MAKALAH
“Sejarah Perkembangan islam di Indonesia”
Makalah ini di susun untuk memenuhi tugas mata
pelajaran agama
yang di bimbing oleh: Hj. Mashudi
Disusun Oleh:
Nama
:
Kelas :
No Absen
: 18

SMA NEGERI 4 PAMEKASAN
2012
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada
tuhan yang maha esa, karena atas berkat dan limpahan rahmatnyalah maka saya
boleh menyelesaikan sebuah karya tulis dengan tepat waktu.
Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah
makalah dengan judul “Makalah
Sejarah Perkembangan islam di Indonesia ” yang mmenurut saya dapat memberikan manfaat
yang besar bagi kita untuk mempelajari sejarah agama islam.
Melalui kata pengantar ini penulis lebih dahulu
meminta maaf dan memohon permakluman bila mana isi makalah ini ada kekurangan
dan ada tulisan yang saya buat kurang tepat atau menyinggu perasaan pembaca.
Dengan ini saya mempersembahkan makalah ini
dengan penuh rasa terima kasih dan semoga allah SWT memberkahi makalah ini
sehingga dapat memberikan manfaat.
Pamekasan 09 Desember 2012
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I:PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
BAB II : PEMBAHASAN
A.
Masuknya Islam Ke
Indonesia
B.
Seminar Sejarah
Masuknya Islam Di Indonesia
C.
Corak dan Perkembangan
Islam di Indonesia
D.
Tersiarnya Islam di
Indonesia
E.
Pengaruh Islam terhadap
Peradaban Bangsa Indonesia
F.
Kerajaan-kerajaan Islam
di Indonesia
BAB III: PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
Sejak zaman pra sejarah,
penduduk kepulauan Indonesia dikenal sebagai pelayar-pelayar yang sanggup
mengarungi lautan lepas. Sejak awal masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan
perdagangan antara kepulauan Indonesia dengan berbagai daerah di daratan Asia
Tenggara. Wilayah Barat Nusantara dan sekitar Malaka sejak masa kuno merupakan
wilayah yang menjadi titik perhatian, terutama karena hasil bumi yang dijual
disana menarik bagi para pedagang, dan menjadi daerah lintasan penting antara
Cina dan India. Sementara itu, pala dan cengkeh yang berasal dari Maluku
dipasarkan di Jawa dan Sumatera, untuk kemudian dijual kepada para pedagang
asing. Pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatra dan Jawa antara abad ke-1 dan
ke-7 M sering disinggahi para pedagang asing seperti Lamuri (Aceh), Barus, dan
Palembang di Sumatra; Sunda Kelapa dan Gresik di Jawa.
Bersamaan dengan itu,
datang pula para pedagang yang berasal dari Timur Tengah. Mereka tidak hanya
membeli dan menjajakan barang dagangan, tetapi ada juga yang berupaya
menyebarkan agama Islam. Dengan demikian, agama Islam telah ada di Indonesia
ini bersamaan dengan kehadiran para pedagang Arab tersebut. Meskipun belum
tersebar secara intensif ke seluruh wilayah Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Masuknya Islam Ke Indonesia
Islam masuk ke
Indonesia pada abad pertama Hijrah atau abad ke tujuh/ke delapan masehi. Ini
mungkin didasarkan pada penemuan batu nisan seorang wanita muslimah yang
bernama Fatimah binti Maimun di Leran dekat Surabaya yang bertahun 475 H atau
1082 M. Sedangkan menurut laporan seorang musafir Maroko Ibnu Batutah yang
mengunjungi Samudra Pasai dalam perjalanannya ke Negeri Cina pada 1345M, Agama
islam yang bermadzhab Syafi’I telah mantap disana selama seabad. Oleh karena itu,
abad XIII biasanya dianggap sebagai masa awal masuknya agama Islam ke
Indonesia.
Adapun daerah pertama yang dikunjungi adalah pesisir Utara pulau Sumatera.
Mereka membentuk masyarakat Islam pertama di Peureulak Aceh Timur yang kemudian
meluas sampai bisa mendirikan kerajaan Islam pertama di Samudera pasai, Aceh
Utara.
