. Tes ini dapat dilakukan di dalam laboratorium ataupun di lapangan. Kondisi fisik adalah satu kesatuan utuh dari komponen-komponen yang tidak dapat dipisahkan begitu saja, baik peningkatan maupun pemeliharaannya. Adapun menurut pendapat Moch. Sajoto (1988: 57-59), terdapat 10 komponen kondisi fisik yaitu meliputi:
a.       Kekuatan (strength), adalah komponen kondisi fisik seseorang tentang kemampuannya dalam mempergunakan otot untuk menerima beban sewaktu bekerja.
b.      Daya tahan (Endurance)
Daya tahan (endurance) dibedakan menjadi dua golongan, yaitu
1)      Daya tahan otot setempat (local endurance) yaitu kemampuan seseorang dalam mempergunakan suatu kelompok ototnya untuk berkontraksi secara terus-menerus dalam waktu relatif cukup lama dengan beban tertentu.
2)      Daya tahan umum (cardiorespiratory endurance) yaitu kemampuan seseorang dalam mempergunakan sistem jantung, pernafasan dan peredaran darahnya secara efektif dan efisien dalam menjalankan kerja terus-menerus.
c.       Daya Ledak Otot (Muscular Power) adalah kemampuan seseorang untuk melakukan kekuatan maksimum dengan usaha yang dikerahkannya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Dalam hal ini dapat dikemukakan bahwa daya ledak otot atau power = kekuatan atau Force X kecepatan atau Velocity (P = F X T).
d.      Kecepatan (Speed) adalah kemampuan seseorang dalam melakukan gerakan berkesinambungan, dalam bentuk yang sama dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
e.       Kelentukan (Flexibility) adalah keefektifan seseorang dalam penyesuaian dirinya untuk melakukan segala aktivitas tubuh dengan penguluran seluas-luasnya, terutama otot-otot, ligamen-ligamen di sekitar persendian.
f.        Keseimbangan (Balance) adalah kemampuan seseorang mengendalikan organ-organ syaraf ototnya selama melakukan gerak yang cepat dengan perubahan letak titik-titik berat badan yang cepat pula, baik dalam keadaan statis maupun dalam gerak dinamis.
g.       Koordinasi (Coordination) adalah kemampuan seseorang dalam mengintegrasikan gerakan yang berbeda ke dalam satu pola tunggal secara efektif.
h.       Kelincahan (Agility) adalah kemampuan seseorang dalam merubah arah, dalam posisi-posisi di arena tertentu. Seseorang yang mampu merubah satu posisi kesuatu posisi yang berbeda, dengan kecepatan tinggi dan kordinasi gerak yang baik, berarti kelincahannya cukup tinggi.
i.         Ketepatan (Accuracy) adalah kemampuan seseorang dalam mengendalikan gerak-gerak bebas terhadap suatu sasaran.
j.        Reaksi (Reaction) adalah kemampuan seseorang untuk bertindak secepatnya dalarn menanggapi rangsangan-rangsangan yang datang lewat indera, syaraf atau feeling lainnya.

Apabila membicarakan tes kesegaran jasmani, ada organisasi internasional yang sasarannya adalah menyusun dan membakukan (men-standar-kan) berbagai bentuk tes kesegaran jasmani. Organisasi tersebut adalah International Committee on the Standardization of Physical Fitness Test (I.C.S.P.F.T.). Menurut Pusat Kesegaran Jasmani dan Rekreasi, Depdikbud (1977: 1-2), I.C.S.P.F.T telah menyusun instrumen tes yang terdiri dari 7 jenis (item) tes. Item atau jenis-jenis tes tersebut diperuntukkan bagi putra dan putri yang berusia mahasiswa, taruna atau yang setingkat. Adapun 7 jenis atau item tes tersebut adalah: 1) Lari cepat 50 meter (dash/sprint), 2) Lompat jauh tanpa awalan (standing broad jump), 3) Lari jauh (distance run), dengan jarak 1000 meter, 4) Bergantung angkat badan (pull-up), 5) Lari hilir-mudik (shuttle run) 4 x 10 meter, 6) Baring duduk (sit-up) selama 30 detik, dan 7) Lentuk togok ke muka (forward flexion of trunk).
Hakikat Permainan Sepakbola
Menurut pendapat yang dikemukakan oleh Wade (1978: 3) menjelaskan bahwa sepakbola adalah:
Soccer is a game played between two team. When one time has the ball they try to score by dribbling it, running with it, kicking it, heading it, and passing it with from one player to the other so that finally the ball is played through, past or over opposing players to score a goal. The team which does not have the ball tries to prevent shots towards the goal which it is defending by tackling for the ball, blocking shots, marking dangerous opponents, and by kicking, heading, dribbling, or passing the ball away from danger areas near to goal. At the highest level, the game is played by eleven players in a team.