Sekitar permulaan abad
XV, Islam telah memperkuat kedudukannya di Malaka, pusat rute perdagangan Asia
Tenggara yang kemudian melebarkan sayapnya ke wilayah-wilayah Indonesia
lainnya. Pada permulaan abad tersebut, Islam sudah bisa menjejakkan kakinya ke
Maluku, dan yang terpenting ke beberapa kota perdagangan di Pesisir Utara Pulau
Jawa yang selama beberapa abad menjadi pusat kerajaan Hindu yaitu kerajaan
Majapahit. Dalam waktu ya ng tidak terlalu lama yakni permulaan abad XVII,
dengan masuk islamnya penguasa kerajaan Mataram yaitu Sulthan Agung, kemenangan
agama tersebut hampir meliputi sebagian besar wilayah Indonesia.
Berbeda dengan masuknya islam ke Negara-negara di bagian dunia lainnya yakni
dengan kekuatan militer, masuknya islam ke Indonesia itu dengan cara damai
disertai dengan jiwa toleransi dan saling menghargai antara penyebar dan
pemeluk agama baru dengan penganut-penganut agama lama (Hindu-Budha). Ia dibawa
oleh pedagang-pedagang Arab dan Ghujarat di India yang tertarik dengan
rempah-rempah. Masuknya Islam melalui India ini menurut sebagian pengamat,
mengakibatkan bahwa islam yang masuk ke Indonesia ini bukan islam yang murni
dari pusatnya di Timur Tengah, tetapi islam yang sudah banyak dipengaruhi paham
mistik, sehingga banyak kejanggalan dalam pelaksanannnya .
Berbeda
dengan pendapat diatas, S.M.N. Al-Attas berpendapat bahwa pada tahap pertama
islam di Indonesia yang menonjol adalah aspek hukumnya bukan aspek mistiknya
karena ia melihat bahwa kecenderungan penafsiran al-Quran secara mistik itu
baru terjadi antara 1400-1700 M.
Akan tetapi, sejak pertengahan abad XIX, agama islam Indonesia secara
bertahap mulai meninggalkan sifat-sifatnya yang sinkretik setelah banyak orang
Indonesia yang mengadakan hubungan dengan Mekkah dengan cara melakukan ibadah
haji. Apalagi setelah transportasi laut yang makin membaik, semakin banyaklah
orang Indonesia yang melakukan ibadah haji bahkan sebagian mereka ada yang
bermukim bertahun-tahun lamanya untuk mempelajari ajaran islam dari pusatnya,
dan ketika kembali ke Indonesia mereka menjadi penyebar aliran islam yang
ortodoks.[1][1]
B. Seminar Sejarah Masuknya Islam Di Indonesia
Setiap seminar
mengadakan siding-sidangnya mulai hari ahad 21 s/d 24 syawal 1382 H, ( 17 s/d
20 Maret 1963) di Medan, yaitu seminar sejarah masuknya Islam ke Indonesia.
Para peserta terdiri dari beberapa negarawan, sejarawan, dan cendekiawan. Tema
seminar dirumuskan dalam 2 hal pokok yaitu: Pertama tentang masuknya islam ke
Indonesia,kedua tentang daerah Islam pertama di Indonesia yang menyangkut
daerah/lokasi dimana Islam mula-mula tertanam. Dari hasil seminar dapat
disimpulkan:
1. Bahwa menurut
sumber-sumber yang kita ketahui, islam untuk pertama kalinya telah masuk ke
Indonesia pada abad pertama hijrah (abad ke 7/8 M) dan langsung dari Arab.
2. Bahwa daerah yang
pertama didatangi oleh Islam ialah pesisir Sumatera dan bahwa setelah
terbentuknya masyarakat Islam, maka raja Islam yang pertama berada di Aceh.
3. Bahwa mubaliq-mubaliq
Islam pertama yang datang ke Indonesia merangkap sebagai saudagar.
4. Bahwa penyiaran itu di
Indonesia dilakukan secara damai.
5. Bahwa Kedatangan Islam
membawa kecerdasan dan peradaban yang tinggi dalam membentuk kepribadian bangsa
Indonesia dalam menahan penderitaan dan perjuangan melawan penjajahan bangsa
asing.
Dr. Hamka memberi kesimpulan:
a. Agama Islam telah
berangsur datang ke tanah air kita ini sejak abad pertama (abad ke-7M) dibawa
oleh saudagar-saudagar Islam yang intinya adalah orang-orang Arab diikuti oleh
orang Persia dan Gujarat.
b. Oleh karena penyebaran
Islam itu tidak dijalankan dengan kekerasan dan tidak ada penaklukan negeri,
maka jalannya itu adalah berangsur-angsur.
c. Mazhab Syafi’I telah
berpengaruh sejak semula perkembangan itu, sampai Raja Islam Pasai Samudera itu
adalah seorang alim ahli fiqih Mazhab Syafi’i.
d. Kedatangan ulama-ulama
Islam dari luar negari ke Aceh memperteguh odeologi Mazhab Syafi’I yang telah
ditanam raja-raja Pasai.
e. Saya mengakui bahwa
ulama luar yang datang kemari, disamping ada ulama kita belajar ke Mekkah,
Syam, Yaman, Aden, dan lainnya.
Tapi semua itu bukanlah menghilangkan kepribadian Muslim Indonesia dalam
rangka umat Islam sedunia, tetapi mengesankan kebesaran Salafussalihin
Indonesia, sehingga Aceh menjadi “Serambi Mekkah”.
Haji Abubakar Aceh membuat kesimpulan:
a. Islam masuk ke
Indonesia mula pertama di Aceh, tidak mungkin di daerah lain.
b. Penyiar Islam pertama
di Indonesia tidah hanya terdiri dari saudagar India dari Gujarat, tetapi juga
terdiri dari mubaligh-mubaligh Islam dari bangsa Arab.
c. Diantara mazhab pertama
yang dipeluk di Aceh ialah Syi’ah dan Syafi’i.[2][2]
Maka setelah 15 tahun sesudah seminar di Medan berlangsung atau tepatnya
pada tanggal 10-16 juni 1978, majelis ulama propinsi daerah istimewa Aceh
memprakarsai pula seminar serupa yaitu tentang sejarah masuk dan berkembangnya
Islam di daerah istimewa aceh yang diadakan di Banda Aceh. Seminar ini dihadiri
oleh para sarjana dan cendekiawan yang berada di Aceh khususnya. Dari hasil
seminar tersebut dapat disimpulkan:
1. Pada abad pertama hijrah islam sudah masuk di Aceh
2. Kerajaan-kerajaan Islam yang pertama adalah perlak, lamuri dan pasai
3. Islam berkembang di Aceh melalui cara hikmah kebijaksanaan
Sebenarnya apa yang telah disimpulkan dalam ke-2 seminar tersebut diatas
terutama yang menyangkut dengan proses islamisasi di Indonesia adalah juga
seirama dengan pendapat 2 sarjana barat yaitu Prof. Gabriel Ferrand dan Prof.
Paul Wheatly. Bersumber pada keterangan para musafir dan pedagang Arab tentang
Asia Tenggara, maka ke-2 sarjana tersebut menyebutkan bahwa sudah sejak abad
ke-8, pelabuhan-pelabuhan yang terkenal di Asia Tenggara pada masa itu, telah
dikunjungi oleh para pedagang dan musafir-musafir Arab. Dan bahkan pada kota-kota dagang itu telah
terdapat Fondasi-fondasi para pedagang Islam. Jadi dapat ditafsirkan bahwa
agama Islam masuk ke Indonesia sejak awal ke-8 M, langsung dibawa oleh para
pedagang dan musafir Arab.
C. Corak dan Perkembangan Islam di Indonesia
1. Masa Kesulthanan
Untuk melihat lebih jelas gambaran keislaman di kesultanan atau
kerajaan-kerajaan Islam akan di uraikan sebagai berikut.
Di daerah-daerah yang sedikit sekali di sentuh oleh kebudayaan Hindu-Budha
seperti daerah-daerah Aceh dan Minangkabau di Sumatera dan Banten di Jawa,
Agama Islam secara mendalam mempengaruhi kehidupan agama, sosial dan politik
penganut-penganutnya sehingga di daerah-daerah tersebut agama Islam itu telah
menunjukkan di dalam bentuk yang lebih murni.