Menurut pendapat lain dari Sukintaka (1982: 70) permainan sepakbola adalah permainan yang dimainkan oleh dua regu yang mana masing-masing regu terdiri dari 11 orang pemain. Masing-masing regu berusaha memasukan bola sebanyak-banyaknya ke gawang lawan dan mempertahankan gawangnya sendiri untuk tidak kemasukan. Regu yang lebih banyak membuat goal dinyatakan sebagai pemenang dalam pertandingan. Untuk memasukan bola ke gawang lawan dan mempertahankan gawangnya sendiri, diperlukan kerjasama dan tolong menolong dalam satu regu. Agar permainan itu dapat berdaya guna dan berhasil guna, maka tiap pemain dalam satu regu diberi kewajiban-kewajiban sendiri. Kewajiban-kewajiban itu dapat dibagi dalam tiga kelompok besar, yakni barisan penyerang, barisan penghubung dan barisan penahan. Biasanya permainan sepakbola dimainkan dalam dua babak dengan diberi waktu istirahat di antara kedua babak itu. Isi dari permainan sepakbola itu sendiri adalah kerjasama, berpikir, bergerak, memutuskan dan bertanggung jawab.
Kondisi Fisik Dalam Cabang Olahraga Sepakbola
Menurut Hurlock (1990) seperti yang dikutip oleh M. Furqon H. (2002: 5–6) dijelaskan lebih lanjut bahwa secara khusus dalam cabang olahraga permainan sepakbola untuk anak usia dini yang dimaksudkan adalah anak yang berumur antara 10–12 tahun, pada usia inilah sebaiknya anak usia dini mulai dikenalkan pada olahraga permainan sepakbola selanjutnya masuk pada tahap spesialisai saat usia 11–13 tahun dan diharapkan dapat mencapai puncak prestasinya pada saat berusia 18–24 tahun.
Tabel 2. Data Tabel Usia Dini Berolahraga, Usia Spesialisasi, dan Usia Pencapaian Prestasi Puncak
No.
Cabang Olahraga
Usia Dini Berolahraga (Thn)
Usia Spesialisasi
(Thn)
Usia Pencapaian Prestasi Puncak (Thn)
1.
Atletik
10-12
13-14
18-23
2.
Basket
8-9
10-12
20-25
3.
Tinju
13-14
15-16
20-25
4.
Renang
3-7
10-12
16-18
5.
Sepakbola
10-12
11-13
18-24
6.
Senam
6-7
10-11
14-18
7.
Bolavoli
11-12
14-15
20-25
Sumber : Pembinaan Olahraga Usia Dini (M. Furqon, 2002: 6)

Menurut teori piramida emas yang dikemukakan oleh pendapat M. Furqon (2002: 5), bahwa di dalam teori peramida emas tersebut terdapat tiga tahapan yang ideal di dalam melakukan pembinaan olahraga prestasi yaitu: (1) pemassalan olahraga, (2) pembibitan atlet, dan (3) pembinaan prestasi puncak. Berikut ini dapat dilihat gambar tentang teori piramida pembinaan prestasi olahraga:
Gambar 1. Pembinaan Prestasi Olahraga Ditinjau dari Teori Piramida, Usia Berlatih, Status Atlet dan Tingkat Pertumbuhan serta Perkembangan Atlet.
Sumber: M. Furqon, (2002: 5)

Menurut pendapat Adam Maulana (2007: 57), bahwa dalam masing-masing cabang olahraga terdapat unsur-unsur kebugaran jasmani yang dominan dan sangat dibutuhkan dalam spesifikasi cabang olahraga tersebut. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 3. Komponen Kondisi Fisik untuk Masing-Masing Cabang Olahraga
NO.
CABANG OLAHRAGA
BAHU
PUNGGUNG
DADA
LENGAN
TUNGKAI
1.
Bulutangkis
1,2,3
1
1
1,2,3,4
1,2,3
2.
Renang
1,2,3
1,2
1,2
1,2,3,4
1,2,3,4
3.
Bolavoli
1,3
1
1
1,2,3,4
1,2,3
4.
Senam
1,2,3
1
1
1,2,3
1,3
5.
Sepakbola
1
1,4
1
1,2,3
1,2,3,4
Sumber: Adam Maulana (2006: 57)
Keterangan: 1. Kekuatan Otot.
2. Daya Tahan Otot.
3. Kelincahan atau Kelentukan.
4. Daya Ledak atau Power.

Tabel 4. Komponen-Komponen Kondisi Fisik Khusus Dalam Cabang Olahraga Permainan Sepakbola
Cabang Olahraga
Kekuatan Otot
Daya Tahan Otot
Power
Kapasitas an aerobic
Daya Tahan Jantung Paru-paru
Kelen
tukan
Kompo
sisi
tubuh
Sepakbola
1
2
1
2
2
1
1
Keterangan : 1. Amat Penting
2. Penting
3. Kurang Penting

Selain itu komponen fisik yang harus dikembangkan pada anggota tubuh pemain sepakbola yaitu:
Tabel 5. Komponen Kondisi Fisik Anggota Tubuh Dalam Cabang Olahraga Permainan Sepakbola
Cabang Olahraga
Bahu
Punggung
Dada
Lengan
Tungkai
Perut
Sepakbola
1
1
1,2
1,2,3
1,2,3,4
1,2,4
Keterangan : 1. Kekuatan Otot
2. Daya Tahan Otot
3. Kelentukan
4. Daya Ldak atau Power

Kerangka Berpikir
Sepakbola adalah suatu permainan yang sangat populer di dunia. Jika dibandingkan dengan cabang permainan olahraga yang lain, permainan sepakbola mempunyai daya tarik tersendiri. Daya tarik tersebut diantaranya memperagakan kemampuan dalam mengolah bola, penampilan yang sungguh-sungguh dan penuh perjuangan dalam bermain, gerakan yang dinamis disertai dengan kejutan-kejutan taktik yang membuat penonton kagum melihatnya. Agar permainan sepakbola menjadi menarik dan berprestasi, maka kondisi fisik adalah pondasi utama dalam mencapai tujuan tersebut. Dikarenakan permainan sepakbola akan terlihat menarik apabila pemain memiliki teknik dasar yang baik, sedangkan teknik dasar yang baik dapat diperoleh apabila pemain memiliki kondisi fisik yang prima.
Setiap pemain sepakbola harus mempunyai kondisi fisik yang prima agar dapat mencapai prestasi yang optimal. Untuk mendapatkan kondisi fisik yang prima, tentu harus melalui proses latihan yang tepat dan terprogram. Selain itu, seorang pemain sepakbola juga harus bisa menjaga dan mempertahankan kondisi fisiknya agar jangan sampai mengalami penurunan. Karena dengan kondisi fisik yang bagus akan memudahkan pemain dalam mempelajari keterampilan yang relatif sulit, mampu menyelesaikan program latihan yang diberikan oleh pelatih tanpa mengalami banyak kesulitan, serta tidak akan mudah lelah saat mengikuti latihan maupun pertandingan. Selain itu, pemain yang memiliki kondisi fisik bagus akan cepat dalam proses pemulihan saat mengikuti latihan maupun pertandingan yang berat. Agar permainan sepakbola menjadi menarik dan berprestasi, maka kondisi fisik adalah pondasi utama dalam mencapai tujuan tersebut. Dikarenakan permainan sepakbola akan terlihat menarik apabila pemain memiliki teknik dasar yang baik, sedangkan teknik dasar yang baik dapat diperoleh apabila pemain memiliki kondisi fisik yang prima.