Di kerajaan Banjar, dengan masuk Islamnya raja, perkembangan Islam
selanjutnya tidak begitu sulit karena raja menunjangnya dengan fasilitas dan
kemudahan-kemudahan lainnya dan hasilnya mebawa kepada kehidupan masyarakat
Banjar yang benar-benar bersendikan Islam. Secara konkrit, kehidupan keagamaan
di kerajaan banjar ini diwujudkan dengan adanya mufti dan qadhi atas jasa
Muhammad Arsyad Al-Banjari yang ahli dalam bidang fiqih dan tasawuf. Di
kerajaan ini, telah berhasil pengodifikasian hukum-hukum yang sepenuhnya
berorientasi pada hukum islam yang dinamakan Undang-Undang Sultan Adam. Dalam
Undang-Undang ini timbul kesan bahwa kedudukan mufti mirip dengan Mahkamah
Agung sekarang yang bertugas mengontrol dan kalau perlu berfungsi sebagai
lembaga untuk naik banding dari mahkamah biasa. Tercatat dalam sejarah Banjar,
di berlakukannya hukum bunuh bagi orang
murtad, hukum potong tangan untuk
pencuri dan mendera bagi yang kedapatan berbuat zina.
Pada akhirnya kedudukan Sultan di Banjar bukan hanya pemegang kekuasaan
dalam kerajaan, tetapi lebih jauh diakui sebagai Ulul amri kaum Muslimin di
seluruh kerajaan itu.
Untuk memacu penyabaran agama Islam, didirikan sebuah organisasi yang
Bayangkare Islah (pengawal usaha kebaikan). Itulah organisasi pertama yang
menjalankan program secara sistematis sebagai berikut:
a.
Pulau Jawa dan Madura
dibagi menjadi beberapa wilayah kerja para wali.
b. Guna memadu penyebaran agama Islam, hendaklah di usahakan agar Islam dan
tradisi Jawa didamaikan satu dengan yang lainnya.
c.
Hendaklah di bangun
sebuah mesjid yang menjadi pusat pendidikan Islam.
Dengan kelonggaran-kelonggaran tersebut, tergeraklah petinggi dan penguasa
kerajaan untuk memeluk agama Islam. Bila penguasa memeluk agama Islam serta
memasukkan syari’at Islam ke daerah kerajaannya, rakyat pun akan masuk agama
tersebut dan akan melaksanakan ajarannya. Begitu pula dengan kerajaan-kerajaan
yang berada di bawah kekuasaannya. Ini
seperti ketika di pimpin oleh
Sultan Agung. Ketika Sultan Agung masuk Islam, kerajaan-kerajaan yang ada di
bawah kekuasaan Mataram ikut pula masuk Islam seperti kerajaan Cirebon,
Priangan dan lain sebagainya. Lalu Sultan Agung menyesuaikan seluruh tata
laksana kerajaan dengan istilah-istilah keislaman, meskipun kadang-kadang tidak
sesuai dengan arti sebenarnya.
2. Masa Penjajahan
Ditengah-tengah proses transformasi sosial yang relative damai itu,
datanglah pedagang-pedagang Barat, yaitu portugis, kemudian spanyol, di susul
Belanda dan Inggris. Tujuannya adalah menaklukkan kerajaan-kerajaan Islam
Indonesia di sepanjang pesisir kepulauan Nusantara ini.
Pada mulanya mereka datang ke Indonesia hanya untuk menjalinkan hubungan
dagang karena Indonesia kaya akan rempah-rempah, tetapi kemudian mereka ingin
memonopoli perdagangan tersebut dan menjadi tuan bagi bangsa Indonesia.
Apalagi setelah kedatangan Snouck Hurgronye yang ditugasi menjadi penasehat
urusan pribumi dan Arab, pemerintah Hindia-Belanda lebih berani membuat
kebijaksanaan mengenai masalah Islam di Indonesia karena Snouck mempunyai
pengalaman dalam penelitian lapangan di Negeri Arab, Jawa dan Aceh. Lalu ia
mengemukakan gagasannya yang di kenal dengan politik Islam di Indonesia. Dengan
politik itu ia membagi masalah Islam dalam tiga kategori, yaitu:
a.
Bidang agama murni atau
ibadah;
b. Bidang sosial kemasyarakatan; dan
c.
Politik.
Terhadap bidang agama murni, pemerintah colonial memberikan kemerdekaan
kepada umat Islam untuk melaksanakan ajaran agamanya sepanjang tidak mengganggu
kekuasaan pemerintah Belanda.