Permainan Sepakbola
 
Prestasi Sepakbola Porprov Sleman 2011
 
Kondisi Fisik Pemain Sepakbola Porprov Sleman 2011
 
                             

Gambar 2. Alur Kerangka Berpikir

METODE PENELITIAN
Desain Penelitian
Desain penelitian berkenaan dengan sebuah metode yaitu suatu cara yang berkenaan dengan bagaimana data atau informasi yang diperlukan dalam penelitian tersebut dapat diperoleh. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif yaitu suatu penelitian yang bertujuan mendapatkan gambaran atau kenyataan yang sesungguhnya dari keadaan objek penelitian dengan didukung oleh data-data berupa angka yang diperoleh dari hasil pengambilan data yaitu tes dan pengukuran, tanpa melakukan pengujian hipotesis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei karena hanya menggambarkan keadaan objek secara terbatas.
Subjek Penelitian
Menurut Sugiyono (2010: 80), populasi adalah seluruh wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk diteliti atau dipelajari dan kemudian ditarik suatu kesimpulan. Subjek atau populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pemain sepakbola Porprov Sleman tahun 2011 yang berjumlah 25 orang pemain, dan seluruhnya akan dijadikan sebagai sampel penelitian. Jadi penelitian ini merupakan penelitian populasi sehingga teknik sampling dalam penelitian ini adalah teknik total sampling.
Instrumen Penelitian
Menurut Sugiyono (2010: 102), instrumen adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang sedang diamati. Instrument yang digunakan dalam penelitian tes A.C.S.P.F.T. Menurut Depdikbud dan Puskesjasrek (1977: 1-3), A.C.S.P.F.T merupakan salah satu instrumen tes yang dapat digunakan untuk mengukur atau mengambilan data mengenai kondisi fisik. Tes A.C.S.P.F.T ini terdiri dari 7 item tes, namun instrumen tes yang digunakan dalam penelitian ini telah diadakan modifikasi menjadi 10 item tes yaitu meliputi:
a.       Kecepatan (speed) diukur dengan menggunakan tes lari 35 meter, menggunakan stopwacth dengan satuan detik, dikutip dari http://www.brianmac.co.uk/speedtest.htm.
b.      Kelincahan (agility) diukur dengan menggunakan tes lari illinois agility run test menggunakan stopwatch dengan satuan detik, dari Davis B., 2000, dikutip dari http://www.scribd.com/doc/45984412/kelincahan.
c.       Daya ledak (power) diukur dengan menggunakan tes lompat jauh tanpa awalan, menggunakan meteran dengan satuan centimeter, dikutip dari Depdikbud (1977).
d.      Kekuatan otot (strenght) diukur dengan dua jenis tes yaitu:
1)      Tes kekuatan otot lengan tangan diukur dengan menggunakan tes bergantung mengangkat tubuh (pull-up) selama-lamanya dengan satuan berapa kali ulangan, dikutip dari Depdikbud (1977).
2)      Tes kekuatan otot perut diukur dengan menggunakan tes baring duduk (sit-up) selama 30 detik dihitung berapa kali ulangan, dikutip dari Depdikbud (1977).
e.       Keseimbangan (balance) diukur dengan menggunakan tes berdiri satu kaki (stork stand) dilakukan selama-lamanya/sekuat-kuatnyamenggunakan stopwatch dengan satuan detik menit, Johnson and Nelson (1986) yang dikutip dari David K. Miller (2002).

f.        Ketepatan (accuration) dan Koordinasi (coordination) diukur dengan menggunakan tes koordinasi mata, tangan dan kaki, selama 30 detik menggunakan stopwatch dengan satuan jumlah skor yang diperoleh, dikutip dari Sridadi (2010).
g.       Aksi-Reaksi (action-reaction) diukur dengan tes aksi-reaksi menggunakan penggaris dengan satuan centimeter, yang dikutip dari Panggung Sutapa, (2009: 9-10).
h.       Kelentukan (flaxibility) diukur dengan menggunakan tes kelentukan togok ke muka (forward flexion of trunk) dengan satuan centimeter, yang dikutip dari Depdikbud (1977).
i.         Daya tahan jantung paru-paru (cardoirespiration) diukur dengan menggunakan tes lari selama 15 menit (tes Balke) menggunakan stopwatch dengan satuan meter, yang dikutip dari http://www.brianmac.co.uk/vo2max.htm#vo2.

Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara peneliti mengumpulkan para pemain pada saat jadwal latihan di stadion sepakbola Tridadi, Sleman dan diberi penjelasan dan simulasi gerakan mengenai pelaksanaan tes dan pengukuran kondisi fisik tersebut. Selanjutnya setiap pemain sepakbola Porprov Sleman wajib melaksanakan seluruh rangkaian item tes dan pengukuran kondisi fisik tersebut secara urut. Setelah data kasar dari setiap item tes oleh masing-masing pemain terkumpul langkah selanjutnya adalah melakukan perhitungan atau teknik analisis data.
Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data statistik deskriptif kuantitatif dengan persentase. Statistik ini ditujukan untuk mengumpulkan data, menyajikan data, dan menentukan nilai. Selanjutnya dapat dilakukan pemaknaan sebagai pembahasan atas permasalahan yang diajukan.
Langkah-langkah analisis data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: data kasar hasil pengukuran masing-masing komponen kondisi fisik yang terdiri dari 10 item tes, dimasukan ke dalam pengkatagorian yang telah ada. Untuk membuat daftar distribusi frekuensi dengan panjang kelas yang sama menggunakan rumus dari Sudjana (2002: 47), sebagai berikut: rentang (data terbesar–data terkecil), banyak kelas (1+3,3 log N) panjang kelas (rentang/banyak kelas). Selanjutnya untuk menghitung persentase hasil tes, kemudian dikelompokan dengan menggunakan rumus menurut Suharsimi Arikunto (1998: 245-246), sebagai berikut:
P = F/N x 100%

Keterangan:
P  = Pesentase
F  = Frekuensi
N = Jumlah Sampel,
Sumber: Suharsimi Arikunto, (1998: 245-246)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Data Hasil Penelitian
Penelitian ini berlangsung sejak bulan April sampai dengan Desember 2011. Adapun jadwal dan rincian tes pengambilan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 8. Jadwal Pelaksanaan Tes dan Pengambilan Data Kondisi Fisik
No.
Hari, Tanggal
Item Tes
1.
Sabtu, 23 April 2011
1. Tes Lari 35 Meter
2. Tes Kelincahan
3. Tes Lompat Jauh Tanpa Awalan
4. Tes Kelentukan
5.Tes Sit-Up
2.
Minggu, 24 April 2011
1. Tes Aksi-Reaksi
2. Tes Keseimbangan
3. Tes Koordinasi
4. Tes Bergantung Angkat Badan (Pull-Up)
5. Tes Balke (Lari 15 Menit)

Data yang diperoleh dalam penelitian ini masih merupakan data kasar maksudnya adalah data ini hasil dari setiap item tes kondisi fisik A.C.S.P.F.T yang dimodifikasi yang dicapai oleh pemain sepakbola Porprov Sleman. Selanjutnya hasil yang diperoleh dari masing-masing item tes kemudian dikonversikan ke dalam norma penilaian masing-masing item tes yang dinyatakan dalam bentuk angka dan dipersentasekan. Setelah data dikonversikan ke dalam norma penilaian, kemudian hasilnya dijumlahkan untuk mengetahui hasil keseluruhan tes. Hasil penjumlahan tersebut dapat digunakan untuk mengetahui kriteria atau kategori setiap item tes, apakah tes tersebut masuk ke dalam kategori Baik Sekali, Baik, Sedang, Kurang, atau Kurang Sekali.
Berdasarkan Hasil penelitian ini agar mudah dipahami dan mudah dibaca maka disajikan dalam bentuk tabel. Berikut ini adalah hasil dari analisis data profil kondisi fisik pemain sepakbola Porprov Sleman Tahun 2011 diukur menggunakan tes A.C.S.P.F.T yang telah dimodifikasi dan kemudian penilaiannya ditentukan sesuai dengan norma yang telah ada. Hasil analisis data mengenai profil tingkat kondisi fisik pemain sepakbola Porprov Sleman tahun 2011 dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 9. Distribusi Frekuensi Tingkat Kondisi Fisik Pemain Sepakbola Porprov Sleman Tahun 2011
Interval
Kategori
Frekuensi
Persentase
41 – 50
Baik Sekali (BS)
0
0,00%
31 – 40
Baik (B)
17
68,00%
21 – 30
Sedang (S)
8
32,00%
11 – 20
Kurang (K)
0
0,00%
1 – 10
Kurang Sekali (KS)
0
0,00%
Jumlah
25
100,00%