Dalam bidang kemasyarakatan, pemerintah memamfaatkan adat kebiasaan yang
berlaku sehingga pada waktu itu dicetuskanlah teori untuk membatasi keberlakuan
hukum Islam, yakni teori reseptie yang maksudnya hukum Islam baru bisa diberlakukan apabila tidak bertentangan
dengan alat kebiasaan. Oleh karena itu, terjadi kemandekan hukum Islam.
Sedangkan dalam bidang politik, pemerintah melarang keras orang Islam
membahas hukum Islam baik dari Al-Qur’an maupun Sunnah yang menerangkan tentang
politik kenegaraan atau ketatanegaraan
3. Gerakan dan organisasi
Islam
Akibat dari “resep politik
Islam”-nya Snouck Hurgronye itu, menjelang permulaan abad xx umat Islam
Indonesia yang jumlahnya semakin bertambah menghadapi tiga tayangan dari
pemerintah Hindia Belanda, yaitu: politik devide etimpera, politik penindasan
dengan kekerasan dan politik menjinakan melalui asosiasi.
Untuk sementara pihak pemerintah colonial berhasil mencapai sasarannya,
yakni beberapa golongan Islam dapat di pecah-belah, perlawanan dapat dipatahkan
dengan kekerasan senjata, sebagian besar golongan Islam yang di pedalaman dapat
terus diisolasi dalam alam ketakhayulan dan kemusyrikan, dan sebagian lagi
memasuki aparatur kepegawaian colonial rendahan.
Namun, ajaran Islam pada hakikatnya terlalu dinamis untuk dapat dijinakkan
begitu saja. Dengan pengalaman tersebut, orang Islam bangkit dengan menggunakan
taktik baru, bukan dengan perlawanan fisik tetapi dengan membangun organisasi.
Oleh karena itu, masa terakhir kekuasaan Belanda di Indonesiadi tandai dengan
tumbuhnya kesadaran berpolitik bagi bangsa Indonesia, sebagai hasil
perubahan-perubahan sosial dan ekonomi, dampak dari pendidikan Barat, serta
gagasan-gagasan aliran pembaruan Islam di Mesir.
Akibat dari situasi ini, timbullah perkumpulan-perkumpulan politik baru dan
muncullah pemikir-pemikir politik yang sadar diri. Karena persatuan dalam
syarikat Islam itu berdasarkan ideologi Islam, yakni hanya orang Indonesia yang
beragama Islamlah yang dapat di terima dalam organisasi tersebut, para pejabat
dan pemerintahan (pangreh praja) ditolak
dari keanggotaan itu.
Persaingan antara partai-partai politik itu mengakibatkan putusnya hubungan
antara pemimpin Islam, yaitu santri dan para pengikut tradisi Jawa dan abangan.
Di kalangan santri sendiri, dengan lahirnya gerakan pembaruan Islam dari Mesir
yang mengompromikan rasionalisme Barat dengan fundamentalisme Islam, telah
menimbulkan perpecahan sehingga sejak itu dikalangan kaum muslimin terdapat dua
kubu: para cendekiawan Muslimin berpendidikan Barat, dan para kiayi serta Ulama
tradisional.
Selama pendudukan jepang, pihak Jepang rupanya lebih memihak kepada kaum
muslimin dari pada golongan nasionalis karena mereka berusaha menggunakan agama
untuk tujuan perang mereka. Oelh karena itu, ada tiga prantara politik berikut
ini yang merupakan hasil bentukan pemerintah Jepang yang menguntungkan kaum
muslimin.
1. Shumubu, yaitu Kantor Urusan Agama yang menggantikan Kantor Urusan Pribumi
zaman Belanda.
2. Masyumi, yakni singkatan dari Majelis Syura Muslimin Indonesia menggantikan
MIAI yang dibubarkan pada bulan oktober 1943.
3. Hizbullah, (Partai Allah dan Angkatan Allah), semacam organisasi militer
untuk pemuda-pemuda Muslimin yang dipimpin oleh Zainul Arifin.[3][4]
D. Tersiarnya Islam di Indonesia
Sebelum Islam masuk ke Indonesia, agama Hindu dan Budha telah berkembang luas di nusantara ini,
disamping banyak yang masih menganut animism dan dinamisme, kedua agama itu
kian lama kian pudar cahayanya dan akhirnya kedudukannya sepenuhnya diganti
oleh agama Islam yang kemudian menjadi anutan 85 hingga 95% rakyat Indonesia.
Sebab-sebab sangat pesat dan cepat tersiarnya Islam di Indonesia antara lain
sebagai berikut:
1. Terutama sekali faktor agama Islam (aqidah, syariah dan akhlak islam)
sendiri yang lebih banyak “berbicara” kepada segenap lapisan masyarakat
Indonesia.
2. Faktor para mujtahid dakwah yang banyak terdiri atas para saudagar yang
taraf kebudayaannya sudah tinggi, yang telah berhasil membawakan Islam dan
segala kebijaksanaan kemahiran dan keterampilan
3. Ajaran Islam tentang dakwah untuk menyampaikan ajaran Allah walaupun
sekedar satu ayat kepada segenap manusia di seluruh pelosok bumi telah
menjadikan segenap kaum muslimin menjadi umat dakwah.
4. Baik agama Hindu maupun Budha pada umumnya dipeluk oleh orang-orang keraton
yang pada saat mulai tersebarnya Islam antara raja yang satu dengan yang
lainnya terlibat dalam perselisihan.
5. Pernikahan antara para penyebar Islam dan orang-orang yang baru di islamkan
melahirkan generasi pelanjut yang menganut dan menyebarkan Islam.
E. Pengaruh Islam terhadap Peradaban Bangsa Indonesia
1. Peradaban dan Agama Masyarakat Indonesia Sebelum Kedatangan Islam
1. Secara geografis, wialayah Indonesia termasuk ke dalam kawasan Asia
Tenggara. Masyarakat di wilayah ini telah memiliki peradaban yang tinggi
sebelum kedatangn Islam. Hal itu disebabkan karena wilayah Asia Tenggara
merupakan Negara-negara yang memiliki kesamaan budaya dan agama.
2. Bangsa Indonesia dalam sejarahnya telah mengenal tulisan yang diajarkan
oleh para penyebar agama Hindu dan Budha.pengaruh ini telah berlangsung cukup
lama, mungkin sejak abad ke-6 atau ke-7 M sampai abad ke-14 dan ke-15 M.
pengaruh Hinduisme dan Budhisme membawa perubahan besar, terutama dalam sistem
pemerintahan.
3. Bukti dari pengaruh agama Hindu dan Budha bagi masyarakat Indonesia dapat
dilihat dari banyaknya bangunan-bangunan suci untuk peribadatan, seperti
candi-candi, ukiran, dan sebagainya. Semua bangunan itu merupakan perpaduan
antara seni bangunan zaman megalithicum, seperti punden berundak-undak.ukiran
dan relief yang terdapat di dalamnya menggambarkan kreatifitas bangsa
Indonesia.
2. Pengaruh Islam terhadap Peradaban Bangsa Indonesia dan Perkembangannya
4. Islam sebagai agama baru yang dianut sebagian masyarakat Indonesia, telah
banyak memainkan peranan penting dalam berbagai kehidupan sosial, politik,
ekonomi, dan kebudayaan. Peranan itu dapat dilihat dari perkembangan Islam dan
pengaruhnya di masyarakat Indonesia sangat luas, sehingga agak sulit untuk
memisahkan antara kebudyaan local dengan kebudayaan Islam.
Masuknya kebudayaan Islam dalam kebudayaan nasional, meliputi bahasa, nama,
adat istiadat dan kesenian.
A. Pengaruh Bahasa dan Nama
B. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional banyak terpengaruh dari bahasa
Arab. Bahasa ini sudah begitu menyatu dalam lidah bangsa Indonesia. Tidak hanya
dalam bahasa komunikasi sehari-hari, bahakan dipergunakan pula dalam bahasa
surat kabar, dan sebagainya.
C. Pengaruh Islam dalam bidang nama, sungguh banyak sekali. Banyak tokoh dan
bukan tokoh masyarakat menggunakan nama berdasarkanpada bahasa Arab,yang
merupakan bahasa simbol pemersatu Islam. Semua itu bukti adanya pengaruh Islam
dalam kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia.