Apabila data di atas digambarkan dalam bentuk histogram, maka diperoleh gambar histogram seperti yang tampak pada gambar histogram di bawah ini:
0%
 
0%
 
68%
 
32%
 
0%
 
Gambar 3. Histogram Profil Kondisi Fisik Pemain Sepakbola Porprov Sleman Tahun 2011

Pembahasan Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil perhitungan di atas maka kondisi fisik pemain sepakbola Porprov Sleman Tahun 2011 berkategori baik. Secara rinci kategori kurang sekali sebanyak 0 orang (00,00 %), kurang sebanyak 0 orang (0,00 %), sedang sebanyak 8 orang (32,00 %), baik sebanyak 17 orang (68,00 %), dan baik sekali sebanyak 0 orang atau (0,00 %). Pemain sepakbola Porprov Kabupaten Sleman memiliki kondisi fisik dengan kategori sedang sebanyak 8 orang (32,00%), disebabkan pemain Porprov tersebut kurang disiplin atau kurang serius dalam mengikuti program latihan sehingga program latihan yang diberikan pelatih tidak berjalan sempurna, dan kategori baik sebanyak 17 orang (68,00%), disebabkan pemain Porprov selalu disiplin dalam menjalani latihan yang diberikan oleh pelatih. Jadi kemungkinan besar yang mempengaruhi  tingkat kondisi fisik pemain sepakbola Porprov Sleman Tahun 2011 adalah faktor latihan dan keseriusan saat mengikuti latihan. Selain itu dari 8 pemain yang berada pada kategori sedang tersebut sebagian besar adalah pemain cadangan selain itu juga ada pemain berposisi sebagai penjaga gawang yang notabennya tidak terbiasa dengan latihan kondisi fisik yang berat dan lebih banyak latihan teknik, koordinasi, dan aksi reaksi.
Kondisi fisik akan meningkat apabila didukung dengan aktivitas fisik (olahraga) yang teratur. Latihan fisik yang baik dan benar adalah latihan fisik dengan model latihan dan takaran atau dosis latihan yang tepat, terukur, terprogram, dan terencana. Dosis latihan meliputi frekuensi, intensitas dan waktu. Latihan untuk meningkatkan kebugaran jasmani atau kondisi fisik adalah minimal 3-5 kali dalam se-Minggu dan sebaiknya dilakukan berselang dengan waktu pemulihan atau recovery. Intensitas menunjukkan kualitas berat ringannya beban suatu latihan yang dijalani, sedangkan waktu menunjukan lamanya latihan dalam setiap sesi atau lamanya waktu dalam sekali latihan.
Berdasarkan hasil tes dan pengukuran diperoleh 17 pemain memiliki kondisi fisik yang baik dibanding dengan pemain-pemain yang lain salah satunya memang selain merupakan pemain inti juga dikarenakan faktor-faktor yang telah disebutkan di atas yaitu selalu disiplin dalam latihan dan mengikuti program latihan yang diberikan oleh pelatih, sedangkan bagi pemain yang memiliki tingkat kondisi fisik sedang disebabkan oleh faktor yaitu kurang disiplin dalam latihan.




KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa kondisi fisik pemain sepakbola Porprov Sleman Tahun 2011, secara rinci adalah sebagai berikut: pada kategori kurang sekali sebanyak 0 orang (0,00 %), kategori kurang sebanyak 0 orang (0,00 %), kategori sedang sebanyak 8 orang (32,00 %), kategori baik sebanyak 17 orang (68,00 %), dan pada kategori baik sekali sebanyak 0 orang (0,00 %). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar profil kondisi fisik pemain sepakbola Porprov Sleman tahun 2011 berada pada kategori ”Baik”.
SARAN-SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan di atas, maka ada beberapa saran yang dapat disampaikan yaitu:
1.      Bagi pelatih hendaknya memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi fisik pemain dan meningkatkan frekuensi dan variasi latihan kondisi fisik pemain dengan berbagai bentuk model dan tujuan latihan.
2.      Bagi pemain hendaknya agar terus termotivasi, semangat dalam berlatih, menjaga dan meningkatkan kondisi fisik yang dimilikinya dengan menambah program latihan di luar jadwal latihan atau mengatur gaya hidup dan pola makan.
3.      Bagi penelitian selanjutnya hendaknya perlu dilakukan suatu penelitian yang serupa, yang membandingkan dengan tim sepakbola Porprov yang lain sehingga dapat dilihat dan dibandingkan produktifitas dari perubahan yang diperoleh dari hasil latihan yang dilakukan.












DAFTAR PUSTAKA


Adam Maulana. (2007). Olahraga Dynamis. Solo: Tiga Serangkai.

Allen Wade. (1978). The FA Guide To Teaching Football Game (First Published). London: Hainemann.

Danny Mielke. (2007). Dasar-dasar Sepakbola. Jakarta: Pakar Raya.

David K. Miller. (2002). Measurement by the Physical Educator Why and How. Amerika: McGraw-Hill Companies.

Depkes RI. (1994). Kebugaran Jasmani Indonesia. Jakarta: Depkes RI.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1977). Penilaian Kesegaran Jasmani dengan Tes A.C.S.P.F.T. Jakarta: Departemen Kesehatan.

Djoko Pekik Irianto. (2002). Dasar Kepelatihan. Yogyakarta: FIK UNY.

................................. (2000). Panduan Latihan Kebugaran yang Efektif dan Aman. Yogyakarta: Lukman Offset.

Frank Horwill. (1994). Obsession for Running Colin Davies Printers / British Milers' Club.

Luxbacher A. Joseph. (2008). Sepakbola: Langkah-langkah Menuju Sukses. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

M. Furqon H. (2002). Pembinaan Olahraga Usia Dini. Surakarta: Pusat Penelitian Dan Pengembangan Keolahragaan (Puslitbang-OR) Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

M. Sajoto. (1988). Pembinaan Kondisi Fisik Dalam O1ahraga. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Ngatman. (2002). Tes dan Pengukuran dalam Pendidikan Jasmani. Yogyakarta: FIK UNY.

Panggung Sutapa. (2009). Petunjuk Praktikum Fisiologi Latihan. Yogyakarta: FIK UNY.

Sumsunuwiyati Mar’at. (2009). Desmita Psikologi Perkembangan. Bandung: CV. Rosda Karya.

Sardjono. (1977). Conditioning. Yogyakarta.

Sridadi. (2011). Kordinasi Mata, Tangan, dan Kaki. Yogyakarta: FIK UNY.

Sucipto. (2000). Sepakbola. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sudjana. (2010). Metoda Statistika. Bandung: Tarsito.

Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: CV Alfabeta.

Suharno HP. (1985). Latihan Kondisi Fisik. Yogyakarta: IKIP.

.................... (1978). Ilmu Coaching Umum. Yogyakarta: Yayasan Sekolah Tinggi Olahraga.

Suharsimi Arikunto. (2003). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Edisi Revisi VI. Jakarta: Rineka Cipta.

Sukintaka. (1982). Permainan dan Metodik. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

................. (1979). Permainan dan Metodik. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sunsunuwiyati Mar’at. (1999). Psikologi Perkembangan Remaja. Jakarta Rieka Cipta.

Suparno. (2008). Penjasorkes 1 SMA/MA. Jakarta: Bumi Aksara.





No comments:

Post a Comment