D. Pengaruh Adat Istiadat
E. Adat istiadat yang ada dan berkembang di Indonesia banyak dipengaruhi oleh
peradaban Islam. Diantara pengaruh itu adalah ucapan salam kepada setiap muslim
yang dijumpai, atau penggunaannya dalam acara-acara resmi pemerintahan.
F. Pengaruh lainnya adalah berupa ucapan-ucapan kalimat penting dalam do’a.
yang merupakan pengaruh dari tradisi Islam yang lestari.
G. Pengaruh Dalam Kesenian dan Bangunan Ibadah
H. Pengaruh kesenian yang paling menonjol dalam hal ini terlihat dalam irama
qasidah dan lagu-lagu yang bernafaskan ajaran Islam. Syair pujian yang
mengagungkan nama-nama Allah yang sering diucapkan oleh umat Islam, merupakan
bukti pengaruh ajaran Islam terhadap kehidupan beragama masyarakat Islam
Indonesia.
I. Begitu pula pengaruh dalam bidang bangunan peribadatan. Banyak bangunan
mesjid yang ada di Indonesia, terpengaruh dari bangunan mesjid yang ada di
Negara-negara Islam, baik yang ada di Timur Tengah ataupun di tempat-tempat
lainnya di dunia Islam.
J. Pengaruh Dalam Bidang Politik
K. Ketika kerajaan-kerajaan Islam mengalami masa kejayaannya, banyak sekali
undur politik Islam yang berpengaruh dalam system politik pemerintahan
kerajaan-kerajaan Islam tersebut. Misalnya tentang konsep khalifatullah fil
ardi dan dzilullah fil ardi. Kedua konsep ini diterapkan pada masa pemerintahan
kerajaan Islam Aceh Darussalam dan kerajaan Islam Mataram.[4][5]
F. Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia
Dalam perkembangan selanjutnya, Islam menempati posisi penting dalam
percaturan sosial ekonomi dan sekaligus percaturan politik. Kekuatan sosial
politik itu semakin mantap ketika lahirnya lembaga-lembaga politik, seperti
kerajaan-kerajaan Islam. Di antara kerajaan-kerajaan Islam yang pernah berdiri
di Indonesia adalah:
a. Kerajaan Islam Samudra Pasai
b. Kerajaan Islam Aceh Darussalam
c. Kerajaan Islam Demak
d. Kerajaan Islam Pajang
e. Kerajaan Islam Mataram
f. Kerajaan Islam Cirebon
g. Kerajaan Islam Banten
h. Kerajaan Islam di Kalimantan
i.
Kerajaan Islam di
Sulawesi
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan diatas
dapat kami simpulkan sebagai berikut:
- Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama Hijrah atau abad ke tujuh/ke
delapan masehi. Ini mungkin didasarkan pada penemuan batu nisan seorang wanita
muslimah yang bernama Fatimah binti Maimun di Leran dekat Surabaya yang
bertahun 475 H atau 1082 M.
- Corak dan Perkembangan Islam di Indonesia
- Masa Kesulthanan
- Masa Penjajahan
- Gerakan dan organisasi Islam
- Pengaruh Islam terhadap Peradaban Bangsa Indonesia dan Perkembangannya
Perkembangan Islam dan pengaruhnya di masyarakat Indonesia sangat luas,
adapun pengaruhnya yaitu:
- Pengaruh Bahasa dan Nama
- Pengaruh Adat Istiadat
- Pengaruh Dalam Kesenian dan Bangunan Ibadah
- Pengaruh Dalam Bidang Politik
B. Saran
Demikian pembahasan dari
makalah kami. Kami berharap semoga pembahasan dalam makalah ini dapat membantu
dan bermanfaat bagi pembaca. Dan kami pun berharap pula kritik dan saran dari
pembaca untuk kesempurnaan dalam tugas kami selanjutnya. Sekian dan terima
kasih.
DAFTAR PUSTAKA
Suminto, Aqid., Politik Islam Hindia Belanda, Jakarta: Pustaka
LP3ES.
Thohir, Ajid., Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam, Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada, 2004.
Hasjmy, A., Sejarah Kebudayaan Islam di Indonesia, cet.1, Jakarta:
PT. Bulan Bintang, 1990.
Murodi, Sejarah Kebudayaan Islam,
Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1994.
No comments:
Post a Comment